Baper dan Islamphobia

Baper dan Islamphobia

WARGASERUJI – Ketika masih di Taman Kanak-Kanak, anak-anak diajari tentang tiga kata sakti yang mampu meluluhkan hati manusia. Yaitu maaf, tolong, dan terima kasih.

Akan tetapi dalam realitasnya, tiga kata ini tidak mudah diucapkan. Ada orang yang enggan mengatakan terima kasih padahal sudah dibantu oleh orang lainnya. Entah kenapa. Begitu juga sekedar mengucap kata ‘tolong’ sebelum meminta bantuan pada orang lain, gengsinya minta ampun. Entah kenapa juga.

Yang lebih sulit lagi adalah mengucap maaf. Seringkali orang tidak sengaja menyakiti hati orang lain. Awalnya hanya niat ingin bercanda. Namun apabila candaan ternyata melukai hati orang lain, bukannya meminta maaf tetapi sering kali justru yang muncul adalah sikap ‘deffence‘ alias membela diri atau berapologi alias mencari pembenaran. Tidak jarang juga malah menyalahkan orang yang sudah disakiti olehnya.

Bukan maaf yang diucapkan, tapi malah menyalahkan atau menyudutkan orang yang sudah dilukai hatinya. Biasanya paling sering dan mudah adalah mengatai orang yang terluka karena canda kita dengan kalimat “Ah, elu mah gitu aja baper?!”

Interaksi yang saling menyakiti semacam itu tidak akan menghasilkan hubungan yang nyaman dalam pergaulan. Padahal manusia adalah makhluk sosial yang tidak mungkin hidup sendirian tanpa membutuhkan orang lain. Interaksi adalah keniscayaan.

Islam dikenal sebagai agama yang rahmatan lilā€™alamin, agama yang menaungi seluruh alam. Secara garis besar agama Islam mengatur dua hal, yaitu hubungan vertikal dengan Sang Pencipta dan hubungan horizontal sesama manusia.

Hubungan vertikal antara muslim dengan Pencipta-nya hanya soal sholat, zakat, puasa, dan haji apabila mampu. Selebihnya, Islam mengatur bagaimana hubungan horizontal sesama manusia.

Islam mengatur hubungan sesama manusia agar seimbang antara hak dan kewajiban satu dengan lainnya. Islam mengatur mulai dari hubungan sesama individu hingga hubungan secara sosial. Islam mengatur bagaimana manusia harus menghargai manusia lainnya. Bagaimana manusia harus menjaga perasaan orang lain.

Dalam sebuah hadits disebutkan “Orang Islam adalah orang yang menyelamatkan orang lainnya dari lidah dan tangannya” (HR Bukhari)

Belakangan ini, Islamphobia (ketakutan terhadap ajaran Islam dan pemeluk Islam) semakin menggila seiring banyaknya kasus kekerasan yang diberitakan oleh media-media dilakukan oleh umat Islam. Mulai dari bom yang langsung ditemukan KTP pelaku di TKP sampai dengan pembubaran pengajian yang dinobatkan sebagai gerakan antipancasila alias berlawanan dengan jargon “NKRI harga mati”.

Melihat tiga kata mendasar yang diajarkan di Taman Kanak-Kanak dan satu hadits riwayat Bukhari di atas, jelas terang benderang bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian. Bagaimana mungkin sebuah agama yang sampai hal terkecil dijaganya, bisa menghadirkan phobia? Bagaimana mungkin agama yang melindungi orang dari baper tega membuat orang terluka?

Yang paling unik adalah pemeluk Islam yang mengidap Islamphobia. šŸ˜€

Mari berlogika agar tidak terjangkit Islamphobia.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Kelebihan Sambung Pucuk

Sambung pucuk memiliki beberapa kelebihan, penggabungan antara kelebihan dengan pembiakan secara generatif dan vegetatif.

Orang Bohong Yang Bertobat vs Orang Bohong Yang Keterusan

Menjaga kejujuran sangatlan penting, sedangkan memelihara kebohongan adalah perbuatan jahat yang akan menghancurkan diri sendiri. Orang yang berbohong lantas bertobat dengan cara mengakui kebohongannya dan...

Membuat Gula Merah dari Nira Batang Sawit

Ternyata batang kelapa sawit yang telah tumbang dapat diambil niranya untuk dijadikan gula merah, demikian menurut seorang anggota DPRD Kota Dumai dari Partai Gerindra,...
close