close
Ingin Menulis di WARGA SERUJI? Klik disini

Kepemimpinan Berbasis Kompetensi

Tahun 2019 adalah tahun politik, begitulah adanya. Hal tersebut terkait dengan penyelenggaraan Pemilihan Presiden yang akan diselenggarakan di tahun 2019. Salah satu proses demokrasi yang tujuan akhirnya untuk memilih seorang pemimpin. Tak bisa dipungkiri bahwa proses memilih pemimpin tersebut memang bersifat politik dan politis yang sangat kental, mengingat sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia memang mempersyaratkan individu yang ingin maju dalam kontestasi tersebut mendapatkan dukungan dari partai politik.

Dalam bidang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), tentang suksesi kepemimpinan juga mendapat porsi perhatian yang besar. Tak pelak, mengingat peran pemimpin dan kepemimpinan yang sangat urgentdalam menentukan keefektifan sebuah organisasi atau perusahaan. Bisa dikatakan, secara filosofis, bahwa seluruh bentuk dan jenis assessmen yang dilakukan dalam bidang PIO akan berujung pada upaya untuk menciptakan peran dan fungsi kepemimpinan yang efektif dan efisien.

Sebuah perusahaan atau organisasi yang memiliki jalur untuk menyiapkan dan membentuk pemimpin akan memiliki peluang lebih besar untuk terus bertahan dan berkembang menjadi perusahaan/organisasi yang sukses. Tentang hal tersebut, di sinilah peran assessmen kompetensi yang seringkali dilakukan oleh para praktisi psikologi industri dan organisasi. Kompetensi tidak bisa berdiri sebagai sebab tunggal untuk menghasilkan kinerja yang baik, namun peran kompetensi tak serta merta bisa dikecilkan begitu saja, mengingat fungsi pemimpin dan kepemimpinan yang digerakkan oleh manusia, yang melekat padanya skill, knowledge, dan ability. Secara ringkas, ketiga hal tersebut itulah yang menjadi elemen kompetensi. Sampai di sini mungkin bisa terlihat betapa juga pentingnya membahas mengenai kompetensi dalam hal pemimpin dan kepemimpinan.

Loading...

Jadi, sebenarnya kompetensi itu apa dan bagaimana?.

Kompetensi merujuk kepada karakteristik yang mendasari perilaku yang menggambarkan motif, karakteristik pribadi, konsep diri, nilai-nilai, pengetahuan, keahlian, dan keterampilan. Intinya adalah kompetensi berbicara tentang orang itu seperti apadan apa yang dapat mereka lakukan. Kompetensi merupakan karakter dasar orang yang mengindikasikan cara berperilaku atau berpikir, yang berlaku dalam cakupan situasi yang sangat luas dan bertahan untuk waktu yang lama. Kompetensi memiliki sifat kausalitas, artinya keberadaan suatu kompetensi dan pendemonstrasiannya bersifat prediktif. Kompetensi yang berupa motif, sifat, dan konsep diri memprediksikan keterampilan dan tindakan, yang kemudian bisa memprediksi hasil kinerja. Kompetensi selalu mencakupintent atau maksud, yaitu motif yang mendasari sebuah perilaku yang membuahkan hasil. Pemimpin yang memiliki motif untuk taking responsibilitypasti akan menunjukkan respon yang berbeda dengan pemimpin yang hanya bisa berkata “bukan urusan saya” ketika merespon sebuah kondisi atau kesalahan tim.

Mengapa harus kompetensi?.

Organisasi atau perusahaan membutuhkan orang yang kompeten untuk mencapai hasil secara efektif dan efisien. Pemahaman bersama mengenai urgensi kompetensi bisa menghadirkan kesadaran penjaminan mutu dari organisasi/perusahaan untuk memastikan orang-orang yang berada dalam organisasi/perusahaan adalah orang-orang yang kompeten. Kompetensi juga mendukung pencapaian tujuan strategis organisasi/perusahaan, karena bisa menciptakan visi misi yang jelas dan langkah-langkah pencapaian yang sistematis, detail, dan terukur. Jika fokus pada personal, maka keberhasilan seseorang di sebuah posisi pada masa lampau tidak akan menjadi jaminan untuk bisa sukses di posisi saat ini dengan level yang berbeda. Dalam hal promosi jabatan, kesalahan fatal yang sering dilakukan adalah mempromosikan seseorang berdasarkan hasil masa lalu, bukan pada kompetensi yang dibutuhkan di posisi baru tersebut.

Berbicara tentang kepemimpinan, seorang pemimpin dituntut untuk memiliki kompetensi yang telah dipersyaratkan untuk mencapai kinerja yang unggul. Dalam organisasi/perusahaan yang menerapkan manajemen berbasis kompetensi, keputusan promosi jabatan di fungsi-fungsi kepemimpinan akan didahului dengan assessmen yang cukup mendetail dan terdiri atas beberapa metode, biasanya dikenal dengan istilah Assessment Center. Di dalamnya ada psikotes, analysis case, in tray exercise, leaderless group discussion, business game, role play, danbehavioral event interview. Hasil dari proses assessmen tersebut yang akan dikuantifkasikan dalam sebuah skala untuk mendapatkan posisi kompetensi kandidat dalam kaitannya dengan kompetensi yang dibutuhkan. Proses kuantifikasi ini yang sering dikenal dengan istilah levelling competency.

Berdasarkan pengalaman penulis selama berkecimpung sebagai praktisi/psikolog di bidang psikologi industri dan organisasi (PIO), beberapa organisasi/perusahaan mampu secara jeli menetapkan role competency yang sifatnya wajib dimiliki oleh individu dengan fungsi pemimpin, sepertiAchievement Orientation, Impact and Influence, Developing Others, Directiveness, Quality Orientation, Organizational Awareness, Team Leadership, Analytical and Conceptual Thinking, dan Self Control.

Tatkala upaya untuk menemukan dan memilih pemimpin berdasar pada kompetensi yang dimiliki, maka tentu saja disana ada harapan untuk masa depan yang lebih baik. Proses memilih dan/atau menyodorkan pemimpin tidak lagi bersifat transaksional semata, tetapi mendasari pada orang itu seperti apadan apa yang dapat mereka lakukan. Terkait tahun 2019, kita tidak akan sedang memilih seorang idol-pop yang berdasar pada popularitas belaka, jumlah sms yang dikirim, atau meriahnya yel-yel. Paradigma berbasis kompetensi tidak hanya menjadi “pekerjaan rumah” bagi partai-partai politik yang secara konstitusional diberi wewenang menjadi wasilah bagi seseorang untuk menjadi presiden, tapi juga bagi diri kita masing-masing sebagai pemegang mandat, pemilik suara, karena suara kita adalah suara Tuhan, begitulah kata Demokrasi. Maka, jangan menuntut partai politik untuk tidak “menjual” figur hanya berdasar popularitas dan pencitraan belaka jika kita sebagai “pembeli” justru belum mau beranjak masuk ke dalam paradigma kepemimpinan yang berbasis kompetensi.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri”. QS. Ar Ra’d: 11

Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik’. QS. Az-Zukhruf :54

Ada ungkapan penuh hikmah yang patut untuk direnungkan, yaitu bahwa “kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian.

Langganan berita lewat Telegram
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Loading...

TANGGAPAN TERBANYAK

TERPOPULER