Berakhlaq Seperti Para Shahabat RA

Berakhlaq Seperti Para Shahabat RA

Nabi SAW bersabda : Ashhaabi kan nujuum, bi ayyihimuqtadaitum ihtadaitum (Para shahabatku itu ibarat bintang gemintang, kepada siapa saja di antara mereka kalian akan berkiblat, maka kalian akan mendapatkan petunjuk).

Betapa mulia kedudukan para Shahabat RA ini dalam pandangan Nabi SAW, sehingga beliau SAW mengibaratkan mereka bagaikan gugusan bintang di langit. Sifat bintang itu sendiri adalah bercahaya, seperti juga matahari yang menurut para astronom termasuk dalam keluarga perbintangan. Bentuk setiap bintang juga cukup bervariatif, dengan diameter yang sangat besar.Menurut realita, banyak kalangan yang memanfaatkan bintang ini sebagai petunjuk dalam kepentingan manusia. Sebut saja para nelayan profesional yang berada di tengah lautan lepas, mereka menggunakan bintang jenis tertentu sebagai petunjuk arah perjalanan. Kita pun jika ingin mencari tahu kondisi pada malam hari, apakah akan turun hujan atau tidak, maka dapat melihat ke langit, jika terdapat bintang gemintang tampak bergemerlapan, maka kemungkinan turun hujan sangat kecil.

Yang jelas para astronom sangat terbantu dengan keberadaan bintang gemintang ini, bahkan para peramal nasib maupun kalangan perdukunan -terlepas dari tinjauan hukum agama- mereka tidak ketinggalan mempergunakan gugusan bintang sebagai aspirasi dalam aktifitas mereka. Jadi, keberadaan gugusan bintang ini, sangat bermanfaat dalam kehidupan umat manusia.

Maka, dengan pengibaratan Nabi SAW atas para Shahabatnya sebagai bintang gemintang, menunjukkan betapa besarnya manfaat keberadaan para Shahabat RA ini dalam dunia Islam. Bagaimana tidak, karena masa keemasan dunia Islam, terjadi pada jaman kehidupan para Shahabat RA. Estafet dakwah dan pelestarian syariat Nabi SAW, juga dimulai pada jaman keemasan di masa kekhalifahan Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali, yang dibantu oleh hampir seluruh komponan dari kalangan para shahabat, sehingga dakwah islamiyyah semakin meluas dan terdengar seantero dunia.

Shahabat Abu Ayyub Al-anshary berdakwah di Turki, negeri yang bersebelahan dengan wilayah Eropa. Shahabat Amr bin Ash berhasil mengislamkan negeri Mesir, sebagai pusat kebudayaan kaum Firaun. Bahkan menurut sebuah riwayat, masuknya Islam di Asia Tenggara sudah ada sejak jaman kekhalifahan Sayyidina Utsman, dan tidak menutup kemungkinan, di jaman itu penyebaran Islam sudah masuk di Indonesia.

Jika riwayat ini benar, tentunya jauh hari sebelum jamannya para Walisongo, ternyata sudah ada para da`i yang berdakwah di bumi Nusantara, hanya saja tidak segencar dan sekompak para Walisongo, sehingga luput dari catatan sejarah. Penemuan Artefak, berupa barang pecah belah asal Tiongkok, sebagai harta karun yang diangkat dari wilayah perairan Cirebon baru-baru ini, dan sekarang disimpan di Museum Nasional (Museum Gajah) di Jalan Merdeka Barat, Jakarta, yang disinyalir sebagai peninggalan sejarah di masa Kekhalifahan Fathimiyyun, tentunya tidak bisa dinafikan sebagai bukti kuat adanya estafet dakwah dan peninggalan budaya dari para Shahabat RA. Betapa majunya dakwah islamiyyah di jaman kekhalifahan para Shahabat RA tersebut.

Terlintas pertanyaan, mengapa dakwah para Shahabat sebagai pewaris dakwah langsung dari Nabi SAW, begitu maju, bahkan termasuk fase masa keemasan bagi umat Islam ? Tentunya banyak faktor yang melatarbelakanginya, antara lain karena ketinggian akhlaq dari setiap pribadi para Shahabat RA yg dipuji oleh Allah dalam ayat Alquran yang artinya : `Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang (para Shahabat yang selalu) menyertainya, (bersikap) keras dan tegas terhadap kaum kafir (non muslim), tetapi) sangat (serius menjalin) rasa kasih sayang (cinta kasih, saling menghormati dan saling mendukung) di antara mereka (para Shahabat).

Nabi dan para Shahabat RA tidak bersikap lembek maupun kompromis terhadap kekafiran dan kemungkaran kaum Quraisy Makkah maupun non muslim lainnya saat itu, sehingga pada akhir episode kehidupan Nabi SAW yang disokong oleh perjuangan dan pengorbanan para Shahabat RA, dapat menaklukkan angkara murka dan dominasi perlawanan tokoh-tokoh kaum kafir Quraisy Makkah, sehingga berakhir penyerahan total tanpa syarat kepada umat Islam, bahkan kaum Quraisy pun berbondong-bondong masuk Islam.

 

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Membuat Gula Merah dari Nira Batang Sawit

Ternyata batang kelapa sawit yang telah tumbang dapat diambil niranya untuk dijadikan gula merah, demikian menurut seorang anggota DPRD Kota Dumai dari Partai Gerindra,...

Kudis, Penyakit Kulit Klasik yang Masih Mengusik

Kudis yang dalam bahasa medis disebut scabies merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit yang bernama  Sarcoptes Scabeiei varian Hominis. Kudis bisa...

BPJS Naik, Rakyat Tercekik

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengusulkan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kelas I dan kelas II, naik 100 persen. Rencananya, kenaikan iuran...

Ada Tawaran Menarik dari Ustadz Adi Hidayat, Anda Berminat?

Menurut ustadz yang pernah bermimpi bertemu Rasulullah SAW ini, argumentasi sebaiknya dijawab dengan argumentasi, ilmiah dengan ilmiah, jadi elegan, jangan ilmiah dengan golok.