close

Follow SERUJI

53,299FansSuka
396PengikutMengikuti
7,064PengikutMengikuti
643PelangganBerlangganan

Dolar Dan Rupiah

Ayahku hanya seorang guru SD.  Beliau punya kenangan yang sangat baik untuk diceritakan kepada anak cucunya. “Disaat saya dulu, saya dapat beasiswa dari pemerintah.  Jika dibandingkan dengan jumlah mata uang saat ini, harganya tidak seberapa.  Saya hanya dapat beasiswa 160 rupiah perbulan.  Tapi jika dibandingkan dengan harga emas saat itu, harganya sangat tinggi.  Karena harga emas tahun 1955 Rp 20/gram”.

Jika dihitung nilai saat ini, berarti beasiswa yang diterima seorang murid SGB (Sekolah Guru Bawah setingkat SLTP) sebesar Rp 3,2 juta rupiah, karena harga emas sekarang berkisar Rp 400.000,- pergram.  Sebuah nilai yang sangat besar untuk seorang siswa SLTP.  Pantasan ayahku menyatakan, bahwa beliau bisa menabungkan siswa beasiswa yang dia terima setelah dia puas menggunakannnya.

Saat aku menunaikan ibadah haji bersama keluarga, sebagaimana jamaah yang lain, kami harus belanja dan memasak sendiri.  Belanja di pasar Misfalah, tidak terasa mahal jika hanya melihat rial yang dipegang.  Ketika sudah dikurskan ke rupiah, sungguh luar biasa.  Satu bungkus mie instan dengan harga 1 rial setara dengan Rp 3.700,-.  Seporsi nasi gorong di rumah makan sidoel 10.000 rial setara dengan Rp 37.000,-  Aku bayangkan, jika makan nasi goreng dengan harga Rp 37.000/porsi, di Indonesia berarti aku sudah makan di sebuah restoran mewah.  Kalau di rumah makan padang, hanya Rp 15.000,- perporsi dan ini berarti bisa untuk 2 orang.

Kejadian ini berulang, dikala aku ke Hongkong ikut sebuah seminar.  Sore hari selesai seminar, aku pergi keliling kota bersama rekan-rekan rombongan Indonesia.  Ada teman yang masuk pasar keluar pasar mencari oleh-oleh.  Akupun tak mau ketinggalan, minimal aku bisa bawa satu atau dua cendra mata untuk keluarga.

Ku masuk sebuah pasar tradisional di Hongkong.  Sangat fantastis.  Aku tidak lihat adanya sampah berserakan, semua tertata rapi, bersih dan menyenangkan.  Walaupun kaki ramai berkeliaran,  namun semua tetap terjaga baik.  Berbeda jauh dengan pasar yang kita punya di Indonesia.  Becek, kotor dan sembraut.

Aku cari baju kaus.  Aku berfikir, jika baju kaus yang dibeli, tentu akan banyak yang ku bawa sebagai oleh-oleh.  Lagi pula anak-anakku sangat doyan baju kaus.  Apalagi sibungsu yang sangat gemar dengan kaus yang punya gambar dan tulisan tempat dimana di beli.  Aku bayangkan dia tentu akan lebih bangga dengan baju kaus oleh-oleh dari Hongkong.

Aku sebuah baju kaus dan ku periksa jenis kainnya.  Aku teringat dengan sebuah baju kaus dengan kwalitas yang sama di pasarraya Padang, harganya Rp 100.000,-  Ini cukup bagus fikirku  Apalagi ada gambar lambang kota Hongkong, ini tentu akan membuatnya bangga.  Sementara untuk kakak dan abangnya aku bias carikan yang lain.  Sewaktu aku melihat tarif  yang tertara dibaju tersebut, aku kaget.  Harganya 100 dolar Hongkong. Ah. Ternyata belanja di Hongkong, harganya tinggi fikirku.  Karena jika dikurskan ke rupiah dengan harga dolar hongkong Rp 1.750/dolar hongkong maka harga kaus yang ku pegang Rp 175.000,-  Kejadian ini berlanjut disaat aku beli segelas kapucino yang harganya sampai 9 dolar hongkong atau Rp 15.750,- yang jika kita di Indonesia hanya Rp 4.000/gelas.

Saat ini walaupun UMR dinaikkan karena upah buruh yang mereka terima tidak lagi bisa membuat mereka hidup layak, akibat harga barang yang terus melonjak, upah yang mereka terima tetap tidak cukup  dan upah untuk 1 bulan, satu minggupun sudah ludes.

Kenapa harga rupiah dipertahankan pada kisaran 13.000 perdolar?  Andaikan harga rupiah jauh lebih kuat, setidaknya Rp 7.500/dolar US (harga sewaktu jabatan presiden Habibie berakhir) maka ku kira harga bisa turun, daya beli masyarakat dengan sendirinya akan membaik. Tidak perlu pemerintah memikirkan kenaikan UMR tiap tahun. ( Elfizon Amir)

Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Elfizon Amirhttps://elfizonamir.blogspot.co.id/
Direktur Eksekutif DHIBS Pasaman Barat Dokter di RS Islam Ibnu Sina Simpang Empat Yarsi Sumbar Penulis Pemerhati sosial politik

YANG LAGI PRO-KONTRA

NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi? Keduanya Saja!

Jika dihadapkan pada pilihan “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?”, seakan-akan kedua hal tersebut adalah hal yang bertentangan. Padahal jawaban yang paling membahagiakan adalah memilih kedua-duanya sekaligus

Ternyata Bukan Ekonomi Meroket, Tapi Neraca Perdagangan Terburuk Selama 12 Tahun

Pertumbuhan ekonomi tidak jadi meroket, malah neraca perdagangan terburuk selama 12 tahun terkahir.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TULISAN TERBARU

Perbincangan Bayi Kembar dalam Kandungan

Berikut ini sebuah perbincangan fiktif yang didapat dari tulisan berbahasa Ingris yang tak diketahui sumbernya, namun menginspirasi.

Nyaba Baduy untuk Kemenangan Prabowo Sandi

Gabungan kelompok relawan PADI yang terdiri dari Macan Padi Indonesia, Pilot Keren Prabowo Sandi, Koalisi NHI 02 serta Press Body melakukan kegiatan bersama di desa adat Baduy, Sabtu (16/2).

Sedekah Nasi Jumat, Komunitas KNB Muliakan Kaum Dhuafa

Komunitas Ketimbang Ngemis Bali berbagi nasi bungkus dalam sedekah Jumat.

Koalisi NHI 02 Siap Menangkan Prabowo-Sandi

WARGASERUJI - Kamis (14/2/2019), kelompok relawan pendukung Prabowo-Sandi kembali dideklarasikan.  Kali ini Komunitas Alumni NHI dukung Prabowo Sandi atau Koalisi NHI 02 yang menyatakan...

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

Mengelola Kasih Tak Sampai Ala Rasulullah SAW

Jatuh cinta bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Beruntunglah bagi yang bisa menikah dengan pasangan jatuh hatinya. Namun,

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi? Keduanya Saja!

Jika dihadapkan pada pilihan “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?”, seakan-akan kedua hal tersebut adalah hal yang bertentangan. Padahal jawaban yang paling membahagiakan adalah memilih kedua-duanya sekaligus

Dukungan Masyarakat ke Sekolah Bukan Hanya Dana dan Fisik

alah satu faktor penting dalam pengembangan pendidikan adalah dukungan masyarakat. Sejak diberlakukannya undang-undang nomor 20 tahun 2003 semua sekolah telah memiliki komite sekolah yang merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah.

Penahanan Ahmad Dhani, Ferry Koto: Saya ingin Komisi Yudisial Periksa Kasus ini

WARGASERUJI - Ferry Koto, pengamat pendidikan dan kebijakan publik di Surabaya, menginginkan agar komisi yudisial memeriksa hakim yang menangani kasus Ahmad Dhani. Pasalnya, menurutnya,...

TERPOPULER

Koalisi NHI 02 Siap Menangkan Prabowo-Sandi

WARGASERUJI - Kamis (14/2/2019), kelompok relawan pendukung Prabowo-Sandi kembali dideklarasikan.  Kali ini Komunitas Alumni NHI dukung Prabowo Sandi atau Koalisi NHI 02 yang menyatakan...

Ternyata Bukan Ekonomi Meroket, Tapi Neraca Perdagangan Terburuk Selama 12 Tahun

Pertumbuhan ekonomi tidak jadi meroket, malah neraca perdagangan terburuk selama 12 tahun terkahir.

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Nyaba Baduy untuk Kemenangan Prabowo Sandi

Gabungan kelompok relawan PADI yang terdiri dari Macan Padi Indonesia, Pilot Keren Prabowo Sandi, Koalisi NHI 02 serta Press Body melakukan kegiatan bersama di desa adat Baduy, Sabtu (16/2).

MIUMI dan Safari Dakwah Ustadz Bachtiar Nasir

MIUMI mengajak muslimin muslimat di seluruh Indonesia untuk bersama-sama menjaga arah perjuangan umat dan menjaga sinergi antara keislaman dan kebangsaan.