Mengalirkan Kekuasaan Uang Kertas

Mengalirkan Kekuasaan Uang Kertas

WARGASERUJI – Siapa yang mengalirkan kekuasaan uang kertas di tengah masyarakat? Pemerintah? Atau sistem keuangan dunia?

Pertanyaan di atas muncul hanya di segelintir orang, karena memang terlihat tak terkait dengan urusan hidup sehari-hari. Kebanyakan orang berpikir bagaimana mencari uang dan mengumpulkannya untuk digunakan di kemudian hari.

Coba diurutkan dari mana uang mengalir dan sampai mana uang itu.

Negara mencetak uang. Kemudian, uang beredar di masyarakat. Seiring dengan pertumbuhan, kebutuhan uang yang beredar semakin besar. Maka negara mencetak uang lagi, sampai mencukupi kebutuhan masyarakat.

Untuk bisa hidup, orang butuh makan. Maka, uang mengalir ke petani. Karena semua orang makan, apakah uang akan mengalir ke petani dan berhenti di sana? Kalau berhenti, orang-orang tidak bisa membeli makanan dan terus mati.

Bagaimana agar uang tidak berkumpul hanya kepada petani? Caranya, batasi pendapatan petani sehingga hanya cukup untuk memenuhi hidup sehari-hari. Uang itu kemudian mengalir karena petani butuh barang lain.

Kalau petani sekarang banyak yang sulit mengumpulkan uang dalam jumlah besar. Uang mengalir ke modal bertani, seperti pembelian alat, pupuk, dan lainnya.

Proses mengalirnya uang ini sering terhenti di beberapa simpul. Jika berhenti, berarti simpul sedang mengumpulkan uang. Semakin banyak terkumpul, maka uang beredar semakin sedikit.

Bagaimana jika dalam suatu daerah hanya sedikit uang yang beredar karena beberapa simpul menyimpan uangnya rapat-rapat? Jika terjadi demikian, sama artinya aktivitas ekonomi menjadi lesu karena daya beli rendah. Orang menjadi malas melakukan apapun, sehingga mengakibatkan penurunan produktivitas secara rata-rata.

Orang bekerja untuk mendapatkan upah. Kalau hanya sedikit orang yang bisa memberi upah, maka sedikit pula orang yang bekerja, termasuk para petani. Akhirnya, secara agregat, terjadi penurunan kualitas hidup karena kekurangan pasokan nutrisi.

Bagaimana kalau negara mencetak uang banyak-banyak? Bagus tidak?

Andaikan saja, tidak ada transaksi sama sekali dari dan ke luar negara, maka mencetak uang terus menerus hanya akan memperlebar kesenjangan. Kok, bisa?

Iya. Uang pasti akan terkumpul pada beberapa simpul secara terus menerus, sedangkan yang lain hanya dilewati. Simpul-simpul inilah para konglomerat. Mereka mampu membuka ribuan jalur agar uang mengalir ke sana.

Bukankah pemilik banyak uang menjadi penguasa? Mereka dengan mudah mengendalikan orang lain dengannya. Termasuk mengendalikan agar aliran uang di masa depan terus menerus mengalir ke mereka.

Tanpa ditambah pun, kesenjangan sudah terjadi. Sebagian besar peredaran uang hanya di tangan segelintir orang saja.

Bagaimana kalau negara membuka transaksi dengan negara lain? Bisakah mencetak uang banyak-banyak untuk membeli produk luar negeri?

Jawabannya tentu tidak. Uang yang dicetak negara tidak akan laku di negara lain. Kalau misalnya diterima pun, pasti berpikir dua kali karena hanya bisa membeli ke negara asal uang.

Misal, Indonesia membeli pesawat ke Rusia dengan rupiah, maka Rusia minta jaminan uang itu bisa membeli kebutuhan mereka yang ada di Indonesia. Kalau tidak ada jaminan itu, mereka tidak mau membeli.

Beda kalau dibayar dengan emas. Emas tetaplah emas di manapun berada, dan dapat dipakai untuk membeli apapun di seluruh dunia.

Maka, jika Indonesia mau uangnya diterima di negara luar, harus ada jaminan bahwa besarnya rupiah selalu tetap terhadap emas. Atau dengan kata lain, setiap mencetak uang rupiah, maka harus dijamin bisa ditukar dengan emas!

Masalah lain kemudian muncul. Uang yang terlalu banyak beredar tidak sebanding dengan peredaran emas. Sesuai hukum ekonomi, kelangkaan membuat naiknya nilai barang. Orang tentu memilih emas. Nilai rupiah turun terhadap emas. Akhirnya, rupiah juga akan turun terhadap mata uang negara lain.

Adakah negara yang cetak uang tanpa jaminan emas?

Satu-satunya negara yang mata uangnya tidak terkait dengan emas adalah Amerika Serikat. Mereka bisa seenaknya mencetak uang seberapapun dan mampu ditukar dengan mata uang negara manapun. Bahkan, bisa membeli apapun di negara manapun.

Artinya, mereka cukup mudah mengalirkan kekuasaan uang kertas agar sumber daya seluruh dunia dengan mudah berpindah ke sana. Sedang nasib negara-negara lain, bekerja keras untuk mereka. Selamanya?

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Mengapa Quran Bukan Tulisan di Atas Kertas?

Andai Al Quran diturunkan dengan tulisan di atas kertas, pasti akan menakjubkan. Tapi, mengapa bukan? Kalau pun diturunkan dengan cara menakjubkan, apa kemudian orang-orang kafir itu beriman?

Pembubaran PT: Prosedur dan Akibat Hukum Pembubaran Berdasar RUPS

Pada tahun 2007 Audi, Aryanda dan Chico mendirikan sebuah Perseroan Terbatas (PT) dengan nama PT AAC, yang bergerak di bidang perdagangan. Namun karena kesibukan...

Kelebihan Sambung Pucuk

Sambung pucuk memiliki beberapa kelebihan, penggabungan antara kelebihan dengan pembiakan secara generatif dan vegetatif.
close