Ingin Menulis di WARGA SERUJI? Klik disini

Meng-“Hoax”-kan Saracen

Pengadilan memutuskan, Jasriadi tidak terbukti menebar kebencian dan kabar hoax. Jasriadi hanya didakwa telah melakukan kegiatan ilegal berupa menggunakan akun milik orang lain tanpa izin. Apakah ini bukti hasil kerja meng-hoax-kan Saracen?

Baca : Tidak Terbukti Sebarkan Ujaran Kebencian,  Admin Saracen Hanya Divonis Akses Ilegal Akun FB 

Di banyak media, tahun 2017, marak pemberitaan tentang Saracen yang diduga menerima dana untuk penyebaran ujaran kebencian. Darimanakah media-media tersebut mendapatkan sumber berita? Jika benar mematuhi etik jurnalistik, maka ada sumber yang “terpercaya” yang membuat media berani memberitakannya.

Pertanyaannya, sumber itu sengaja menginput hoax ke media? Saracen bisa jadi benar ada, namun tuduhan ke Saracen belum tentu benar adanya. Keputusan pengadilan bahkan menegaskan bahwa timbul peristiwa disintegrasi bangsa akibat pemberitaan tentang Saracen yang terlalu berlebihan.

Apakah ada intervensi kepada hakim?  Jika dilihat dari sosok seorang Jasriadi, rasanya sangat tidak mungkin. Memang beberapa saat yang lalu dunia peradilan serasa diguncang ketidakpercayaan karena penangkapan hakim oleh KPK, namun kasusnya melibatkan ‘orang kuat’, bukan sekelas Jasriadi.

Kalau demikian, memang benar ada pihak yang punya kepentingan memanfaatkan grup-grup di media sosial, terutama yang punya argumentasi berseberangan, untuk dijadikan ‘pelaku’, kemudian di blow up di media massa.

Kejadian hampir serupa, beberapa, karena suatu kesalahan namun dibumbui dengan berita heboh. Tuduhan publik tak terbukti atau belum terbukti, tapi sudah terjadi pembunuhan karakter. Lebih berat lagi dampaknya di masyarakat, yakni terjadi polarisasi yang semakin menguat bahkan di ranah menyinggung SARA.

Maka benar kekhawatiran hakim jika kasus-kasus yang sederhana menjadi berbahaya ketika dibingkai niat jahat pembusukan karakter.  Dari mana? Biasanya, isu buruk seperti ini terjadi di dunia adu rebut kekuasaan.

Dan pihak yang sulit terjamah hukum adalah pihak yang paling mudah dan aman menebar hoax.  Normal. Lumrah. Gawatnya, terang benderang terbaca publik, membuat semakin hilang kepercayaan antar anak bangsa. Satu pihak diproses cepat, pihak berseberangan hilang  kabar kasusnya tak berbekas.

Apakah sejarah raja-raja tanah Jawa yang tumbang akibat pertikaian saudara tidak menjadi pelajaran? Jika tidak, tak usah menunggu 2030 untuk Indonesia bubar.

 

Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Muhammad Hanif Priatama
Penulis bebas yang bebas menulis untuk belajar menjadi manusia sesungguh-sungguhnya
loading...

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TANGGAPAN TERBANYAK

TERPOPULER