2018 dan 2019 adalah tahun politik yang hangat dengan janji-janji caleg, cakada, bahkan capres. Apalagi era kekinian telah menjamur smarhphone lengkap dengan sosial media yang akan membuat pesta demokrasi semakin hangat. Sosial media akan menjadi tempat ‘berperang’ yang panas. Hal ini yang membedakan dengan pesta demokrasi yang terjadi pada dekade sebelumnya.

Dengan adanya sosial media, setiap orang akan dengan mudah menjadi buzzer bahkan gratis untuk mendukung jagoannya sekaligus menghabisi lawannya. Maka, bisa diprediksi bahwa perang opini di sosial media akan terasa lebih panas daripada sebelumnya.

Hal yang tak bisa ditinggalkan adalah janji manis para caleg, cakada, maupun capres. Kita sebagai pemilih harus cerdas memilih. Sebab pilihan kita akan menentukan nasib kita berikutnya (terlepas dari takdir Allah), apakah semakin sejahtera atau semakin menderita.

Belajar dari pengalaman. Boleh saja kita optimis. Percaya pada janji-janji manis. Namun kita juga harus realistis. Kita harus menilai, apakah janjinya itu masuk akal atau sekedar asbun alias asal bunyi.

Misalnya ada yang berjanji tidak akan bagi-bagi kekuasaan. Ini sangat tidak masuk akal, kecuali dia calon independen. Mana mungkin diusung partai kok nggak bagi-bagi kekuasaan? Dari sini kita mestinya paham, bahwa ia sedang asbun, karena yang disampaikan tidak logis. Berikutnya kita perlu hati-hati dengan janji-janji yang diucapkan. Jangan-jangan asbun juga? 😀

Misalnya lagi janji mau buyback Indosat. Ya musti jelas langkah-langkahnya. Jangan seperti orang berkhayal. Logikanya, apakah pemilik indosat mau cuma-cuma mengembalikan? Nah di sinilah musti jelas gambaran langkah konkrit untuk buyback. Kalau tidak jelas, ya asbun juga namanya.

Misalnya lagi janji ekonomi meroket. Ya mesti jelas dan realistis. Bukan sekedar bumbu penyedap janji. Atau janji 10 juta lapangan kerja. Ini menarik sekali. Kalau tidak bisa dirinci, namanya asbun juga.

Mari realistis dalam menilai janji. Mari memilih pemimpin atau wakil yang janjinya realistis, tidak asbun alias asal bunyi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

loading...
BACA JUGA

TULISAN WARGA TERBARU

Belajar dari Iwan Fals: Kedewasaan tak Selalu Linier dengan Usia

"Tadinya mau puasa ngetwit sampai lebaran, tapi begitu baca berita ini batal dah puasanya... https://t.co/HD9UiTnX9P " twit Iwan Fals melalui akun twitternya pada 10...

Faedah Mendekati Ulama

Sebagaimana diriwayatkan, bahwa Imam Al-auza`i adalah seorang alim, ahli fiqih yang bijak, dan murid-murid beliau sangat banyak, karena beliau terkenal sangat akrab dengan para...

SP3 HRS, Penyidikan Dihentikan?

Kasus yang menimpa Habib Rizieq Shihab (HRS) tergolong unik. Dari sejak percakapan berbau porno yang dituduhkan kepadanya, entah siapa pembuatnya, hingga proses pemberitaan masif...