Follow SERUJI

94,949FansSuka
396PengikutMengikuti
6,616PengikutMengikuti
729PelangganBerlangganan

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI – Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi mengandung fitnah.

Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kemungkaran, sedangkan kemungkaran menjerumuskan ke Neraka. Sungguh orang yang selalu berdusta akan dicatat sebagai pendusta (HR. Al.Bukhari dan Muslim).

Seorang teman berbagi kisahnya kepada saya. Bahwa di tempat dia bekerja, ada seseorang yang begitu ingin menjatuhkan dirinya. Orang tersebut bahkan menyebar berbagai fitnah kepada para atasan. Dampaknya, kawan tadi dinilai tidak baik oleh rekan kerja maupun pimpinan. Bahkan kini kawan diberhentikan dari jabatan koordinator tim.

Lalu kawan tersebut bertanya kepada saya, seandainya saya pada posisi sedang difitnah, “Dy, apakah kamu tidak mau konfirmasi atau klarifikasi terhadap informasi tentang dikau?”

Saya pun menjawab, “Mengklarifikasi diri sebelum ada yang tabayyun menurutku itu sama seperti mengakui kita seperti yang difitnahkan.”

Ada perumpamaan bahwa fitnah itu bagaikan bulu kemoceng yang disebar, sehelai demi sehelai. Kemudian terbawa angin, terbang tak tentu arah, menuju ke tempat yang tidak kita tahu. Hinggap dari satu tempat, kemudian terbang ke tempat lain dengan membawa berita yang sama: FITNAH.

Lantas, kita tidak akan pernah bisa mengembalikan kemoceng itu seperti sedia kala. Karena ia sudah menyebar entah sampai mana dan ke mana arahnya. Menyesal juga sudah tidak ada gunanya, walau yang difitnah sudah memaafkan.

Dalam sebuah drama korea yang berjudul Tunnel, salah satu episode mengisahkan seorang perempuan yang mencuri identitas orang lain lalu hidup sebagai orang tersebut. Hingga orang yang dicuri identitasnya mati bunuh diri. Dia lakukan hingga beberapa perempuan korbannya mati bunuh diri. Semua itu tidak lain dilandasi karena dia iri pada perempuan lain yang menjadi korbannya.

Dia iri, karena orang-orang yang (secara tidak langsung) dibunuhnya hidup bahagia sementara hidupnya sengsara. Sementara dia juga tidak bisa memiliki apa yang dia inginkan. Itu sebabnya dia ingin menghancurkan hidup orang-orang tersebut.

Namun sebagai muslim, Allah telah memberikan panduannya.

Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman dalam QS Al-Humazah ayat 1: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.”

Yang dimaksud di sini adalah nammam (yang melakukan adu domba).

Allah Subhaanahu Wata’aala juga berfirman dalam QS Al-Ahzab ayat 58:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Tidak masuk Surga orang yang suka mengadu domba.” (Muttafaq ‘alaihi).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Maukah aku beritakan kepada kalian tentang orang-orang yang jahat di antara kalian?” Para sahabat menjawab: “Tentu”. Beliau bersabda: “(Yaitu) orang-orang yang ke sana dan ke mari menghamburkan fitnah, orang-orang yang merusak hubungan antar orang yang berkasih sayang, dan orang-orang yang mencari aib pada diri orang-orang yang baik.”

Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam lain yang berbunyi:

“Barangsiapa menyiarkan berita buruk seorang Muslim untuk memburukkannya dengan berita itu secara tidak haq, maka dengan itu Allah akan memburukkannya di dalam api Neraka pada hari Kiamat.”

Di dunia ini ada orang-orang yang tidak bisa mengendalikan rasa iri/dengki di dalam hatinya. Kemudian ia menjadi sosok yang gemar memfitnah dan mudah berdusta. Entah itu dia menyadari bahwa perbuatannya adalah kesalahan. Atau karena sudah menjadi kebiasaannya, dia tidak tidak lagi menyadari. Hal tu menjadi ujian bagi dirinya sendiri. Dengan itu pula menjadi ujian bagi manusia lainnya.

Ketika difitnah, cukup bersyukur dan bersabar. Tidak perlu repot-repot mengklarifikasi, sebab yang menilai kita adalah Allah, bukan manusia. Di balik semua itu pun pasti ada hikmah yang Allah berikan sebagai balasannya. Sebab difitnah itu ujian, namun memfitnah itu pilihan.

Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Dyah Sujiatihttp://dyahsujiati.wordpress.com
Owner D-Jewelry. So, Lifelong learner ^_^

YANG LAGI PRO-KONTRA

Lawan Negara, Kapitalis Apa Mau Kehilangan?

Sifat kapitalis itu berkuasa dengan modal. Oleh karena itu selalu dicari cara agar modal bertambah. Kata halusnya, "value" harus selalu naik. Sehingga, kapitalis tak mau kehilangan apapun, tanpa ganti yang sepadan atau lebih tinggi. Termasuk, ketika "melawan" negara.

Poligami Itu Berat, Kami Saja

adi, dua syarat agar bisa adil itu perlu dipenuhi. Karena tidak sembarang orang bisa, "poligami itu berat, kami saja". Tentu, niat utama juga harus benar, yaitu niat berbagi. Bukan niat mencari nikmat di atas penderitaan para istri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TULISAN TERBARU

Mencari Tuhan yang Mana Lagi?

Perbedaan dalam beragama seringkali berpangkal kepada perbedaan siapa yang dituhankan. Orang-orang musyrik menuhankan Allah, namun juga menuhankan selain Allah. Maka, Islam mempertanyakan kepada manusia, mencari tuhan yang mana lagi kalau bukan Sang Pencipta Alam, Tuhan segala sesuatu.

Penguasa Itu Ujian Bagi Umat Manusia

Orang yang berkecimpung di dunia politik selalu melihat penguasa sebagai sebuah posisi yang diperebutkan. Sebaiknya, melihat penguasa itu sebagai ujian bagi umat manusia.

Mana Agama yang Benar?

Jawabannya sederhana sebenarnya. Agama sesuai petunjuk dari Tuhan, itu jawabannya. Agama wahyu. Bukan sekedar agama yang berasal dari hasil pikir manusia.

Ada Niat Baik Tuhan Kepada Manusia

Untuk apa manusia diciptakan? Untuk beribadah kepada Allah. Namun, bukan dalam status "diperas" seperti budak. Manusia yang "lolos uji" itu hendak diberi karunia. Ada niat baik Tuhan kepada manusia. 

Agama yang Benar Itu Satu

Agama itu asalnya satu dari Tuhan yang satu. Pemahaman yang sesat selalu mengarah agar manusia menganggap agama yang benar itu tidak satu.

Ini Jalan yang Lurus

Setelah ayat-ayat sebelumnya menjelaskan kesesatan kaum musyrikin dalam mengharamkan dan menghalalkan sesuatu, maka kemudian ayat-ayat berikutnya tentang halal dan haram berdasarkan wahyu Allah. Itulah jalan yang lurus, yaitu mengikuti perintah Allah dengan tidak mengikuti perintah-perintah selain Allah.

Diskusi FORPI Sleman: Pengusaha Sampah

Kalau pun pengusaha pengguna sampah terpilah mau membayar mahal, berarti produk yang diolah tinggi nilainya. Contoh nilai tambah yang besar adalah memanfaatkan sampah organik untuk budidaya Magot dan cacing tanah. Selain kandungan protein yang tinggi dari larva magot dan cacing yang didapat, juga tanah bekasnya bisa langsung dipakai sebagai media tanam. 

Kajian Ekonomis Reaktor Cacing

Reaktor cacing temuan Puji Heru Sulistiyono, berhasil meraih beberapa penghargaan dan apresiasi dari Gubernur DIY, Kalpataru dan CSR Pertamina TBBM Rewulu.

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi? Keduanya Saja!

Jika dihadapkan pada pilihan “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?”, seakan-akan kedua hal tersebut adalah hal yang bertentangan. Padahal jawaban yang paling membahagiakan adalah memilih kedua-duanya sekaligus

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Membuat Gula Merah dari Nira Batang Sawit

Ternyata batang kelapa sawit yang telah tumbang dapat diambil niranya untuk dijadikan gula merah, demikian menurut seorang anggota DPRD Kota Dumai dari Partai Gerindra,...

Mana Agama yang Benar?

Jawabannya sederhana sebenarnya. Agama sesuai petunjuk dari Tuhan, itu jawabannya. Agama wahyu. Bukan sekedar agama yang berasal dari hasil pikir manusia.

Pokok-pokok Haram: Musyrik, Durhaka, Keji dan Membunuh

Tuhan mengharamkan manusia untuk berlaku syirik, durhaka kepada orang tua, berlaku keji serta membunuh jiwa tanpa hak. Itulah pokok-pokok haram. Hal ini diungkapkan dalam ayat setelah beberapa ayat sebelumnya menjelaskan panjang lebar perilaku kaum musyrikin yang suka mengharamkan tanpa dasar.

Ustadz Cilik Wildan, Ternyata Baru Klas 6 SD Muhammadiyah Plus Salatiga

Ketika membaca pengumuman Hari Bermuhammadiyah yang rutin diselenggarakan oleh PDM Kota Semarang  dengan menghadirkan  penceramah Ustadz Cilik Wildan, dalam hati saya bertanya,  Apakah sudah...