Konser Musik Untuk Republik, Mengusik Nurani Publik

Konser Musik Untuk Republik, Mengusik Nurani Publik

WARGASERUJI – Istana kedatangan perwakilan musisi Indonesia. Mereka datang dalam rangka menyampaikan rencana konser bertajuk, ‘Musik untuk Republik’. Konser itu rencananya diadakan tanggal 18-29 Oktober 2019 tepat menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih.

Mereka mengklaim pagelaran konser musik ini diselenggarakan untuk merajut persatuan Indonesia yang masih terbelah dengan berbagai peristiwa demo besar-besaran mahasiswa dan kerusuhan di Papua. Mereka berharap Jokowi turut hadir dalam acara tersebut. Sebagai ikon persatuan Indonesia, katanya.

Kritik pun bermunculan. Banyak pihak menyayangkan rencana pagelaran tersebut. Baik dari kalangan politisi hingga musisi sendiri. Sebab, di tengah masalah yang mendera Indonesia, para musisi itu dianggap tak peka.

Indonesia sedang berduka karena korban pembantaian dan pengusiran warga non Papua di Wamena. Ditambah demo mahasiswa menolak RUU bermasalah hingga jatuh korban jiwa. Belum lagi bencana kabut asap di Riau, Kalimantan, dan sekitarnya. Ada pula bencana Ambon di Maluku baru-baru ini.

Rentetan peristiwa memilukan ini sangat melukai Ibu Pertiwi. Di saat negeri ini bersedih, sangat tak etis konser musik digelar hanya untuk memeriahkan  pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih.

Tak heran bila masyarakat menilai miring terhadap konser tersebut. Nurani publik terusik. Kalaulah ingin menyatukan nusantara, tak harus dengan konsep acara yang lebih banyak hura-huranya dibanding bermuhasabah.

Negeri ini membutuhkan empati dan simpati dari berbagai pihak. Musik bukan solusi. Malah banyak melalaikan masyarakat bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Yang dibutuhkan mereka adalah penegakan hukum yang tegas pada pelaku penembakan mahasiswa dan perusuh di Wamena. Yang diperlukan mereka adalah perhatian penuh pemerintah dalam memberi perlindungan dan keamanan. Betapa sedihnya kita menyaksikan negeri ini porak peranda. Persatuannya tersayat.

Bila para musisi itu berniat ingin menyambungkan kembali persatuan yang terkoyak, semestinya mereka suarakan itu saat berkunjung ke Istana. Mereka bertemu langsung dengan Presiden. Negara seharusnya hadir menjadi penjaga dan pengayom rakyat. Sejauh ini tak ada ketegasan sikap dari pemerintah. Kebrutalan aparat terhadap mahasiswa seolah didiamkan. Tak segera ambil tindakan. Kerusuhan Wamena juga menjadi sinyal bahwa negeri multietnis ini memang berpotensi terjadi disintegrasi.

Sejatinya musisi juga bagian dari elemen masyarakat. Saat duka menyelimuti, jangan menyajikan konser musik untuk rakyat. Alangkah baiknya instropeksi berjamaah. Merenungi setiap kejadian adalah teguran dari Sang Maha Kuasa. Aksi galang dana dan kemanusiaan jauh lebih berharga untuk para korban dibanding bermusik ria.

Jadi, cobalah untuk peka. Pagelaran konser musik tidak tepat diadakan di tengah cobaan menimpa negeri ini. Wallahu a’lam.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Teknik Tanpa Efek Samping Terapi Warna Ala Sujok

rinsip kerja Sujok adalah melakukan penanganan titik-titik di tangan dan kaki dengan pewarnaan tertentu. Untuk hasil yang lebih maksimal namun masih taraf aman atau tidak beresiko tinggi, bisa ditambah ditempelkan biji-bijian ke titik-titik yang dimaksud.

Penyakit Masyarakat Butuh Obat Ampuh

Penyakit Masyarakat Butuh Obat Ampuh Penyakit masyarakat khususnya di daerah Medan, kian hari semakin menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Senin (23/9/2019), Muspika Medan Selayang yang...

Menuju Indonesia Maju dengan SDM dan Data Berkualitas

Dalam rangka peringatan Hari Statistik Nasional (HSN) yang diperingati setiap tanggal 26 September, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan RRI PRO 1 FM 99,2 menggelar talkshow dengan tema “Menuju Indonesia Maju dengan SDM dan Data Berkualitas”

Membuat Gula Merah dari Nira Batang Sawit

Ternyata batang kelapa sawit yang telah tumbang dapat diambil niranya untuk dijadikan gula merah, demikian menurut seorang anggota DPRD Kota Dumai dari Partai Gerindra,...