close

Follow SERUJI

53,299FansSuka
396PengikutMengikuti
7,064PengikutMengikuti
643PelangganBerlangganan

Narasi Prof Mahfud MD Tentang “Partai Lahirkan Koruptor”, Picu Kejahiliyahan?

Belum lama, Prof Mahfud membuat narasi bahwa PKS adalah partai yang “melahirkan koruptor” besar. Narasi tersebut muncul sebagai reaksi kepada kader PKS yang menyinggung masalah gaji Dewan Pengarah BPIP. Walau kemudian ketua PKS menjelaskan telah melakukan klarifikasi secara pribadi, narasi sudah tersebar dan berdampak dalam perbincangan di media sosial.

Narasi “melahirkan koruptor” mengandung tuduhan serius, bahwa partai tertuduh sengaja menciptakan koruptor. Andai pihak partai mengajukan tuntutan hukum pencemaran nama baik, sangat mungkin terpenuhi.

Di lain pihak, Prof Mahfud MD menanggapi kader PKS tidak secara perseorangan. Bisa jadi kader PKS yang dimaksud memang “mengatasnamakan” sebagai PKS itu sendiri, walau tidak disadari, sehingga tanggapan Prof Mahfud akhirnya seperti berhadapan dengan PKS, bukan kader secara perseorangan.

Media sosial yang sudah terpolarisasi berat seperti saat ini, ketika mendapat narasi yang terlihat sepihak tentu seperti memantik api di atas minyak. Muncullah “pembelaan-pembelaan” atas nama golongan, bahkan dengan membanding-bandingkan dengan golongan lain.

Salah satu yang dimunculkan, adalah info grafik data politisi yang terlibat korupsi. Kebetulan, peringkat terbanyak politisi yang terkena kasus korupsi sejak tahun 2014 hingga 2017 adalah partai berkuasa, PDIP. Pembelaannya, bukankah seharusnya partai yang paling banyak mendapatkan gelar “melahirkan koruptor” adalah yang paling banyak terkena kasus korupsi?

Dan pembelaan itu menuai perlawanan balik. PKS, yang dikenal sebagai partai dakwah, diserang karena “dakwah” yang melekat dalam dirinya. Narasinya: “partai dakwah mengapa korupsi? Pakai kode juz dan ayat lagi! Munafiq!”

Jika diperhatikan dengan cermat, perdebatan itu sangat terkait dengan posisi masing-masing netizen sebagai bagian dari kelompoknya. Mulai dari sekedar mencantumkan jargon atau bahkan nama partai di akun miliknya, atau dengan narasi-narasi yang keluar di dunia maya. Dengan sangat mudahnya, istilah-istilah seperti berikut muncul : “kaum cebong vs kaum bani onta”, dan lain sebagainya.

Fatalnya ada pada masing-masing yang meletakkan dirinya secara salah, menganggap dirinya atas nama kelompok. Bisa jadi karena sengaja berlindung di balik kelompok, atau secara tak sengaja selalu punya kesamaan narasi dengan kelompok. Narasi “partai melahirkan koruptor” juga mengandung kesalahan logika semacam itu. Yang seharusnya : “sebagian tidak berimplikasi seluruhnya”.

Maka, ketika kemudian muncul anggapan bahwa narasi “partai melahirkan koruptor” itu PDIP, sejatinya menggunakan logika yang sama dan keliru. Inilah akibat jika seorang tokoh publik mengutarakan logika yang keliru, akan dicontoh oleh khalayak. Bisa termasuk memberi contoh berbuat bodoh, atau jahil.

Dan sesungguhnya, Nabi Muhammad saw pernah memperingatkan sahabat-sahabatnya, ketika suatu saat muncul perdebatan kecil dengan membawa nama suku-sukunya. Nabi menyebutnya sebagai perilaku zaman jahiliyah.

Bahkan, jika sudah terkait dengan keyakinan agama, kecenderungan “bergolongan” disebut sebagai perbuatan kemusyrikan, jika kemudian masing-masing bangga terhadap golongannya.

Bahaya “bangga terhadap golongan” yang telah nyata diajarkan dalam Islam, bisa mudah dipahami: munculnya kedengkian dan fanatisme. Hasilnya, logika tidak jalan, ego didahulukan.

Zaman ketika polarisasi merajalela dengan segala golongannya, itulah saat fitnah bisa menerpa siapa saja. Nasihat Baginda Rasulullah ketika zaman itu datang, cukup sederhana: pegang kebenaran walau sendirian. Sekali lagi, sendirian bukan berkelompok.

Dan itu bisa dimulai dengan menyuarakan atas nama diri, tidak mewakili siapapun. Berani? Bisa?

Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Muhammad Hanif Priatama
Penulis bebas yang bebas menulis untuk belajar menjadi manusia sesungguh-sungguhnya. https://t.me/sobatbersih

YANG LAGI PRO-KONTRA

NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi? Keduanya Saja!

Jika dihadapkan pada pilihan “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?”, seakan-akan kedua hal tersebut adalah hal yang bertentangan. Padahal jawaban yang paling membahagiakan adalah memilih kedua-duanya sekaligus

Ternyata Bukan Ekonomi Meroket, Tapi Neraca Perdagangan Terburuk Selama 12 Tahun

Pertumbuhan ekonomi tidak jadi meroket, malah neraca perdagangan terburuk selama 12 tahun terkahir.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TULISAN TERBARU

Perbincangan Bayi Kembar dalam Kandungan

Berikut ini sebuah perbincangan fiktif yang didapat dari tulisan berbahasa Ingris yang tak diketahui sumbernya, namun menginspirasi.

Nyaba Baduy untuk Kemenangan Prabowo Sandi

Gabungan kelompok relawan PADI yang terdiri dari Macan Padi Indonesia, Pilot Keren Prabowo Sandi, Koalisi NHI 02 serta Press Body melakukan kegiatan bersama di desa adat Baduy, Sabtu (16/2).

Sedekah Nasi Jumat, Komunitas KNB Muliakan Kaum Dhuafa

Komunitas Ketimbang Ngemis Bali berbagi nasi bungkus dalam sedekah Jumat.

Koalisi NHI 02 Siap Menangkan Prabowo-Sandi

WARGASERUJI - Kamis (14/2/2019), kelompok relawan pendukung Prabowo-Sandi kembali dideklarasikan.  Kali ini Komunitas Alumni NHI dukung Prabowo Sandi atau Koalisi NHI 02 yang menyatakan...

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

Mengelola Kasih Tak Sampai Ala Rasulullah SAW

Jatuh cinta bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Beruntunglah bagi yang bisa menikah dengan pasangan jatuh hatinya. Namun,

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi? Keduanya Saja!

Jika dihadapkan pada pilihan “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?”, seakan-akan kedua hal tersebut adalah hal yang bertentangan. Padahal jawaban yang paling membahagiakan adalah memilih kedua-duanya sekaligus

Dukungan Masyarakat ke Sekolah Bukan Hanya Dana dan Fisik

alah satu faktor penting dalam pengembangan pendidikan adalah dukungan masyarakat. Sejak diberlakukannya undang-undang nomor 20 tahun 2003 semua sekolah telah memiliki komite sekolah yang merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah.

Penahanan Ahmad Dhani, Ferry Koto: Saya ingin Komisi Yudisial Periksa Kasus ini

WARGASERUJI - Ferry Koto, pengamat pendidikan dan kebijakan publik di Surabaya, menginginkan agar komisi yudisial memeriksa hakim yang menangani kasus Ahmad Dhani. Pasalnya, menurutnya,...

TERPOPULER

Koalisi NHI 02 Siap Menangkan Prabowo-Sandi

WARGASERUJI - Kamis (14/2/2019), kelompok relawan pendukung Prabowo-Sandi kembali dideklarasikan.  Kali ini Komunitas Alumni NHI dukung Prabowo Sandi atau Koalisi NHI 02 yang menyatakan...

Ternyata Bukan Ekonomi Meroket, Tapi Neraca Perdagangan Terburuk Selama 12 Tahun

Pertumbuhan ekonomi tidak jadi meroket, malah neraca perdagangan terburuk selama 12 tahun terkahir.

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Nyaba Baduy untuk Kemenangan Prabowo Sandi

Gabungan kelompok relawan PADI yang terdiri dari Macan Padi Indonesia, Pilot Keren Prabowo Sandi, Koalisi NHI 02 serta Press Body melakukan kegiatan bersama di desa adat Baduy, Sabtu (16/2).

MIUMI dan Safari Dakwah Ustadz Bachtiar Nasir

MIUMI mengajak muslimin muslimat di seluruh Indonesia untuk bersama-sama menjaga arah perjuangan umat dan menjaga sinergi antara keislaman dan kebangsaan.