Ingin Menulis di WARGA SERUJI? Klik disini

PR, Hak atau Kewajiban?

PR, istilah yang sangat familier di telinga anak sekolah. Familiernya sebagai beban, seperti “kewajiban”. Sering pula ada hukuman bila tidak mengerjakan, atau hal lain yang menekan. Hampir tak ada yang menganggapnya hak.

Paradigma tentang PR ini menentukan hasilnya. Jika dinilai sebagai kewajiban peserta didik, maka menandakan model pendidikan yang dianut masih terpusat pada guru (teacher centered). Model ini menuntut keseragaman, sesuai pandangan guru. Bentuk PR pasti juga tidak memberi ruang kreatifitas yang luas.

Contoh PR teacher centered: soal-soal latihan, atau tugas-tugas dari buku.

Loading...

Dampak PR model ini membuat peserta didik ‘tertekan’, dan memiliki penyimpangan motivasi. Yang sebelumnya mungkin tertarik dengan pelajaran, menjadi hanya sekedar agar dipandang guru, atau lebih berat lagi sekedar agar tidak disalahkan.

Barangkali ada yang membela diri, “Bukankah harus terlatih berada di bawah tekanan? Biar tidak jadi anak manja.” Sepertinya benar, namun kualitas PR yang rendah dengan tekanan “kewajiban” hanya menghasilkan orang yang “malas” berpikir, dan membenci subyek yang harus dipelajari. Ini tidak mendidik.

Dari sisi guru, paradigma “PR adalah kewajiban” itu seperti memindahkan beban yang menjadi tanggungjawabnya ke peserta didik. Hal ini membuat guru berlomba-lomba memberi PR banyak-banyak, dengan kualitas seadanya. Jelas, guru tak akan sempat membuat PR yang berkualitas bila kuantitasnya berlebihan.

Bagaimana kalau paradigmanya diubah, bahwa PR adalah hak peserta didik? Bila PR dipandang sebagai hak peserta didik, guru tidak bisa sembarangan membuatnya, atau akan “dituntut”. Atau, bila PR tidak berkualitas, peserta didik boleh menolak mengerjakannya.

Karena hak, peserta didik bahkan bisa “menuntut” guru untuk membuatkannya. Menuntut adalah tanda bahwa peserta didik membutuhkan sesuatu, dan gurulah yang berkewajiban membantu. Membutuhkan alat bantu belajar, karena motivasi mempelajari suatu subyek pembelajaran.

Hanya guru yang bersikap “melayani” yang menganggap PR adalah hak peserta didik. Guru yang demikian, memberi PR ketika diminta, dan menyerahkannya ke peserta didik apakah akan dikerjakan atau tidak. Guru seperti ini, akan selalu berusaha membuat PR yang berkualitas, yang memang menjadi alat bantu yang dibutuhkan peserta didiknya.

Langganan berita lewat Telegram
Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Muhammad Hanif Priatama
Penulis bebas yang bebas menulis untuk belajar menjadi manusia sesungguh-sungguhnya
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TANGGAPAN TERBANYAK

Semen Gresik Kosong Meski Harganya 70 Ribu

Riba

Musnah Karena Riba

TERPOPULER

Riba

Musnah Karena Riba

Semen Gresik Kosong Meski Harganya 70 Ribu

pemimpin

Memilih Pemimpin

close