Masyarakat Indonesia Dinilai Rendah Kejujurannya, Valid?

Masyarakat Indonesia Dinilai Rendah Kejujurannya, Valid?

WARGASERUJI – Alain Cohn, dkk meneliti perilaku jujur masyakarat di negara-negara di dunia. Caranya, dengan menitipkan dompet di kota-kota 40 negara. Peneliti sengaja mengaku menemukan dompet dan meminta orang lain untuk menjaganya. Indonesia salah satu yang dinilai rendah kejujurannya.

Dompet tersebut berisi uang setempat, kunci, kartu nama, alamat email dan catatan belanja berbahasa setempat. Dompetnya transparan sehingga orang mengetahui isinya dari luar.

Rata-rata 40 persen orang mengembalikan dompet tersebut bila tidak berisi uang. Jika berisi uang, justru prosentase mengembalikan lebih tinggi hingga 51 persen.

Dari ke-40 negara, Swis menempati urutan pertama paling banyak mengembalikan dompet, diikuti negara-negara Skandinavia. Sedangkan Indonesia, diperingkat ke-33 dibawah India dan Thailand, namun di atas Malaysia dan Cina.

Tepatkah Menilai Kejujuran Karena Mengembalikan Dompet?

Peneliti ekonomi dari Harvard Jonathan Schulz berpendapat bahwa homogenitas masyarakat dan loyalitas terhadap negara mempengaruhi kejujuran. Karena itu, negara-negara di Skandinavia mendominasi peringkat atas dalam penelitian tersebut.

Selain itu menurutnya, negara-negara Asia memiliki ikatan keluarga yang lebih dominan sehingga mengembalikan dompet atau tidak bergantung keputusan keluarga. Pengaruh mendahulukan keluarga inilah yang menyebabkan dompet tidak Selandia Baru, dan Inggris.

Pendapat Schulz ini didukung oleh Associate Professor di bidang psikologi dan ilmu saraf di Georgetown University, Abigail Marsh. Ia berpendapat bahwa negara dengan budaya kolektivis tinggi cenderung memberikan bantuan utamanya kepada keluarga dan anggota kelompok dekat.

Namun, mengapa para peneliti ini tidak memasukan faktor ekonomi? Bukankah orang-orang yang telah sejahtera tentu lebih cenderung mau mengembalikan barang milik orang lain? Negara-negara yang makmur seperti di Skandinavia jelas berada di peringkat atas.

Kesimpulan yang dilakukan para peneliti ini bisa berujung fatal bila tanpa berpikir kritis. Andai diterima secara luas, maka orang akan memandang rendah budaya keluarga dan mendorong berperilaku individualis. Padahal di lain pihak, negara-negara maju sedang mengalami krisis penduduk yang menua tanpa regenerasi karena minat berkeluarga semakin berkurang.

Andai tes kejujuran dilakukan di negara-negara yang perekonomiannya setara, niscaya tidak akan terjadi perbedaan yang signifikan dan tak ada yang dinilai rendah kejujurannya. Bagaimana menurut Anda?

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Orang Bohong Yang Bertobat vs Orang Bohong Yang Keterusan

Menjaga kejujuran sangatlan penting, sedangkan memelihara kebohongan adalah perbuatan jahat yang akan menghancurkan diri sendiri. Orang yang berbohong lantas bertobat dengan cara mengakui kebohongannya dan...

Whatsapp Seminar Memanfaatkan Setting Akses Grup

Tidak banyak yang tahu, kalau grup Whatsapp sekarang bisa diseting agar hanya admin yang boleh kirim pesan di grup. Caranya pun mudah. Sebagai admin,...

Tumpangsari Melon dan Semangka Sangat Menguntungkan

Pangkalan Bun - Petani melon dan semangka Desa Pasir Panjang RT 04 Arut Selatan Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah, merasa diuntungkan dengan teori barunya....
close