Stephen Hawking, seorang yang mengumumkan dirinya sebagai ateis saat hadir di Starmus Festival pada September 2014, telah dinyatakan meninggal oleh juru bicara keluarganya, Rabu (14/3). Barangkali, inilah saat penentuan taruhan tentang Tuhan bagi dirinya, ada atau tidak.

Ia sudah tidak lagi bertaruh untuk hal lain. Dulu, pernah berdebat dengan ilmuwan lain, Higgs, tentang sebuah partikel yang secara teoritis diduga ada menurut teori medan Higgs. Pada tahun 2012, pertikel yang dimaksud ditemukan di CERN, setelah Large Hadron Collider dibangun. Hawking menyatakan dirinya “kalah taruhan”, dan menyatakan bahwa Higgs patut mendapat hadiah Nobel Fisika.

Tidak hanya itu, Hawking pernah menyatakan kalah taruhan dengan Preskill, ketika para fisikawan sepakat bahwa dirinya keliru mengenai hilangnya informasi dalam lubang hitam. Bahkan, Hawking menyatakan hal tersebut sebagai blunder terbesarnya.

Pertaruhan yang terakhir hanya bisa disaksikan dirinya sendiri, tepat setelah kematiannya. Ia memandang konsep akhirat hanya sebagai angan-angan orang yang takut kegelapan. Semua ilmu yang ia pelajari selalu disimpulkan sebagai bukti akan hukum-hukum alam. Ia meragukan bahwa hukum-hukum tersebut dibuat oleh Tuhan, bahkan kalaupun iya, Tuhan takkan melanggarnya. Bertaruh bahwa Tuhan dan akhirat tidak ada.

Apa yang menjadi keyakinannya barangkali karena ia terus berkutat pada sebab akibat dari semua hukum-hukum fisika yang ia pelajari. Namun, ia tak mampu mengambil pelajaran dari kesalahan yang ia pelajari: pernah salah dan kalah bertaruh.

Ketika “bertaruh” dengan Higgs dan Preskill kemudian kalah, tak membuat dirinya tersingkir dari penyandang nama ilmuwan dunia. Mungkin, inilah yang menjerumuskan pada pertaruhan, lebih sekedar antara hidup dan mati, akan adanya kehidupan setelah mati atau tidak. Resiko yang tidak ia hitung sama sekali.

Selain itu, kesalahan yang pernah ia lakukan juga tidak membuat dirinya sadar akan keterbatasan dirinya. Ia menganggap setelah memahami pengetahuan, maka segala sesuatu sudah ia ketahui. Apapun yang tidak ia ketahui adalah tidak ada karena tidak terbukti, termasuk Tuhan.

Mengapa ia begitu yakin, padahal di saat yang sama ia menderita penyakit menahun yang tak bisa disembuhkan oleh pengetahuan yang ia agung-agungkan. Jika memang benar sudah mengetahui segala ilmu pengetahuan, cobalah menghentikan kematiannya sendiri, andai bisa.

Bagi seorang yang pasrah (muslim), sadar betul akan keterbatasan, sadar bahwa lebih banyak yang ia tidak ketahui daripada yang diketahui. Hanya satu jalan agar selamat dalam pertaruhan, yaitu mencermati berita (informasi) dari Sang Pencipta.

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan isi komentar anda
    Masukan Nama Anda