Pemakan Tanah Papua, Siapa?

Pemakan Tanah Papua, Siapa?

WARGASERUJI – Apa benar Indonesia makan tanah papua? Seberapa besar orang Indonesia membutuhkan harta karun di tanah Papua? Serakus itukah orang Indonesia sehingga pulau-pulau lain tak cukup untuk menghidupi diri sendiri?

Kenyataannya, tanah di Papua “diperdagangkan” isinya oleh segelintir orang Jakarta, logam mulia beterbangan ke AS. Menjadi kontras, karena gaya hidup masyarakat di AS empat kali lebih rakus sumber daya daripada Indonesia.

Bukan membela oknum yang rasis, hanya melihat tanah Papua sepertinya menjadi eksploitasi warga dunia. Sedangkan posisi Indonesia tak cukup pintar dan kuat melindunginya.

Tanah Papua, punya siapa sebenarnya? Tentu, banyak berteriak lantang dengan menyebut NKRI. Masalah muncul ketika warga asli Papua tidak terima, dan tak mau menyerahkan tanahnya kepada negara.

Benua Amerika, dulu bukan milik orang Eropa. Benua Australia pun ada suku aslinya, Aborigin namanya. Apakah nasib orang Papua akan sama? Tergantung, apakah orang Indonesia akan menirunya atau tidak. Tergantung juga, seberapa kuat Indonesia membela dari kerakusan warga dunia. Atau malah numpang untung?

Bumerang Nasionalisme

“NKRI Harga Mati” adalah ungkapan yang bisa menjadi senjata makan tuan. Saat ketidakadilan dirasakan. Slogan menjadi berasa pemindahan hak atas tanah Papua dari orang aslinya. Tak heran, mereka berani bakar bendera Merah Putih.

Yang terjadi, fanatisme kebangsaan melawan perjuangan hak atas tanah kelahiran. Kalau di daerah lain, “NKRI Harga Mati” bisa mudah diterapkan, namun tidak dengan Papua. Ada kekuatan politis dunia yang bisa mempengaruhinya.

Kalau sekedar mendaratkan pasukan militer, mudah saja. Namun, apa mau mencontoh Bangsa Eropa yang menduduki benua Amerika dan Australia? Untuk zaman sekarang, pastilah akan berhadapan dengan kekuatan adidaya dunia dengan segala pengaruhnya.

Kekuatan sudah bukan zamannya digunakan. Sayangnya, Indonesia diributkan dengan ketakutan disintegrasi. Sedikit-sedikit menuduh sesama anak bangsa “kurang NKRI”, sedikit-sedikit “terafiliasi ini-itu”.¬† Ketakutan yang berlebih itulah yang sebenarnya memperkeruh suasana. Terlalu keras kepada sebagian anak bangsa, benar-benar membuat mereka ingin keluar dari keluarga besar Indonesia.

Nasionalisme terlalu kuat menjadi seperti monster, memakan hak-hak rakyat. Padahal, seperti masalah umum suatu negara, khsususnya negara republik, kekuasaan hanya berputar kepada segelintir elit itu-itu saja. Para elit ini, sangat hebat mempergunakan istilah nasionalisme untuk menekan atau menghipnotis rakyat kecil agar mengikuti kemauan mereka.

Jika boleh memilih, lebih baik “Keluarga Besar Indonesia” daripada “NKRI Harga Mati”.

Lebih Baik, Keluarga Besar Indonesia

Keluarga Besar Indonesia, sepertinya lebih enak diterima daripada “NKRI Harga Mati”. Lebih humanis, merangkul. Antara hati dengan hati. Saling bantu, bukan berebut. Saling melindungi, bukan saling menguasai.

Keluarga mencerminkan kedekatan, sekaligus keadilan. Mengutamakan kelembutan, bukan kekerasan. Jika ada yang keliru dibetulkan, bukan diusir keluar.

Seperti itulah seharusnya Indonesia dengan Papua.

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Membuat Gula Merah dari Nira Batang Sawit

Ternyata batang kelapa sawit yang telah tumbang dapat diambil niranya untuk dijadikan gula merah, demikian menurut seorang anggota DPRD Kota Dumai dari Partai Gerindra,...

Kudis, Penyakit Kulit Klasik yang Masih Mengusik

Kudis yang dalam bahasa medis disebut scabies merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit yang bernama  Sarcoptes Scabeiei varian Hominis. Kudis bisa...

BPJS Naik, Rakyat Tercekik

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengusulkan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kelas I dan kelas II, naik 100 persen. Rencananya, kenaikan iuran...

Ada Tawaran Menarik dari Ustadz Adi Hidayat, Anda Berminat?

Menurut ustadz yang pernah bermimpi bertemu Rasulullah SAW ini, argumentasi sebaiknya dijawab dengan argumentasi, ilmiah dengan ilmiah, jadi elegan, jangan ilmiah dengan golok.