Ingin Menulis di WARGA SERUJI? Klik disini

Narasi Prof Mahfud MD Tentang “Partai Lahirkan Koruptor”, Picu Kejahiliyahan?

Belum lama, Prof Mahfud membuat narasi bahwa PKS adalah partai yang “melahirkan koruptor” besar. Narasi tersebut muncul sebagai reaksi kepada kader PKS yang menyinggung masalah gaji Dewan Pengarah BPIP. Walau kemudian ketua PKS menjelaskan telah melakukan klarifikasi secara pribadi, narasi sudah tersebar dan berdampak dalam perbincangan di media sosial.

Narasi “melahirkan koruptor” mengandung tuduhan serius, bahwa partai tertuduh sengaja menciptakan koruptor. Andai pihak partai mengajukan tuntutan hukum pencemaran nama baik, sangat mungkin terpenuhi.

Di lain pihak, Prof Mahfud MD menanggapi kader PKS tidak secara perseorangan. Bisa jadi kader PKS yang dimaksud memang “mengatasnamakan” sebagai PKS itu sendiri, walau tidak disadari, sehingga tanggapan Prof Mahfud akhirnya seperti berhadapan dengan PKS, bukan kader secara perseorangan.

Loading...

Media sosial yang sudah terpolarisasi berat seperti saat ini, ketika mendapat narasi yang terlihat sepihak tentu seperti memantik api di atas minyak. Muncullah “pembelaan-pembelaan” atas nama golongan, bahkan dengan membanding-bandingkan dengan golongan lain.

Salah satu yang dimunculkan, adalah info grafik data politisi yang terlibat korupsi. Kebetulan, peringkat terbanyak politisi yang terkena kasus korupsi sejak tahun 2014 hingga 2017 adalah partai berkuasa, PDIP. Pembelaannya, bukankah seharusnya partai yang paling banyak mendapatkan gelar “melahirkan koruptor” adalah yang paling banyak terkena kasus korupsi?

Dan pembelaan itu menuai perlawanan balik. PKS, yang dikenal sebagai partai dakwah, diserang karena “dakwah” yang melekat dalam dirinya. Narasinya: “partai dakwah mengapa korupsi? Pakai kode juz dan ayat lagi! Munafiq!”

Jika diperhatikan dengan cermat, perdebatan itu sangat terkait dengan posisi masing-masing netizen sebagai bagian dari kelompoknya. Mulai dari sekedar mencantumkan jargon atau bahkan nama partai di akun miliknya, atau dengan narasi-narasi yang keluar di dunia maya. Dengan sangat mudahnya, istilah-istilah seperti berikut muncul : “kaum cebong vs kaum bani onta”, dan lain sebagainya.

Fatalnya ada pada masing-masing yang meletakkan dirinya secara salah, menganggap dirinya atas nama kelompok. Bisa jadi karena sengaja berlindung di balik kelompok, atau secara tak sengaja selalu punya kesamaan narasi dengan kelompok. Narasi “partai melahirkan koruptor” juga mengandung kesalahan logika semacam itu. Yang seharusnya : “sebagian tidak berimplikasi seluruhnya”.

Maka, ketika kemudian muncul anggapan bahwa narasi “partai melahirkan koruptor” itu PDIP, sejatinya menggunakan logika yang sama dan keliru. Inilah akibat jika seorang tokoh publik mengutarakan logika yang keliru, akan dicontoh oleh khalayak. Bisa termasuk memberi contoh berbuat bodoh, atau jahil.

Dan sesungguhnya, Nabi Muhammad saw pernah memperingatkan sahabat-sahabatnya, ketika suatu saat muncul perdebatan kecil dengan membawa nama suku-sukunya. Nabi menyebutnya sebagai perilaku zaman jahiliyah.

Bahkan, jika sudah terkait dengan keyakinan agama, kecenderungan “bergolongan” disebut sebagai perbuatan kemusyrikan, jika kemudian masing-masing bangga terhadap golongannya.

Bahaya “bangga terhadap golongan” yang telah nyata diajarkan dalam Islam, bisa mudah dipahami: munculnya kedengkian dan fanatisme. Hasilnya, logika tidak jalan, ego didahulukan.

Zaman ketika polarisasi merajalela dengan segala golongannya, itulah saat fitnah bisa menerpa siapa saja. Nasihat Baginda Rasulullah ketika zaman itu datang, cukup sederhana: pegang kebenaran walau sendirian. Sekali lagi, sendirian bukan berkelompok.

Dan itu bisa dimulai dengan menyuarakan atas nama diri, tidak mewakili siapapun. Berani? Bisa?

Langganan berita lewat Telegram
Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Muhammad Hanif Priatama
Penulis bebas yang bebas menulis untuk belajar menjadi manusia sesungguh-sungguhnya
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TANGGAPAN TERBANYAK

Semen Gresik Kosong Meski Harganya 70 Ribu

Riba

Musnah Karena Riba

TERPOPULER

Riba

Musnah Karena Riba

Semen Gresik Kosong Meski Harganya 70 Ribu

pemimpin

Memilih Pemimpin

close