close
Ingin Menulis di WARGA SERUJI? Klik disini

Inikah Hasil Pendidikan..? Siswa Bisa Pilokan, Tawuran dan Bacokan

Kamis (3/5) dimana pengumuman  hasil kelulusan siswa-siswi SMK atau sederajat dianggap hari yang paling bersejarah dan bahagia. Hari itu, seakan-akan sudah bisa menjawab nasib para generasi muda dalam menentukan hidupnya.

Naas, hari yang sebenarnya menjadi langkah awal dalam menapak kehidupan justru disalahgunakan dan diisi dengan tindakan yang arogan oleh sejumlah siswa. Ironisnya, bagi sebagian guru pendidik justru tidak memperdulikan peristiwa memalukan tersebut yang terjadi berulang-ulang setiap tahunnya.

Di Kabupaten Pati, setidaknya ada tiga titik kerusuhan oleh sejumlah siswa dalam rangka menyambut pesta kelulusan. Kecamatan Gabus, Batangan bahkan Pati Kota sendiri sebagai ajang tawuran.

Loading...

Dalam pantauan penulis, pukul 5 sore, masih ada sejumlah gerombolan siswa berbaju warna-warni dengan pilok kebut-kebutan di jalan lingkar Pati. Meski pihak aparat sudah mengamankan di sejumlah titik rawan, namun hal itu seakan tidak membuat mereka jera.

Melihat peristiwa ini, apa peran guru dalam memberikan bimbingan pada peserta didik selama ini. Pendidikan dan pelajaran macam apa yang selama bapak ibu guru berikan.

Aneh, ketika persoalan puluhan tahun ini makin menjadi-jadi, disisi lain ada semacam pembiaran atas aksi-aksi yang justru sama sekali tidak mencerminkan anak tersebut pernah mengenyam dunia pendidikan.
Lantas, apa fungsi guru dan Dinas Pendidikan selama ini, pernahkah mereka membicarakan kabar kesedihan itu selama ini. Ataukah mereka hanya disibukkan dengan persoalan manisnya gaji yang sangat tinggi, tanpa memperdulikan apa hasil kerjanya selama ini.

Ahmada Fathoni (19) siswa asal Gabus Pati Jawa Tengah, terpaksa harus dilarikan ke RSUD dr. Soewondo Pati karena terkena sabetan benda tajam. Tangan dan kepalanya luka parah terkena bacok hingga tak sadarkan diri.

Masihkan para pendidik tidak peduli dan masa bodoh dalam menyikapi semua itu. Bukankah dalam pendidikan, moral siswa itu jauh lebih berharga ketimbang hanya sekedar bisa berhitung satu ditambah satu sama dengan dua.

Mengapa para pendidik terkesan belum menemukan komposisi mengatasi persoalan tersebut. Padahal banyak celah, misalkan saat pengumuman, siswa dan orang tuanya diundang serta mengadakan suatu acara yang bisa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Cara diatas, menurut penulis itu sederhana namun akan membawa manfaat yang luar biasa. Isilah acara kelulusan dengan rasa syukur, rasa memiliki tanggung jawab serta penguatan terhadap siswa menghadapi tantangan kehidupan selanjutnya.

Katanya SDM para pendidik itu sudah mumpuni dengan gelar seabrek. Jangankan gelar cuma S-1,  S-18 pun jika seorang pendidik tidak mau berpikir kreatif dalam upaya mencetak putra putri bangsa yang bermartabat, pada akhirnya semua itu akan sia-sia belaka.

Langganan berita lewat Telegram
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Suhud Mas'ud
Dewan Pengawas Executiv YATARIS GP Ansor Kotawaringin Barat Pengurus FKUB Pemerhati Budaya Daerah
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Loading...

TANGGAPAN TERBANYAK

TERPOPULER