Kondisi sosial politik menjelang pemilihan umum terasa begitu memanas. Hal ini tercermin dari begitu mudahnya pergesekan terjadi diantara pejabat dan tokoh masyarakat. Ketika seorang tokoh masyarakat memberikan kritik kepada pemerintah, terkadang respon pemerintah begitu berlebihan. Begitu juga sebaliknya, ketika pemerintah membuat sebuah kebijakan yang terkadang kurang adil untuk suatu golongan maka respon tokoh masyarakat terasa berlebihan.

Beberapa waktu lalu dihebohkan dengan kritik dari tokoh reformasi Bapak Amien Rais kepada pemerintah perihal pembagian sertifikat tanah yang diduga sebagai “pengibulan”. Respon pejabat publik oleh Bapak Luhut Binsar Panjaitan yang sebagai Menko Maritim terasa berlebihan, bukannya merespon dengan data tetapi dengan pernyataan yang berbau ancaman terhadap pengkritiknya. Terhadap pernyataan tersebut Mantan Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudoyono juga memberikan kritiknya agar jangan memberikan tindakan ancaman terhadap kritik dari masyarakat.

Pertarungan tiga jenderal dalam pemilihan umum kali ini terasa sangat begitu kental. Prabowo Subianto (alumni 1974), Susilo Bambang Yudoyono (alumni 1973) dan Luhut Binsar Panjaitan (alumni 1970) merupakan alumni dari Akademi Militer yang memiliki kesamaan jiwa korsa militer. Mereka membawa kendaraan politiknya masing-masing dalam pertarungan politik ini, Prabowo Subianto dengan Gerindra, Luhut Binsar Panjaitan dengan posisi pemerintah dan Susilo Bambang Yudoyono dengan Demokrat.

Umat Islam sebagai mayoritas penduduk di negara ini tentunya harus mampu memposisikan dirinya dalam pertarungan politik ini. Kondisi ini juga akan memiliki dampak terhadap kekuatan ukhuwah Islamiyah dalam umat muslim. Perpecahan sangat dimungkinkan terjadi dikarenakan sikap loyal yang berlebihan terhadap tokoh politik atau partai politik yang diikutinya. Bagaimanapun juga ukhuwah Islamiyah harus dijaga oleh seluruh umat muslim, karena itulah yang menjadi dasar kekuatan umat untuk berjuang demi tegaknya agama Islam di negeri ini.

Umat Islam harus menyadari akan kekuatan mayoritas yang dimiliki, jangan sampai umat ini pecah belah dikarenakan pandangan politik atau pengaruh terhadap tokoh/partai politik yang diikutinya. Jadikanlah dunia politik sebagai sarana perjuangan umat muslim, bukan menjadikan agama Islam sebagai sarana untuk perjuangan politik.

Perpecahan dalam umat muslim yang dikarenakan perbedaan dalam pandangan politik akan menjadi sasaran mudah bagi musuh-musuh Islam yang menghendaki semakin melemahnya kekuatan Islam di negeri ini. Kesadaran berbangsa dan bernegara yang disertai dengan pemahaman Al-qur’an dan Al-hadits tentunya akan menjadikan seorang muslim yang cinta pada negaranya tanpa meninggalkan syariat agama. Kita perlu belajar banyak dari sejarah hidup para ulama mazhab yang mampu tetap menjunjung ukhuwah Islamiyahnya meskipun memiliki perbedaan dalam hukum suatu ibadah dalam agama Islam.

    Berprofesi sebagai marketing produk kayu baik lokal/proyek dan export ke Asia, Amerika dan Afrika. Membina Ponpes Darrul Arash - Lebak - Banten Gusdurian dan tidak berafiliasi ke parpol manapun Belajar untuk lebih bermanfaat untuk agama dan bangsa ini sesuai dengan kemampuan yang dimiliki

    2 KOMENTAR

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan isi komentar anda
    Masukan Nama Anda