close

Follow SERUJI

69,151FansSuka
396PengikutMengikuti
7,038PengikutMengikuti
661PelangganBerlangganan

Syariah Pancasila, Negara Ambigu?

Lontaran wacana NKRI bersyariah oleh Habib Rizieq Shihab coba dikupas oleh Deny JA dalam tulisannya berjudul “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik Manusiawi”. Deny menuntut kejelasan NKRI Bersyariah agar dapat diuji secara akademik, melalui dua tahapan yang ia ajukan. Pertama, mengoperasionalkan apa yang dimaksud NKRI Bersyariah. Kedua, menurunkannya dengan menerjemahkan dalam indeks yang terukur.

Cara pandang Deny JA terhadap wacana tersebut didasarkan kepada realitas tingkat “keislaman” menurut ukuran yang dibuat oleh lembaga bernama Yayasan Islamicity Index. Lembaga tersebut hanya merumuskan nilai pada sisi hubungan sosial saja. Tujuannya, agar bisa mengukur negara non muslim atau mayoritas non muslim.

Deny JA kemudian membandingkan hasilnya dengan lembaga khusus bentukan PBB bernama UN Sustainable Development Solution Network (SDSN). SDSN membuat rangking negara berdasarkan tingkat kebahagiaan (World Happines Index).

Hasil dari Islamicity dan World Happines Index menurut Deny JA tidak berbeda jauh, menempatkan negara-negara Barat pada rangking atas baik dalam indeks “paling Islami” maupun “paling bahagia”. Barangkali, kemudian Deny JA mempertanyakan NKRI Bersyariat apakah sebagai substansi atau labelisasi? Deny memilih substansi sehingga mengajukan pilihan lain yang ia sebut “Ruang Publik yang Manusiawi”.

Menjadi pertanyaan besar bagi penulis, apakah substansi yang dipilih Deny cukup universal bagi diri muslim yang akan mengarunginya? Bagaimana kemudian muslim menyikapi realita ke depan yang tentu masih menyisakan peluang: baik NKRI bersyariah yang sekedar angan-angan, maupun ruang publik yang tak pernah manusiawi?

Argumen yang diajukan Deny, jelas dibatasi urusan dunia dan bukan akhirat. Ditandai dengan dua hal, terkait indek “keislaman” yang dibatasi hanya hubungan sosial dan istilah “manusiawi” (atau katakanlah, humanity). Manusiawi berarti “manusia sentris” bukan “tuhan sentris”.

Pilihan kepada “substansi” kemudian melahirkan kesimpulan seperti ini: bahwa tak perlu penduduknya muslim untuk menjadi negara islami. Jelas berbeda dengan seorang muslim yang menjadikan hubungan dengan tuhan sebagai substansi terpenting dalam diri, keluarga dan lingkungannya.

Perdebatan akan memuncak tatkala berbicara masalah hidup bersama dalam bernegara. Jelas, jika urusan negara pastilah urusan kesejahteraan dunia. Orang-orang yang pro “substansi”, akan selalu beralasan bahwa islami tak mesti dari keimanan manusia-manusianya. Dengan argumen itu, hendak menghilangkan yang mereka anggap label-label keislaman. Padahal, seringkali label-label itu dibutuhkan oleh orang-orang yang hendak mendekatkan diri kepada tuhannya.

Jika saja Indonesia dianggap belum punya indek “keislaman” yang diharapkan, kemudian bisa meningkat dengan cara menghalang-halangi syariah ditegakkan dengan alasan mencontoh negara-negara Barat? Apa betul negara-negara Barat tersebut memang menjadi islami gara-gara “memperdulikan substansi” tanpa faktor lain?

Barangkali, Deny hendak menegaskan bahwa cukup dengan menciptakan “Ruang Publik Manusiawi” akan membawa sebuah negara menjadi islami secara “substansi”. Pancasila, menurut dirinya, sudah cukup bagus menjadi fondasi dasar bernegara tanpa embel-embel (katakanlah labelisasi) syariah.

Namun, perlu dicermati. Mengapa negara-negara Barat mampu menegakkan “Ruang Publik Manusiawi”? Apakah tanpa dipengaruhi sejarah peradaban sebelumnya?

Secara jelas, negara-negara Barat adalah pihak yang paling diuntungkan paska revolusi industri, yang pada saat itu negara-negara di Asia dan Afrika rata-rata dalam masa penjajahan.

Ketimpangan dunia saat ini hanya mengikuti sejarah penaklukan oleh bangsa-bangsa Eropa, kemudian diteruskan dengan hegemoni negara adi daya. Bagi negara yang sudah bebas dari masalah mendasar, pastilah mengejar kebutuhan yang lebih tinggi, sesuai teori Maslow, yakni kebahagiaan non material. Non material, sebut saja “kebahagiaan”, yang bila menggunakan pemikirian Denny JA, islami.

Yang tidak diperhitungkan, negara-negara dunia ketiga masih berkutat untuk mengejar kebutuhan dasar, dan akan masih tetap kesulitan manakala sumber daya di bumi yang terbatas diperebutkan semua negara. Negara yang sudah mapan, jelas tak mau kehilangan kemapanannya, dan punya posisi lebih menguntungkan dalam perebutan.

Selain itu, penjajahan menjadi salah satu faktor bagaimana negara-negara Islam itu sendiri dijauhkan dari agamanya. Kalaupun tidak bisa menghilangkan, dibatasi sekedar ritualitas dan tidak menyentuh pada politik dan negara, untuk mereduksi pemberontakan-pemberontakan.

Sekali lagi, peristiwa sejarah membuktikan tak perlu ada dikotomi antara label dan substansi, karena itulah yang membuat negara-negara dengan mayoritas muslim saat ini terbelakang dalam indeks “islami” dan “kebahagiaan”.

Isu yang lebih mendasar, terkait ideologi. Negara-negara sekuler yang “manusia sentris” memang berhasil dalam hal membebaskan individu-individu untuk mengekspresikan diri dalam keyakinannya masing-masing. Namun, kemakmuran yang menyertai kehidupan mereka menjauhkan dari sikap beragama, terbukti banyaknya orang menjadi ateis, atau agnostik.

Dalam literatur Islam, kemakmuran tidak mendorong orang kepada Tuhan. Bahkan, ada istilah Istidraj, yaitu orang-orang yang memang dibiarkan bahagia di dunia karena keingkarannya kepada Tuhan.

Beberapa muallaf di Barat, seringkali menjadi beragama dan menemukan Islam sebagai jalan hidupnya, setelah menemui ketidakbahagiaan dari berbagai masalah hidup yang dialami. Kasus-kasus ini menjadi antitesis bahwa kebahagiaan bukan hanya sekedar indek kebahagiaan atau indek keislaman tinggi, melainkan kondisi penerimaan individu terhadap situasi apapun di negaranya.

Sebut saja, bahwa indeks kebahagiaan di negara-negara yang memiliki kemakmuran namun sekuler, sebagai kebahagiaan semu. Andai kemakmuran dicabut dari negeri mereka dan menjadi seperti Afghanistan misalnya, barangkali akan lebih kacau dan berantakan.

Menyatakan Pancasila sebagai fondasi negara yang final adalah hak semua orang. Menafsirkannya, pilihan. Ketika Denny JA menyatakan bahwa Pancasila itu sebagai fondasi final sebuah negara dan bukan NKRI Bersyariah, itu juga penafsiran.

Sama halnya ketika NKRI Bersyariah yang dicetuskan oleh Habib Rizieq Shihab, sebagai penafsiran terhadap Pancasila. Bisa jadi, menurut Rizieq Shihab, saat ini negara keliru dalam mengaplikasikan Pancasila secara benar sehingga perlu dilurus-tegaskan dengan istilah NKRI Bersyariah. Boleh jadi.

Jelas-jelas, di sila pertama tercantum “ketuhanan”. Bagaimana bisa negara didorong menjadi sekuler saat asas pertama negara adalah ketuhanan? Penafsiran yang keliru akhirnya membuat dikotomi antara “substansi” dengan “label”, sehingga kata “syariah” menjadi ditakuti. Khawatirnya, Indonesia menjadi negara ambigu, negara berketuhanan tapi setengah-setengah dalam bertuhan.

  • 17
    Shares
Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Muhammad Hanif Priatama
Penulis bebas yang bebas menulis untuk belajar menjadi manusia sesungguh-sungguhnya. https://t.me/sobatbersih

YANG LAGI PRO-KONTRA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TULISAN TERBARU

Erwin Arnada Bagi Tips Membuat Film Berkelas, Akber Bali 84 Diserbu Millenial

BADUNG, WARGASERUJI –  Komunitas Akademi Berbagi (Akber) Bali kembali mengadakan kelas berbagi ilmu gratis tanpa berbayar untuk masyarakat di Bali. Kelas Akademi Berbagi Bali...

Dibunuh di Masjid Selandia Baru, Cara Indah untuk Mati

WARGASERUJI - Ada ustadz di sebuah kampung, bertanya perasaan jamaah terhadap peristiwa dibunuhnya muslim di masjid di Selandia Baru. Jawabnya macam-macam. Ustadznya sendiri bilang,...

Titiek Soeharto Hadiri Baksos Relawan 02 di Bogor

BOGOR, SERUJI.CO.ID - Empat kelompok relawan pendukung paslon capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo-Sandi mengadakan Bakti Sosial di Kabupaten Bogor, Ahad (17/3). Kegiatan Bhkati sosial...

Perkuat Pembelajaran Aktif di Kampus, Tanoto Foundation Latih Dosen UNJA dan UIN STS Jambi

JAMBI, WARGASERUJI – Setelah melatih lebih dari 1.145 pendidik SD/MI dan SMP/MTs, Tanoto Foundation kali ini melatih pembelajaran aktif MIKiR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi),...

Umat Butuh Sistem Yang Sehat

WARGASERUJI - Menjadi hal asing bagi umat muslim, pristiwa yang terjadi pada 3 Maret 1924M. Sebuah tragedi besar yang membalik penuh tatanan hidup umat Islam....

Komunitas Alumni NHI 02 Resmi Dikukuhkan oleh BPN

Melalui SK yang diserahkan langsung oleh Direktur Utama Satgas BPN, Toto Utomo Budi Santoso kepada Ketua Umumnya Hidayat Hasan, Komunitas Alumni NHI 02 resmi menjadi bagian dari Satgas BPN Prabowo Sandi.

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi? Keduanya Saja!

Jika dihadapkan pada pilihan “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?”, seakan-akan kedua hal tersebut adalah hal yang bertentangan. Padahal jawaban yang paling membahagiakan adalah memilih kedua-duanya sekaligus

Dukungan Masyarakat ke Sekolah Bukan Hanya Dana dan Fisik

alah satu faktor penting dalam pengembangan pendidikan adalah dukungan masyarakat. Sejak diberlakukannya undang-undang nomor 20 tahun 2003 semua sekolah telah memiliki komite sekolah yang merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah.

Penahanan Ahmad Dhani, Ferry Koto: Saya ingin Komisi Yudisial Periksa Kasus ini

WARGASERUJI - Ferry Koto, pengamat pendidikan dan kebijakan publik di Surabaya, menginginkan agar komisi yudisial memeriksa hakim yang menangani kasus Ahmad Dhani. Pasalnya, menurutnya,...

TERPOPULER

Titiek Soeharto Hadiri Baksos Relawan 02 di Bogor

BOGOR, SERUJI.CO.ID - Empat kelompok relawan pendukung paslon capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo-Sandi mengadakan Bakti Sosial di Kabupaten Bogor, Ahad (17/3). Kegiatan Bhkati sosial...

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Pertanggungjawaban Jokowi-JK terhadap Janji-janji Kampanye 2014

Janji-janji pada saat kampanye Capres dan Cawapres pasti ada. Sejak Pilpres Langsung yang telah kita laksanakan sebanyak 3 kali, yang paling kita ingat adalah...

Membuat Gula Merah dari Nira Batang Sawit

Ternyata batang kelapa sawit yang telah tumbang dapat diambil niranya untuk dijadikan gula merah, demikian menurut seorang anggota DPRD Kota Dumai dari Partai Gerindra,...

Dibunuh di Masjid Selandia Baru, Cara Indah untuk Mati

WARGASERUJI - Ada ustadz di sebuah kampung, bertanya perasaan jamaah terhadap peristiwa dibunuhnya muslim di masjid di Selandia Baru. Jawabnya macam-macam. Ustadznya sendiri bilang,...