Pak Dhe Juli bukan tokoh, bukan siapa-siapa, sudah berumur. Tapi, dia suka bergaya. Karenanya, dia selalu menjadi perhatian di kampung, untuk “sesegaran” suasana, hiburan rakyat murah meriah.

Suatu kali, Pak Dhe lihat anak-anak muda turing pakai motor. Keren. Terbersitlah niat untuk ikut-ikutan, ‘momotoran‘ sebutannya. Keren, sepertinya.

Di rumah, hanya ada satu motor, yang dipakai ke sawah oleh keponakan. Tak hilang kreatif, Pak Dhe Juli bongkar habis motor itu tinggal kerangka. Keren pikirnya. Segera kemudian ambil jaket jins dan celana comprang ala anak muda, tak lupa kaca mata hitam dan helm ala marinir.

Melajulah Pak Dhe Juli ke jalan raya. Tragis, tak lama kemudian acara ‘momotoran’ tunggal harus berhenti di sebuah lokasi operasi kendaraan oleh polisi. Sambil heran dan ketawa-ketiwi, Polisi menginterogasi Pak Dhe Juli yang kehilangan gaya serta planga-plongo.

Kisah fiksi Pak Dhe Juli barangkali terjadi di dunia nyata dengan pelaku yang mirip-mirip. Keinginan menarik perhatian orang lain tak serta merta membuat nasib menjadi lebih baik. Bahkan, ketika dilakukan secara berlebihan, hanya akan dilihat seperti kelakuan anak-anak yang tak berpikir secara dewasa, walau sudah tua.

Masih mending dengan Pak Dhe Juli, yang hanya ingin sekedar menarik perhatian. Lebih berbahaya lagi jika ada kepentingan lain, seperti mencoba mempengaruhi orang-orang agar bertindak sesuai keinginannya. Misal, bagaimana anak-anak muda begitu mudahnya diajak nongkrong, merokok, dan lainnya karena diiming-imingi ‘gegayaan‘ secara bawah sadar.

Barangkali apa yang seperti dilakukan Pak Dhe Juli ini benar-benar berhasil meraih perhatian, namun kualitas citra Pak Dhe Juli tidak lebih sekedar hiburan, tak ada kepercayaan kecuali hanya pada sifat-sifat tertentu yang tak berdampak besar bagi lingkungan. Ia tak mungkin dipercaya menjadi duta kampung, misalnya. Apalagi menjadi pimpinan.

Kebaikan, kejujuran, dan loyalitas kepada kampung mungkin tak diragukan. Namun, kapasitasnya dianggap sebagai sekedar “penghibur” warga, lain tidak. Kalau memilih pimpinan, ketua RW misalnya, tentu warga lebih setuju jika yang terpilih adalah orang yang memiliki citra kepribadian kuat alias tidak mudah dipengaruhi, integritas istilah kerennya walau tidak tepat-tepat amat.

Bila ujungnya “kedudukan” yang dicari, barangkali sebagian orang akan gelap mata dan melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Pak Dhe Juli. Inilah titik yang seharusnya ditekankan oleh setiap orang. Niat awal seharusnya: kebaikan untuk semua, utamanya setelah ia menduduki jabatan.

Orang yang punya niat kebaikan untuk semua, bersegera menghilangkan nafsu jabatan ketika paham jika dirinya bakal menyengsarakan banyak orang saat menjabat kelak. Mundur, menjadi langkah terhormat, seperti banyak terjadi di negara-negara berperadaban atau etika yang tinggi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

loading...
BACA JUGA

TULISAN WARGA TERBARU

Faedah Mendekati Ulama

Sebagaimana diriwayatkan, bahwa Imam Al-auza`i adalah seorang alim, ahli fiqih yang bijak, dan murid-murid beliau sangat banyak, karena beliau terkenal sangat akrab dengan para...

SP3 HRS, Penyidikan Dihentikan?

Kasus yang menimpa Habib Rizieq Shihab (HRS) tergolong unik. Dari sejak percakapan berbau porno yang dituduhkan kepadanya, entah siapa pembuatnya, hingga proses pemberitaan masif...

Terserah Staquf Mau Apa, Israel Pasti Bela Kepentingan Negaranya

Staquf, salah seorang Wantimpres, yang diundang dan mau datang ke Israel, saat kekerasan di Gaza meningkat, menimbulkan pro kontra. Akankah kedatangannya membuat Israel...