The Muslim 500 kembali menempatkan Presiden Jokowi sebagai salah satu muslim berpengaruh di dunia. Raja Juli Antoni, Sekjen PSI, memberi ucapan selamat melalui pernyataan tertulisnya. Namun, tindakan memuji peringkat Jokowi ini dilihat oleh beberapa pengamat sebagai menjilat.

PSI partai baru, berisi anak muda, tapi sudah sejak awal dikenal sebagai pendukung kekuasaan. Vokal dan kritis hanya ke oposisi. Pernyataan Sekjen PSI memuji presiden Jokowi ini jadi bukti mutakhir.

Presiden Jokowi di tahun 2014-2016 berada di peringkat 11, 2017 turun ke peringkat 13, sekarang tahun 2018 peringkat 16. Apakah Raja Juli Antoni tidak melihat penurunan ini? Atau tahu tapi tidak peduli? Yang jelas, sudah kehilangan daya kritis atas penguasa sehingga bersegera puja-puji, dan hanya berhenti di angka 16 per 500.

Tentu, peringkat 16 dunia per 500 tokoh patut diapresiasi, namun bukan ajang cari muka dan kehilangan sikap kritis, apalagi masih muda. Penurunan peringkat menunjukkan turunnya peran Presiden di arena dunia Islam, padahal Indonesia negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Penurunan ini perlu dikritisi, sebagai masukan yang baik, bukan malah memberi pujian yang melenakan.

Sebagai partai politik yang secara konstitusional sah untuk berebut porsi kekuasaan, PSI seharusnya tetap berada dalam bingkai memperbaiki demokrasi membangun. Partai itu pondasi kekuasaan legislatif, yang nantinya berkedudukan sebagai pembuat hukum dan pengawas. Apa jadinya jika menjadi bagian kekuasaan dan sekadar puja-puji?

Indonesia sudah terjerembab dalam korupsi. Sedangkan korupsi berasal dari kekuasaan (power) yang terlalu besar karena ketiadaan pengawasan. Apakah PSI berencana seperti ini? Menjadi bagian dalam kekuasaan tanpa sikap kritis dan sekedar berbagi kue kekuasaan? Sama saja mendukung korupsi kalau demikian.

Jika PSI mendekat kepada Jokowi dengan praktek-praktek seperti ini dan tidak dihentikan, niscaya tidak ada manfaatnya, bahkan membuat elektabilitas semakin mangkrak. Bagi PSI, juga bagi Jokowi.

Kritik, bahkan sepedas apapun, selalu mampu menegakkan kewibawaan. “Aku luruskan dengan pedangku, wahai khalifah, jika engkau menyimpang!” kata seorang anak muda. Khalifah Umar bin Khaththab ra pun membalas bahwa anak muda seperti inilah yang dibutuhkan, bukan para penjilat. Kewibawaan kepemimpinan menjadi tegak sempurna.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

loading...
BACA JUGA

TULISAN WARGA TERBARU

Belajar dari Iwan Fals: Kedewasaan tak Selalu Linier dengan Usia

"Tadinya mau puasa ngetwit sampai lebaran, tapi begitu baca berita ini batal dah puasanya... https://t.co/HD9UiTnX9P " twit Iwan Fals melalui akun twitternya pada 10...

Faedah Mendekati Ulama

Sebagaimana diriwayatkan, bahwa Imam Al-auza`i adalah seorang alim, ahli fiqih yang bijak, dan murid-murid beliau sangat banyak, karena beliau terkenal sangat akrab dengan para...

SP3 HRS, Penyidikan Dihentikan?

Kasus yang menimpa Habib Rizieq Shihab (HRS) tergolong unik. Dari sejak percakapan berbau porno yang dituduhkan kepadanya, entah siapa pembuatnya, hingga proses pemberitaan masif...