Sexy Killers, Salah Siapa?

Sexy Killers, Salah Siapa?

WARGASERUJI – Melihat opening-nya, sempat saya matikan karena ada keponakan. “Ga boleh, Wa!” Katanya melarang. Tapi karena penasaran, akhirnya setelah dia pergi saya putuskan untuk menonton sampai selesai.

Film dokumenter yang dibuat oleh watch doc itu bercerita tentang pembunuh dengan lekukan tajam di tiap jalurnya. Sang pembunuh kehidupan rakyat miskin, masyarakat pedalaman yang terkena imbasnya langsung demi untuk memberi kita cahaya.

Berawal dari pendirian pertambangan di wilayah Kalimantan Timur, yang ternyata memakan banyak korban meninggal terutama anak-anak. Lubang-lubang bekas penambangan yang tergenang air dengan polosnya mereka jadikan kolam renang, hingga tenggelam dan ditemukan tanpa nyawa.

Masyarakat sering memprotes, mereka ingin lubang-lubang itu ditutup dan diberi tanda supaya tidak lagi memakan korban. Tuntutan sampai ke pemerintah daerah, hanya saja jawaban yang diberikan tidak mencerminkan seorang pemimpin daerah yang cerdas. Bukannya menindaklanjuti keinginan warganya, dia justru menyalahkan makhluk halus dan hanya berkata bahwa hal itu memang sudah menjadi nasibnya untuk meninggal di area pertambangan.

Ternyata bukan hanya itu saja. Tongkang-tongkang yang membawa batubara dari Kalimantan menuju pulau Karimun Jawa pun merugikan nelayan. Batubara-batubara yang jatuh ke laut membuat ikan banyak yang mati, terumbu karang pun rusak terkena jangkar dan gesekan tongkang-tongkang tersebut.

Untunglah Rainbow Warrior, aktivis lingkungan hidup bisa mengurangi aktivitas hilir mudik semua tongkang tersebut dengan menuliskan ‘CORAL NOT COAL!’ pada badan kapal dan mengusir mereka dari wilayah tersebut.

Kerugian masyarakat Indonesia bukan hanya itu saja. PLTU yang didirikan pun membuat orang-orang seperti Surayah dan Novianti menderita penyakit yang disebabkan oleh asap yang ditimbulkan.

Salah siapa sebenarnya semua ini? Apakah ini salah para pengusaha borjuis, yang dengan pongahnya mendirikan pabrik-pabrik tanpa memedulikan rakyat sekitar? Atau salah kita, yang membutuhkan listrik tiap detiknya?

Tanda tanya akan selalu ada menyertai setiap tindakan. Begitu juga dengan masalah ini.

Jika mereka para pengusaha borjuis itu tidak mendirikan PLTU, kita tidak bisa menggunakan listrik sedangkan listrik menjadi salah satu kebutuhan pokok kita sejak lama.

Namun saudara-saudara kita harusnya tetap bisa bernapas dengan leluasa, mereka harusnya juga bahagia seperti kita, Ramadhani, Ema, dan anak-anak lainnya harusnya masih bisa bermain, belajar, mengejar cita-cita mereka!

Lalu bagaimana? Mau tidak mau, suka atau tidak PLTU memang harus ada, tongkang-tongkang harus tetap berlayar mengangkuti berton-ton batubara demi listrik tetap menyala.

Itu menjadi PR bagi kita semua. Mulai dari diri pribadi, hingga para pengusaha borjuis tersebut. Bagaimana caranya?

Mungkin kita bisa mulai menghemat listrik, atau menjaga lingkungan sekitar kita, atau mungkin para pengusaha borjuis itu bisa lebih peduli dengan masyarakat sekitar pertambangan, pabrik-pabrik atau PLTU-PLTU yang mereka dirikan dengan memberikan hak mereka sepenuhnya atas lahan-lahan yang mereka ambil untuk pembangunan, dan lebih peduli dengan lingkungan sekitar masyarakat dengan menjaga atau meminimalisir limbah yang terbuang agar tidak mengenai masyarakat secara langsung.

Atau mungkin pemerintah bisa lebih concern dalam mengatasi semua masalah yang ditimbulkan secara langsung maupun tidak langsung.

Semua hal tersebut tidak bisa sepenuhnya menjamin kenyamanan mereka, tapi setidaknya sekecil apapun hal yang kita lakukan bisa menjadi wujud terima kasih kita terhadap pengorbanan mereka.

Akhirnya penulis hanya bisa mengajak semua untuk berdoa, semoga Indonesia selalu diberi kebaikan oleh Allah SWT, di usianya yang senja ini.

Dan penulis juga hanya bisa mengucapkan rasa terima kasih kepada Ema, Ramadhani, Mat Juri, Ketut, Surayah, Novianti dan masyarakat lainnya yang telah berkorban demi sebuah cahaya.

Semoga kalian diberi ganjaran yang setimpal atas pengorbanan kalian selama ini. Aamiin.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Pendidikan Anak Bermula Dari Rumah

Perlu untuk disadari kalau pendidikan itu tidak harus dan tidak hanya yang berlangsung di ruang kelas atau dari lembaga pendidikan. Keluarga adalah madrasah, rumah...

Perasaan Hati dan Ukuran Cinta

Rasa cinta yang mendalam itu sering kali tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata, kecuali hanya sebagian kecil saja, namun jika cinta sudah melekat di dalam...

Omong Kosong Fatar Yani Setelah Dilantik Sebagai Wakil Kepala SKKMigas

Hal yang cukup disesalkan adalah adanya pernyataan Deputi Operasi SKKMigas saat itu, Fatar Yani, yang mengatakan bahwa berhentinya operasi Lapangan Kepodang adalah karena force majeur. Hal ini dinilai menyesatkan dan diduga keras keberadaan dia di SKKMigas untuk melindungi kepentingan Petronas.

Analisis Jual Makanan Lewat Pasar Daring

Makanan khas Jogja apa yang cocok dijual lewat pasar daring (online marketplace)? Apa harus terkenal? Perlu syarat tertentu?
close