Kalau Sukmawati itu menyatakan perasaannya, pemikirannya, maka itu haknya. Melalui sebuah puisi, atas nama seni, bebas apa saja bisa ia sampaikan, sebaik atau sejorok dan sejelek apapun. Jika sekarang menjadi pembicaraan, bahkan polemik, maka sesungguhnya Sukmawati itu korban.

Puisi Sukmawati disuarakan di sebuah acara duniawi, jelas arahnya, bukan tentang agama. Kacamata sudut pandangnya dari keduniaan, dipakai untuk melihat orang-orang yang melakukan tindakan keakhiratan. Yang dinilai adalah rasa, bukan hakikat. Makanya, ia hanya membandingkan kidung dengan adzan, sanggul dengan cadar, melalui rasa semata, tak ada basis “mengapa” dan “bagaimana sejatinya”.

Bagaimana pemikirannya terbentuk, barangkali mengalir bersama hidupnya akibat lingkungan yang ia alami. Secara luas, pemikirannya terpengaruh mode dunia modern yang memisahkan antara dunia dengan akhirat, disebut sekulerisasi, yang merambat ke arah ranah polemik antara syariat dan budaya.

Syariat Islam sangat berbeda dengan syariat agama lain. Sesuai dengan namanya, Islam bisa berarti pasrah. Sedangkan syariat berarti aturan dari Tuhan. Ber-Islam berarti pasrah kepada aturan Tuhan. Sedangkan budaya itu hasil pemikiran manusia, bukan syariat Tuhan.

Jika paham sekuler itu memisahkan agama dengan budaya secara “setara”, maka Islam meletakkan budaya di bawah syariat. Budayalah yang harus menyesuaikan syariat yang ada. Menyetarakan agama dan budaya itu ada di alam pikiran para ateis, orang-orang yang tak mengakui adanya Tuhan. Mereka anggap agama adalah hasil budaya manusia.

Pemikiran ateis yang menyebar pesat di dunia modern Barat, yang saat ini menjadi pusat peradaban manusia, membawa banyak korban bukan hanya di kalangan masyarakat mereka, namun menyebar dan meluas di kalangan agamis seperti di Indonesia melalui dogma-dogma akademik serta media. Muncullah orang-orang yang beragama dalam bentuk status, tapi tidak dalam pemikiran.

Bukan berarti korban bisa lepas dari tanggungjawab, atas nama manusia. Itu sama halnya seperti ketika manusia masuk neraka gara-gara jadi korban ajakan syetan melakukan perbuatan ahli neraka. Setiap manusia punya tanggungjawab berupa kehendak bebas, punya kesadaran untuk memilih.

Kelak, orang-orang Islam akan menjadi saksi. Artinya, segala perilaku orang Islam tidak dijadikan pertimbangan berpikir, dan hanya menuruti “rasa” dunia. Ia adalah korban, tapi kelak sadar bahwa itu pilihannya sendiri, saat menerima kitab catatan amal di tangannya.

Jika Allah menghendaki, setelah peristiwa ini barangkali ada kesempatan untuk kembali sebelum maut menjelang, semoga. Bila tak dimanfaatkan, kerugian terbesar yang akan menimpa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

loading...
BACA JUGA

TULISAN WARGA TERBARU

Belajar dari Iwan Fals: Kedewasaan tak Selalu Linier dengan Usia

"Tadinya mau puasa ngetwit sampai lebaran, tapi begitu baca berita ini batal dah puasanya... https://t.co/HD9UiTnX9P " twit Iwan Fals melalui akun twitternya pada 10...

Faedah Mendekati Ulama

Sebagaimana diriwayatkan, bahwa Imam Al-auza`i adalah seorang alim, ahli fiqih yang bijak, dan murid-murid beliau sangat banyak, karena beliau terkenal sangat akrab dengan para...

SP3 HRS, Penyidikan Dihentikan?

Kasus yang menimpa Habib Rizieq Shihab (HRS) tergolong unik. Dari sejak percakapan berbau porno yang dituduhkan kepadanya, entah siapa pembuatnya, hingga proses pemberitaan masif...