close
Ingin Menulis di WARGA SERUJI? Klik disini

Semakin Bodoh, Sehingga atau Karena Ditertawakan?

Teringat pernah lihat film tentang sekolah, sebuah cerita komedi aksi. Penuh dengan kelucuan. Sayangnya, banyak dalam bentuk mentertawakan kesalahan orang lain, dan ditonton anak-anak pula.

Seorang ustadz Bahasa Arab pernah bercerita ketika belajar di Pondok Gontor. Di sana jika ada yang mentertawakan kesalahan teman di dalam kelas, akan dihukum. Kata ustadz itu, santri-santrinya jadi pemberani untuk mencoba melakukan percakapan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab.

Ia juga mengisahkan, bahwa para syaikh di Arab sangat heran dengan kelas di Indonesia yang isinya murid yang suka mentertawakan temannya yang salah. Para syaikh tak pernah sedikitpun mentertawakan murid-muridnya ketika berada dalam majelis ilmu, katanya.

Loading...

Darimana datangnya sikap buruk itu? Apakah sistem pendidikannya?

Kalau mencari-cari kesalahan dari faktor-faktor luar tanpa pernah mempersoalkan sistem pendidikannya, ya jelas fatal. Pasti ada kesalahan dalam sistem, walau sebagai salah satu faktor di antara faktor lainnya.

Sistem mempengaruhi paradigma. Tujuannya barangkali baik, tapi paradigma yang terbentuk sangat buruk. Contohnya, ujian kelulusan yang tujuannya jelas baik, agar punya kompetensi standar atau minimal. Paradigma masyarakat memburuk, karena pendidikan dianggap lembaga formalistik dan kehilangan fungsi utamanya : mendorong belajar sepanjang hayat.

“Standar” atau “kompetensi minimal”, menyisakan masalah besar. Selain pembelajaran menjadi hampa karena sudah tidak lagi berupa ketertarikan terhadap apa yang dipelajari, juga menggeser motivasi belajar menjadi motivasi sekedar lulus.

Lihat saja, sekolah-sekolah begitu bersemangat mengadakan try out hinga puluhan kali. Serasa berlomba-lomba menjadi yang terbaik, di nilai ujian. Parahnya, regulasi dinas pendidikan pemerintah daerah menggunakannya untuk seleksi masuk di tingkat berikutnya.

Tanpa sadar, cara pandang “lulus atau tidak lulus” menyelimuti suasana psikologis di kelas. Lulus identik dengan pujian, tidak lulus dengan celaan. Semakin ditekan dengan berbagai latihan soal, semakin membawa ke anggapan: benar agar dipuji, salah akan dicaci.

Takut salah itu bukan genetik. Bayi amat suka mencoba-coba, dan selalu melakukan kesalahan namun tetap senang. Bahkan, orang dewasa di sekitarnya juga senang dan tak menyalahkan. Benar bukan?

Semakin meninggi tingkat pendidikan, di Indonesia terutama, semakin pasif. Memang tidak bisa digeneralisir, tetap ada sekolah-sekolah anti mainstream seperti Pondok Pesantren Gontor yang diceritakan ustadz tadi. Namun, secara umum, begitulah keadaan kelas-kelas di Indonesia.

Sebenarnya, sudah ada arah perubahan sistem yang lebih baik, termasuk perubahan kurikulum. Namun, sayangnya ranah pendidikan masih sangat bergantung situasi politik. Ganti menteri, ganti kebijakan dan seringnya mundur ke belakang. Masih ingat ketika Mendiknas Anies Baswedan membatalkan berlakunya kurikulum baru dengan alasan sekolah-sekolah belum siap?

Barangkali, memang tidak bisa menggantungkan diri ke pemerintah yang selalu berganti. Bisa dimulai dengan anak sendiri, teman-teman anaknya, atau komunikasi dengan para guru secara formal maupun informal, untuk mengkampanyekan “anti mentertawakan” di manapun situasi dan kondisinya.

Hanya itu yang bisa diusahakan, karena mengubah paradigma para pelaku pendidikan itu seperti memindahkan bukit, perlu waktu dan kerjasama, serta tentu saja kekuasaan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional.
*Penulis adalah mantan guru SD

Langganan berita lewat Telegram
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Muhammad Hanif Priatama
Penulis bebas yang bebas menulis untuk belajar menjadi manusia sesungguh-sungguhnya
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Loading...

TANGGAPAN TERBANYAK

TERPOPULER