close
Ingin Menulis di WARGA SERUJI? Klik disini

Kode Gelang, Kalajengking dan Elektabilitas: Sisi Buruk Demokrasi

Mustofa Nahrawardaya, seorang netizen aktif, secara mengejutkan menyampaikan analisisnya pada Rabu (2/5) di salah satu acara televisi swasta, terkait peristiwa di CFD yang lalu. Peristiwa itu sendiri bukan sesuatu yang istimewa, namun entah mengapa menjadi perhatian media-media nasional. Ia memberi kata kunci gelang, sebagai kode.

Mengapa hal yang sepertinya sepele ini jadi perhatian media-media nasional? Apakah media nasional sudah tidak lagi menjadi “common isue” dan sekedar mengikuti isu-isu di media sosial? Atau bahkan, semoga saja tidak, sekedar menjadi “pesanan” pihak-pihak yang punya kuasa? Kalau iya, berarti tanda kemunduran dunia pers nasional.

Sebelum peristiwa tersebut, memang marak di media sosial dengan kaos bertuliskan #2019GantiPresiden, yang pada ujungnya banyak para netizen dari berbagai kota sepakat menggunakannya di acara Car Free Day (CFD). Pada awalnya, tagar #2019GantiPresiden tidak populer, hingga kemudian Presiden Jokowi mengomentari kaos tersebut dan kemudian viral di media sosial.

Loading...

Apakah karena tagar dan maraknya orang-orang menggunakan kaos bertuliskan #2019GantiPresiden tersebut sehingga peristiwa di CFD terjadi? Menurut analisa Mustofa Nahrawardaya, ada kesamaan antara pelaku dan korban, menggunakan gelang yang sama. Atribut khusus memang diperlukan untuk operasi di tengah masa, agar mengetahui mana kawan dan mana lawan. Apakah memang ada operasi “pembusukan” untuk melawan tagar #2019GantiPresiden?

Jika peristiwa tersebut ditindaklanjuti secara hukum, maka mungkin kebenarannya akan terkuak. Tapi, apakah benar hal yang sepele ini perlu dijadikan perhatian seluruh masyarakat? Bukankah ini hanya terkait elektabilitas seseorang yang bukan urusan darurat negara?

Sepertinya, memang rakyat Indonesia belum dewasa berdemokrasi, sehingga hanya sisi buruk demokrasi saja yang terimplementasikan. Berkubu tiada henti, padahal pilpres sudah berlalu.

Sayangnya, Presiden yang seharusnya bisa mencegah hal ini tidak terjadi, malah menguatkannya. Presiden Jokowi walau sudah menjabat empat tahun ini, selalu mengikuti wacana-wacana yang dimunculkan oleh pendukungnya saja. Dampak pilpres? Mungkin.

Bisa jadi, para pendukung presiden yang mungkin sekarang menikmati sebagian kekuasaan, tidak ingin kehilangan dan kemudian berusaha agar Presiden Jokowi terpilih kembali. Namun, paradigmanya tidak menggunakan sisi demokrasi positif, hanya mengejar elektabilitas. Tidak heran, kemudian Presiden Jokowi melakukan serangkaian kegiatan untuk menarik perhatian khalayak, barangkali karena disarankan oleh para pendukungnya.

Dan tagar #2019GantiPresiden menjadi antitesisnya.

Beberapa hari sebelumnya, kata kalajengking juga menjadi populer, dikalangan netizen, setelah Presiden Jokowi menggunakannya sebagai gurauan saat pidato. Sontak, para netizen segera ramai mengomentari, secara positif dan negatif.

Sebagai rakyat, karena banyak mulut, tentu akan menyuarakan apa yang diinginkan. Presiden, sebagai pejabat publik, tentu akan dinilai. Rakyat akan selalu kritis, apabila apa yang dilakukan presiden sebagai pejabat publik tidak sesuai dengan ekspektasi. Kalau tidak memenuhi ekspektasi, tentu gurauan kalajengking jadi olok-olokan. Suram.

Demokrasi itu kekuasaan rakyat, seharusnya. Tapi, suara rakyat ditebak-tebak, dengan berbagai survei. Bahkan, bisa jadi “direkayasa” dengan teknik komunikasi massa. Beberapa pihak mencoba menjadi tirani, atas nama demokrasi. Disinilah terjadi benturan, antara ekspektasi dengan elektabilitas.

Elektabilitas bagi calon yang belum menjabat, mungkin bisa dengan polesan citra dan janji politik, memenuhi ekspektasi walau masih fiksi. Namun, bagi pentahana, elektabilitasnya bergantung pada kebenaran citra dan terpenuhinya ekspektasi khalayak. Hanya saja, banyak pendukung pentahana tidak menyadarinya, hanya mencoba membangun narasi untuk memoles citra, atau menangkis narasi lawan.

Inilah disebut demokrasi tidak dewasa. Relawan berubah menjadi pendukung abadi. Dengannya, sekat antar rakyat dibuat. Sayangnya, pendukung abadi disayang-sayangi. Hancurlah ekspektasi khalayak.

Coba, bayangkan, andai Presiden Jokowi turun ke jalan, berselfi ria dengan pemakai kaos #2019GantiPresiden. Selain demokrasi bertambah dewasa, citra diri juga menguat. Sayang, pendukungnya sudah buta.

Barangkali, perlu diterapkan agar relawan membuat janji di atas materai, meninggalkan status relawan setelah pilpres 2019 usai?

Langganan berita lewat Telegram
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Muhammad Hanif Priatama
Penulis bebas yang bebas menulis untuk belajar menjadi manusia sesungguh-sungguhnya
loading...

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Loading...

TANGGAPAN TERBANYAK

TERPOPULER