Hikmah Dibalik Fitnah

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI – Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi mengandung fitnah.

Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kemungkaran, sedangkan kemungkaran menjerumuskan ke Neraka. Sungguh orang yang selalu berdusta akan dicatat sebagai pendusta (HR. Al.Bukhari dan Muslim).

Seorang teman berbagi kisahnya kepada saya. Bahwa di tempat dia bekerja, ada seseorang yang begitu ingin menjatuhkan dirinya. Orang tersebut bahkan menyebar berbagai fitnah kepada para atasan. Dampaknya, kawan tadi dinilai tidak baik oleh rekan kerja maupun pimpinan. Bahkan kini kawan diberhentikan dari jabatan koordinator tim.

Lalu kawan tersebut bertanya kepada saya, seandainya saya pada posisi sedang difitnah, “Dy, apakah kamu tidak mau konfirmasi atau klarifikasi terhadap informasi tentang dikau?”

Saya pun menjawab, “Mengklarifikasi diri sebelum ada yang tabayyun menurutku itu sama seperti mengakui kita seperti yang difitnahkan.”

Ada perumpamaan bahwa fitnah itu bagaikan bulu kemoceng yang disebar, sehelai demi sehelai. Kemudian terbawa angin, terbang tak tentu arah, menuju ke tempat yang tidak kita tahu. Hinggap dari satu tempat, kemudian terbang ke tempat lain dengan membawa berita yang sama: FITNAH.

Lantas, kita tidak akan pernah bisa mengembalikan kemoceng itu seperti sedia kala. Karena ia sudah menyebar entah sampai mana dan ke mana arahnya. Menyesal juga sudah tidak ada gunanya, walau yang difitnah sudah memaafkan.

Dalam sebuah drama korea yang berjudul Tunnel, salah satu episode mengisahkan seorang perempuan yang mencuri identitas orang lain lalu hidup sebagai orang tersebut. Hingga orang yang dicuri identitasnya mati bunuh diri. Dia lakukan hingga beberapa perempuan korbannya mati bunuh diri. Semua itu tidak lain dilandasi karena dia iri pada perempuan lain yang menjadi korbannya.

Dia iri, karena orang-orang yang (secara tidak langsung) dibunuhnya hidup bahagia sementara hidupnya sengsara. Sementara dia juga tidak bisa memiliki apa yang dia inginkan. Itu sebabnya dia ingin menghancurkan hidup orang-orang tersebut.

Namun sebagai muslim, Allah telah memberikan panduannya.

Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman dalam QS Al-Humazah ayat 1: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.”

Yang dimaksud di sini adalah nammam (yang melakukan adu domba).

Allah Subhaanahu Wata’aala juga berfirman dalam QS Al-Ahzab ayat 58:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Tidak masuk Surga orang yang suka mengadu domba.” (Muttafaq ‘alaihi).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Maukah aku beritakan kepada kalian tentang orang-orang yang jahat di antara kalian?” Para sahabat menjawab: “Tentu”. Beliau bersabda: “(Yaitu) orang-orang yang ke sana dan ke mari menghamburkan fitnah, orang-orang yang merusak hubungan antar orang yang berkasih sayang, dan orang-orang yang mencari aib pada diri orang-orang yang baik.”

Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam lain yang berbunyi:

“Barangsiapa menyiarkan berita buruk seorang Muslim untuk memburukkannya dengan berita itu secara tidak haq, maka dengan itu Allah akan memburukkannya di dalam api Neraka pada hari Kiamat.”

Di dunia ini ada orang-orang yang tidak bisa mengendalikan rasa iri/dengki di dalam hatinya. Kemudian ia menjadi sosok yang gemar memfitnah dan mudah berdusta. Entah itu dia menyadari bahwa perbuatannya adalah kesalahan. Atau karena sudah menjadi kebiasaannya, dia tidak tidak lagi menyadari. Hal tu menjadi ujian bagi dirinya sendiri. Dengan itu pula menjadi ujian bagi manusia lainnya.

Ketika difitnah, cukup bersyukur dan bersabar. Tidak perlu repot-repot mengklarifikasi, sebab yang menilai kita adalah Allah, bukan manusia. Di balik semua itu pun pasti ada hikmah yang Allah berikan sebagai balasannya. Sebab difitnah itu ujian, namun memfitnah itu pilihan.

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Membuat Gula Merah dari Nira Batang Sawit

Ternyata batang kelapa sawit yang telah tumbang dapat diambil niranya untuk dijadikan gula merah, demikian menurut seorang anggota DPRD Kota Dumai dari Partai Gerindra,...

Kudis, Penyakit Kulit Klasik yang Masih Mengusik

Kudis yang dalam bahasa medis disebut scabies merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit yang bernama  Sarcoptes Scabeiei varian Hominis. Kudis bisa...

BPJS Naik, Rakyat Tercekik

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengusulkan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kelas I dan kelas II, naik 100 persen. Rencananya, kenaikan iuran...

Ada Tawaran Menarik dari Ustadz Adi Hidayat, Anda Berminat?

Menurut ustadz yang pernah bermimpi bertemu Rasulullah SAW ini, argumentasi sebaiknya dijawab dengan argumentasi, ilmiah dengan ilmiah, jadi elegan, jangan ilmiah dengan golok.