close

Follow SERUJI

53,147FansSuka
396PengikutMengikuti
7,070PengikutMengikuti
643PelangganBerlangganan

Islam Nusantara, Agama Baru?

Islam Nusantara, apa itu? Siapa yang mencetuskan? Untuk apa? Mengapa harus diperkenalkan? Sejak kapan Islam Nusantara itu ada?

Sederet pertanyaan tersebut mungkin ada di banyak benak kebanyakan muslim di Indonesia, karena sebelumnya istilah itu memang tak dikenal. Baru-baru ini saja muncul.

Karena baru, maka keberadaannya jelas baru. Namun, dua kata penyusunnya merupakan istilah lama, bahkan sangat kuno. “Islam” merupakan istilah seumur umat manusia, sejak Adam hingga kini. Nusantara, sebutan kepulauan yang berada di ujung Tenggara benua Asia, yang sekarang sebagian besar masuk Indonesia, juga jauh lama dikenal saat peradaban manusia di Asia Tenggara muncul.

Ketika Islam diselewengkan oleh sebagian kaum Bani Israel, Nabi Isa a.s. mencoba meluruskan. Yang tidak mau diluruskan diberi nama agama Yahudi, bukan Islam. Kemudian, Islam yang diajarkan Nabi Isa a.s. juga diselewengkan sebagian umatnya. Setelah itu, diutuslah Nabi terakhir, Nabi Muhammad saw, yang diutus untuk meluruskan dan menjadi ajaran sempurna penutup zaman. Umat Nabi Isa a.s. yang tidak mau diluruskan, disebut menganut agama Nashrani.

Jika kemudian ada sebutan Islam Nusantara, apakah menjadi “penyempurna” Islam yang sudah ada sejak dahulu kala? Jika dirunut dari sejarah, tentu harus ada nabi utusanNya yang memberitakan perubahan tersebut. Adakah?

Hingga hari ini tidak ada kenabian yang memperbaharui ajaran Tuhan. Memang tidak akan ada, karena Tuhan sudah menetapkan dan mengumumkan bahwa ajaran yang disampaikan melalui RasulNya sudah sempurna, tak perlu ada Nabi lagi sesudah Nabi Muhammad saw.

Lalu? Mengapa muncul istilah Islam Nusantara kalau begitu?

Jika alasannya Islam Nusantara adalah ajaran yang terbaik dibanding hanya sekedar kata “Islam” tanpa embel-embel, maka sama artinya keluar dari Islam secara makna. Islam berarti agama kepasrahan, pasrah terhadap risalah yang dibawa Nabi. Sedangkan Islam Nusantara adalah ajaran yang dianggap menyempurnakan Islam tapi bukan dari Nabi, melainkan dari akal-akalan manusia, yang berarti tidak pasrah. Tidak pasrah sama dengan tidak Islam.

Oleh karenanya, sebelum muncul istilah Islam Nusantara, tidak dikenal Islam Amerikana, Islam Eropania, Islam Arabia, atau istilah-istilah yang lain, kecuali pasti sudah dihukumi sesat oleh para ulama. Orang masuk Islam, cukup dengan pernyataan universal: (1) bahwa Allah adalah tuhan satu-satunya yang disembah, serta (2) mengakui Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah.

Mungkin alasan lain? Jika istilah Islam Nusantara diseumpamakan sekedar “corak” yang muncul akibat perbedaan budaya umat yang berbeda-beda, barangkali sekedar “menyaingi” kelompok-kelompok pemahaman yang ada di Indonesia. Ada kelompok Salafi, Ikhwani, Khuruji, dan santri-kyai. Ada pula berbentuk ormas seperti FPI, Muhammadiyah, NU, Persis, dan HTI (sudah dibubarkan). Tapi, tidak tepat pula untuk dipersandingkan, karena tidak ada istilah Islam NU, Islam Persis, atau Islam Salafi. Semua kelompok itu menyebut diri Islam saja.

Atau alasannya untuk memberikan sifat terhadap orang Islam? Maksudnya mungkin orang Islam yang menjalankan syariat Islam dengan kearifan lokal. Misal, membaca Al Quran dengan nada yang dikenal di Jawa. Masalahnya, Nusantara itu bukan hanya budaya Jawa. Bahkan, ragam budaya sangatlah banyak, dan semua diakui sebagai kekayaan Nusantara.

Ataukah alasan yang terakhir ini? Bahwa Islam Nusantara diperkenalkan sebagai cara “mengusir” orang-orang yang tak sepihak, dengan klaim “paling Nusantara” dibanding yang lain? Mengusir orang Islam yang berpakaian dan berperilaku seperti orang Arab? Orang Jepang? Orang Cina? Orang Turki? Orang India?

Jika alasan terakhir yang dipakai, maka seperti orang yang memaksakan kebhinekaan versi diri sendiri kepada orang-orang yang sudah menghargai kebhinekaan versi bersama.

Jangan salahkan orang berpandangan negatif terhadap istilah Islam Nusantara, karena sangat mudah orang-orang berpikir salah satu alasan dari beberapa alasan di atas. Karena itu, bisa disimpulkan bahwa membuat istilah Islam Nusantara hanyalah menambah polemik saja, serta kontra produktif terhadap proses menjaga kesatuan umat.

Ditambah lagi, muncul berbagai bantahan-bantahan dari beberapa alim ulama (pewaris para Nabi), yang menandakan bahwa istilah Islam Nusantara muncul dari kalangan liberalis penganut kebebasan, lawan dari kepasrahan (atau Islam) .

Wallahu a’lam bishshawab.

  • 11
    Shares
Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Muhammad Hanif Priatama
Penulis bebas yang bebas menulis untuk belajar menjadi manusia sesungguh-sungguhnya. https://t.me/sobatbersih

YANG LAGI PRO-KONTRA

Ternyata Bukan Ekonomi Meroket, Tapi Neraca Perdagangan Terburuk Selama 12 Tahun

Pertumbuhan ekonomi tidak jadi meroket, malah neraca perdagangan terburuk selama 12 tahun terkahir.

3 KOMENTAR

  1. Ini mirip Ahmadiyah. Mengaku Islam, tapi punya Nabi lain . Berawal dari proses berpikir yg sarat kepentingan , bukan dari wahyu. Jika memandang Islam sebagai agama intoleran, sebaiknya nama agama ini Agama Nusantara. Sehibgga Islam tak akan memoermasalahkan lagi. Bagi non Muslim yg sudah berbeda akidah, Islam jelas: bagiku agamaku, bagimu agamamu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TULISAN TERBARU

Mengelola Kasih Tak Sampai Ala Rasulullah SAW

Jatuh cinta bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Beruntunglah bagi yang bisa menikah dengan pasangan jatuh hatinya. Namun,

MIUMI dan Safari Dakwah Ustadz Bachtiar Nasir

MIUMI mengajak muslimin muslimat di seluruh Indonesia untuk bersama-sama menjaga arah perjuangan umat dan menjaga sinergi antara keislaman dan kebangsaan.

Rawat Nenek Ubud, Komunitas Ketimbang Ngemis Bali Berbagi Kebahagiaan

Di usia senjanya, Ni Wayan Lepug (85 tahun) Asal Ubud, Kabupaten Gianyar harus hidup sebatang kara tanpa ditemani oleh keluarganya

Macan Padi dan Pilot Keren Prabowo-Sandiaga Lanjut Ngluruk Jatim

Kegiatan Ngluruk Jatim yang dilakukan oleh dua kelompok relawan militan paslon 02 yaitu Macan Padi Indonesia dan Pilot Keren Prabowo Sandiaga, dilanjut sampai ke...

Tak Hanya Teori, “Aksi Indonesia Muda” Peduli Masyarakat Eks Kusta di Kampung Dangko

Projek sosial yang dilakukan AIM kali ini berupa projek pemberdayaan perempuan dalam bentuk pelatihan pembuatan keset kaki.

‘Macan Padi’ dan ‘Pilot Keren Prabowo-Sandi’ Putihkan Lamongan

etelah sebelumnya meramaikan Kota Madiun, kali ini kelompok relawan Prabowo-Sandiaga, 'Macan Padi' dan 'Pilot Keren Prabowo-Sandi' hadir di Kota Lamongan, Jawa Timur, Sabtu (9/2).

Dukungan Masyarakat ke Sekolah Bukan Hanya Dana dan Fisik

alah satu faktor penting dalam pengembangan pendidikan adalah dukungan masyarakat. Sejak diberlakukannya undang-undang nomor 20 tahun 2003 semua sekolah telah memiliki komite sekolah yang merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah.

Penahanan Ahmad Dhani, Ferry Koto: Saya ingin Komisi Yudisial Periksa Kasus ini

WARGASERUJI - Ferry Koto, pengamat pendidikan dan kebijakan publik di Surabaya, menginginkan agar komisi yudisial memeriksa hakim yang menangani kasus Ahmad Dhani. Pasalnya, menurutnya,...

Yusril Ihza Mahendra dan Lukah

WARGASERUJI - Lukah sebuah alat penangkap ikan tradisional yang sering digunakan  penduduk pedalaman dalam menangkap ikan di sungai.  Lukah yang terbuat dari rotan dipasang...

Sekuel Kedua Film The Power of Love, “Hayya the Movie” Shooting di 212 Mart

JAKARTA, WARGASERUJI - Film dengan latar belakang Aksi 212 berjudul 'The Power of Love' sempat booming dan jadi salah satu film lokal yang paling...

TERPOPULER

Ternyata Bukan Ekonomi Meroket, Tapi Neraca Perdagangan Terburuk Selama 12 Tahun

Pertumbuhan ekonomi tidak jadi meroket, malah neraca perdagangan terburuk selama 12 tahun terkahir.

MIUMI dan Safari Dakwah Ustadz Bachtiar Nasir

MIUMI mengajak muslimin muslimat di seluruh Indonesia untuk bersama-sama menjaga arah perjuangan umat dan menjaga sinergi antara keislaman dan kebangsaan.

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Mengelola Kasih Tak Sampai Ala Rasulullah SAW

Jatuh cinta bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Beruntunglah bagi yang bisa menikah dengan pasangan jatuh hatinya. Namun,

Ketika Kata “Akal Sehat” Menangis di Kamus, di Musim Pilpres

- Catatan untuk Rocky Gerung dan Barisan Yang Sepaham. Oleh: Denny JA Di era pemilu presiden, banyak hal didangkalkan. Termasuk makna akal sehat, yang kini seolah...