Ketika Garuda Mempolisikan Pelanggannya Sendiri

Ketika Garuda Mempolisikan Pelanggannya Sendiri

WARGASERUJI – PT Garuda Indonesia mempolisikan pelanggannya sendiri karena dugaan pencemaran nama baik. Youtuber bernama Rius Vernandez menjadi terduga melakukan pencemaran nama baik karena mengunggah tulisan tangan pramugari.

Rius mengunggah foto tulisan tangan pramugari berisi daftar menu makanan saat menumpang pesawat Garuda Indonesia rute Sidney-Jakarta dan transit di Denpasar.

Menurut Rius, ia membuat video tersebut saat menjadi penumpang kelas bisnis karena ingin menciptakan momen spesial untuk melamar kekasihnya yang juga turut dalam penerbangan itu.

Dari laporan itu, Kapolres Bandara Soekarno-Hatta Kombes Victor Togi Tambunan Victor menegaskan akan segera memanggil pelapor, terlapor, dan juga saksi-saksi guna mendalami kasus ini

Surat panggilan dari kepolisian ternyata sudah diterima oleh Rius yang diunggah di akun Instagramnya pada Selasa, 16 Juli 2019.

Apa Dampak Mempolisikan Pelanggannya Sendiri?

Pelanggan adalah raja sudah tidak berlaku. Pelanggan wajib ikuti kemauan pemberi jasa, itu yang berlaku. Kalau tidak puas, tak boleh diumbar. Kalau puas, baru diumbar-umbar.

Kalau seperti itu, persis atasan dan anak buah. Anak buah yang tidak puas, hanya bisa menggerutu dalam hati, atau ngerumpi di belakang. Bedanya, anak buah tak bisa sembarangan pergi. Si pelanggan mudah melenggang pindah ke lain hati.

Adakah larangan mengumbar ketidakpuasan? Tidak ada. Namun, ternyata bisa juga dijerat pasal. Mengumbar ketidakpuasan diartikan mencemarkan nama baik.

Yang tidak bisa masuk akal itu, mengapa mempolisikan? Mau menambah musuh? Apa tidak dengan cara elegan menangani isu seperti itu? Seperti tidak punya manajemen pencitraan saja.

Jika memang menu harus menggunakan tulisan tangan, bukankah lebih baik di-counter bahwa itu wujud layanan awak pesawat secara total? Kalau mempolisikan, sama artinya mengakui memang punya kelemahan yang tak mau disebar.

Kalau misalnya Rius Fernandez mengambil foto-foto di ruangan bukan publik kemudian menyebarkannya, bolehlah disebut menyebarkan aib. Tapi, yang disampaikan terjadi di ruang publik, semua orang bisa melihat. Apakah ini berarti penyedia jasa bisa seenaknya sendiri?

Bisa jadi, inilah efek yang akan banyak terjadi ketika UU ITE masih berlaku. Konsumen tidak lagi punya kekuatan memprotes segala layanan penyedia jasa apapun, karena takut dipolisikan. Bagaimana menurut Anda?

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Mengapa Quran Bukan Tulisan di Atas Kertas?

Andai Al Quran diturunkan dengan tulisan di atas kertas, pasti akan menakjubkan. Tapi, mengapa bukan? Kalau pun diturunkan dengan cara menakjubkan, apa kemudian orang-orang kafir itu beriman?

Pembubaran PT: Prosedur dan Akibat Hukum Pembubaran Berdasar RUPS

Pada tahun 2007 Audi, Aryanda dan Chico mendirikan sebuah Perseroan Terbatas (PT) dengan nama PT AAC, yang bergerak di bidang perdagangan. Namun karena kesibukan...

Kelebihan Sambung Pucuk

Sambung pucuk memiliki beberapa kelebihan, penggabungan antara kelebihan dengan pembiakan secara generatif dan vegetatif.
close