Follow SERUJI

96,205FansSuka
396PengikutMengikuti
6,748PengikutMengikuti
670PelangganBerlangganan

Ajarkan Mental Pembelajar

Tiap orangtua tentu berkeinginan memiliki anak yang shalih shalihah, penyejuk mata, mandiri, bertanggungjawab, disiplin, dan siap memimpin diri sendiri dan orang lain. Tiap hari, orangtua pada umumnya akan mengusahakan kesempatan tuk bermunajat padaNya terkait keinginan tersebut. Namun, harapan yg dilantunkan dalam doa seringkali tidak ditopang oleh sikap dan perilaku orangtua kepada anak.

Terjebak oleh perasaan sayang. Iya, mungkin bisa dikatakan seperti itu. Banyak kesalahan orangtua yang terjadi dikarenakan pengejawantahan rasa sayang yang kurang tepat. Pola asuh yang diterapkan cenderung over protektif, sehingga tidak memberikan kesempatan yang luas pada anak untuk belajar dan mengeksplor kehidupan.

Sikap seperti itu membuat sang anak tumbuh menjadi pribadi yang manja. Tak banyak merasakan “masalah” yang menantang dan mengasah kreatifitasnya terkait pemecahan masalah. Harapan kemandirian anak tidak dibarengi treatment nyata. Orangtua menjadi seperti paranoid dengan kemungkinan-kemungkinan masalah yang bisa menimpa anak. Sebenarnya, ketakutan tersebut seringkali timbul karena keenganan orangtua untuk repot.

Saat anak menangis dan merengek menginginkan sesuatu, atas nama rasa sayang maka orangtua dengan segala upaya berusaha memenuhi keinginan tersebut. Meskipun seringkali hal itu bukanlah sebuah kebutuhan yang bersifat urgent. Seringkali hanyalah sebagai pemenuhan dari tuntutan gaya kehidupan kekinian, yang justru bersifat pemborosan.

Ketika melihat anaknya terluka karena sebuah aktifitas, orangtua bisa dengan cepat dan tanggap memberikan pertolongan. Namun disayangkan, seringkali luput untuk memberikan pemahaman moral terkait keamanan dan keselamatan dalam aktifitas tersebut. Orangtua lupa tuk memahamkan pada anak tentang situasi yang menjadi sebab terjadinya sebuah kondisi. Bahkan tak jarang orangtua malah memarahi anak, melarang anak untuk kembali melakukan aktifitas tersebut, serta memberikan ancaman ketika anak mengulanginya. Semua itu dilakukan katanya atas nama rasa sayang.

Ketahuilah, dunia anak adalah dunia bermain. Mereka belajar dengan cara bermain. Mereka mengeksplor pengalaman-pengalaman dengan cara bermain. Mereka mencoba mengenai berbagai macam nilai dan pelajaran hidup melalui bermain.

Dalam interaksi bermainnya tersebut, anak pun mulai mengenal lingkungan sekitar. Mengenal adanya figur lain selain dirinya dan orangtuanya. Mereka mulai belajar menjalani fitrahnya sebagai makhluk sosial. Keberagaman mulai diperkenalkan.

Mau tak mau, anak berkenalan dengan anak lain yang memiliki karakter berbeda dengan dirinya. Disinilah anak mulai belajar tentang konsep penyesuaian sosial. Biarkan mereka mengeksplor segalanya, namun tetap dengan pengawasan yg proporsional dari orangtua. Jangan mengekang mereka. Jangan membatasi interaksi sosial mereka. Jangan memilihkan karakter teman tertentu untuk anak. Namun, tak berarti anak tidak diperkenalkan tentang konsep teman yang baik. Biarkan sang anak melakukan seleksi dengan caranya sendiri tanpa intervensi mendalam dari orangtua.

Interaksi sosial tersebut akan mengajarkan anak tentang rasa bahagia, senang, nyaman, sedih, kecewa, dan marah. Orangtua jangan mudah terprovokasi oleh respon-respon emosi yang dirasakan sang anak. Orangtua harus tega tuk membiarkan sang anak belajar dari pengalaman-pengalaman emosi tersebut. Sesekali, orangtua memberikan petunjuk bagaimana berdamai dengan ragam emosi itu. Jangan justru menjadi pembatas proses pembelajaran itu.

Bebaskan anak tuk menjadi pembelajar. Belajar menjadi seorang problem solver. Jangan memonopoli proses penyelesaian masalah. Jangan jadikan anak menjadi seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah karena semua telah diambil alih oleh orangtua atas nama rasa sayang.

Percayalah, bahwa Sang Maha Kuasa takkan memberikan masalah yang melampaui kemampuan kita. Begitupun pada sang anak, Dia juga berlaku demikian. Orangtua cukup mendampingi dan menjadi motivator bagi anak.

Telah nyata kita jumpai, banyak orang besar dan hebat dalam kehidupan ini yang terbentuk dari tempaan kesulitan hidup. Mereka terbiasa menjadi problem solver sejak usia dini. Akhirnya, mereka pun mampu tampil sebagai pemenang. Pengalaman hidup adalah guru yang terbaik dan kehidupan adalah sekolah yang terbaik pula.

Manusia yang paling mulia pun, yaitu Rasulullah, mempunyai pengalaman hidup yang cukup berat. Beliau tidak sempat mengenal ayahnya. Ketika masih belia pun telah ditinggal wafat oleh ibunya. Dengan kondisi sulit tersebut, Allah mentarbiyahnya, sehingga pada waktunya siap menerima risalah kerasulan. Akhirnya, beliau pun tampil sebagai pemimpin yang paling berpengaruh.

Tiap orangtua wajar tuk berharap memiliki anak dengan karakter pembelajar yang tangguh. Anak yang selalu siap menghadapi tantangan hari esok. Karenanya, berikan kesempatan tersebut, tarbiyahlah mereka. Biarkan mereka mengenali keragaman masalah hidup sesuai tahap perkembangannya. Dampingi mereka tuk belajar menyelesaikan masalah, bukan tuk mengambil alih masalahnya. Insya Allah, mereka akan menjadi sosok dengan mental pembelajar menghadapi setiap problematika dan bertanggungjawab atas setiap keputusan yang dilakukannya.

Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.

YANG LAGI PRO-KONTRA

Konsep Kampanye Konser Lebih Mencerminkan Keindonesiaan dibanding Konsep Kampanye Subuh Berjamamaah?

Saya bertanya lagi dalam hati, apakah konsep kampanye konser lebih mencerminkan keindonesiaan daripada konsep kampanye subuh berjamaah? Bukankah nyanyian juga merupakan ciri khas ibadah agama tertentu?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TULISAN TERBARU

Jangan Fitnah Ulama!

WARGASERUJI - Akun Twitter pribadi salah seorang anggota Dewan Pakar Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dibajak pada malam, Sabtu (13/4). Hal itu...

Enam Tingkat Kewajiban Terhadap Alquran

Enam tingkat kewajiban terhadap Al Quran adalah mulai dari mengimani, membaca (tilawah), memahami, beramal, mengajarkan, dan terakhir membela ketika Al Quran diserang

Generasi Sehat Dambaan Umat

WARGASERUJI - Generasi muda adalah aset yang tiada tara nilainya. Generasi menjadi tonggak awal dalam penentu kebangkitan suatu bangsa. Jika kondisi generasi sakit maka...

Dukungan Sekaligus Nasehat Ust. Salim A Fillah Untuk Prabowo

WARGASERUJI - Ust. Salim A Fillah, ustadz penggiat masjid Jogokariyan yogyakarta melalui akun twitternya @salimafillah menyatakan dukungan kepada capres Prabowo Sandi, tapi bukan dukungan...

Derita Muslim Harus Diakhiri

Sementara di bumi Palestina tepatnya wilayah Gaza, kembali memanas. Serang militer Israel kembali dilakukan untuk mengepung Gaza. Sampai kapan derita umat Islam atas kekejian musuh-musuh Islam akan berakhir?

Mengapa Anakku Nakal?

WARGASERUJI - Secara sadar maupun tidak, sering kita menemui sebuah keluhan dari orang tua mengenai anak-anak mereka. Pertanyaan ‘Mengapa anakku nakal?’, ‘Mengapa anakku bermasalah?’...

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi? Keduanya Saja!

Jika dihadapkan pada pilihan “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?”, seakan-akan kedua hal tersebut adalah hal yang bertentangan. Padahal jawaban yang paling membahagiakan adalah memilih kedua-duanya sekaligus

Dukungan Masyarakat ke Sekolah Bukan Hanya Dana dan Fisik

alah satu faktor penting dalam pengembangan pendidikan adalah dukungan masyarakat. Sejak diberlakukannya undang-undang nomor 20 tahun 2003 semua sekolah telah memiliki komite sekolah yang merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah.

Penahanan Ahmad Dhani, Ferry Koto: Saya ingin Komisi Yudisial Periksa Kasus ini

WARGASERUJI - Ferry Koto, pengamat pendidikan dan kebijakan publik di Surabaya, menginginkan agar komisi yudisial memeriksa hakim yang menangani kasus Ahmad Dhani. Pasalnya, menurutnya,...

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Hal ini Wajib Dilakukan Pengendara Bila Mendengar Sirine Ambulance

Share menarik dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri berupa fliyer himbauan pada pengendara di jalan raya ketika mendengar sirine ambulance di belakang kendaraan kita....

Siapa di Belakang Jokowi, dan di Belakang Prabowo?

Kalau pilih calon presiden di 2019, apa yang ada dibenak pembaca budiman? Memilih orangnya, atau orang-orang di belakangnya? Dua-duanya, sih, tidak salah. Siapa di...

Jangan Fitnah Ulama!

WARGASERUJI - Akun Twitter pribadi salah seorang anggota Dewan Pakar Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dibajak pada malam, Sabtu (13/4). Hal itu...

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...