Ingin Menulis di WARGA SERUJI? Klik disini

Presiden Efisien

Rakyat ingin punya presiden yang bisa membawa rakyat makmur. Presiden macam apa? “Presiden efisien” barangkali yang bisa. Efisien dalam kerja. Tahun 2019, itukah yang diharapkan?

Kala zaman orla, presiden Indonesia hanya semacam, Presiden Soekarno. Sekarang, banyak pembanding. Dari Soeharto hingga Joko Widodo. Mantan militer, sipil intelektual, kyai, hingga sipil pengusaha. Lengkap.

Harapan rakyat, ganti-ganti presiden semoga cocok. Ganti presiden agar segar dan bugar dalam bekerja, tak menua dalam jabatan. Agar efisien dalam bekerja.

Efisien berarti hemat sumber daya, atau devisa. Kabinet mini kerja maksi. Menteri sedikit, namun kerja penuh dan hampir semua hal bisa teratasi. Tidak sempat nyanyi-nyanyi buat grup band aka kabinet.

Efisien berarti sesuai dengan posisi. Memberi instruksi bukan ambil kerjaan para lurah bagi-bagi. Sesekali bolehlah, untuk menarik simpati, bukan untuk cari suara pilpres nanti.

Sudah tidak pada tempatnya presiden sering turun unjuk diri. Ada banyak bawahan yang menunggu instruksi, bukan ditinggal kerja semaunya sendiri. Presiden dekat dengan rakyat itu baik, tapi lebih baik sibuk memberi komando para bawahannya, sesama pelayan rakyat.

Kunjungan-kunjungan bisa dilimpahkan, biar irit tak bawa-bawa pengawal sebegitu banyaknya. Ada menteri, ada dirjen, ada kepala dinas, ada camat. Cukup efisienkan instruksi dan pelaporan. Anak buah tak akan pernah bekerja tanpa dipercaya sepenuhnya.

Sudah banyak pemimpin di beberapa negara, dicintai rakyatnya, tapi membuat sengsara karena kebijakannya. Cinta buta. Pintar mencari simpati, nol kompetensi.

Adakah orang-orang yang bisa jadi “presiden efisien”? Kalangan militer terlatih bekerja dan bertindak efisien, banyak. Kalangan pengusaha, terutama sukses karena kerja keras, banyak. Kalangan akademisi yang berprestasi, banyak.

Namun, orang-orang yang terkenal saat ini, lebih banyak yang tidak efisien, apalagi kelola negara. Tipe selebriti, banyak gaya kurang “kerja” (kerjanya memang dengan bergaya). Sehari-hari cari simpati demi rezeki. Parahnya, hanya dengan terkenal bisa menjadi pemimpin negeri.

Kisah sebuah negeri impian, tanpa raja, rakyat bagai raja. Jalan rusak segera diperbaiki, bencana segera tertanggulangi. Siapa yang kerja-kerja-kerja, bahkan tak terdengar siapa dia, seperti automatic teller machine.

Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Muhammad Hanif Priatama
Penulis bebas yang bebas menulis untuk belajar menjadi manusia sesungguh-sungguhnya
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TANGGAPAN TERBANYAK

TERPOPULER