El Clasico: Partai Allah vs Partai Setan

Jangan baper dulu. Kenapa? karena baper itu melelahkan. Serius lho. Bagaimana tidak melelahkan kalau kita mencoba menginterpretasi terlalu dalam tentang suatu hal tanpa didukung data yang luas. Walhasil menguras emosi, terlebih jika hal itu sifatnya ego threat. Percayalah, baper itu melelahkan!

Kalau tentang El Clasico, bagi penggemar sepakbola, khususnya Liga Spanyol, pasti sudah pada familiar, istilah itu merujuk pada pertandingan antara dua klub sepakbola terbesar dan terkaya di Spanyol, yaitu Real Madrid dan Barcelona. Pertandingan yang sarat gengsi, karena melibatkan “pertarungan” identitas kebangsaan dan nuansa politis lainnya, selain tentunya karena kedua klub tersebut adalah klub yang sarat prestasi dan punya sejarah gemilang. Diksi el clasico pun sering diadopsi penggunaanya, di luar konteks persepakbolaan Liga Spanyol, misalnyael clasico di Indonesia antara Persija vs Persib atau Persebaya vs PSM. Pengadopsian sebuah diksi adalah hal yang lumrah dan sah-sah saja. Untuk dramatisasi misalnya, ataupun karena memang adanya persamaan makna dan sifat yang melekat pada diksi tersebut.

Salah satu el clasico tertua, terklasik, ter-vintage di muka bumi ini adalah pertarungan antara partai Allah melawan partai setan. Kebenaran dan kejahatan adalah dua pihak yang takkan mungkin berdamai, takkan pernah tercapai resolusi damai dalam pertikaian antar keduanya. Sejak awal zaman hingga nanti berakhirnya zaman. Kebenaran adalah jalannya Allah azza wa jalla, sedangkan kejahatan adalah metode setan laknatullah ‘alaih. Siapapun dan apapun yang melazimi metode-metode setan maka menjadi bagian darinya, menjadi musuh Allah, dan takkan pernah mendapati kemenangan yang hqq (hakiki).

Maka sebuah keniscayaan sepanjang umur peradaban manusia akan ditemui pertikaian ini. Pertikaian antara dua kelompok atau golongan, hizbullah melawan hizbussyaithan. Mereka yang senantiasa tunduk patuh taat pada risalah-risalah kenabian, yang senantiasa meyakini kebenaran ayat-ayat ilahiah, tampil membela dan memperjuangkan kebenaran, maka mereka itulah yang disebut hizbullah.

“Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha pada Allah. Mereka itulah hizbullah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah yang akan memperoleh kemenangan.” – QS. Al Mujaadilah: 22

Adapun mereka yang senantiasa tampil mendebati kebenaran, menyeru pada yang mungkar dan berusaha menghalangi pada yang ma’ruf, mengibarkan bendera permusuhan kepada hizbullah, mencela aturan-aturan Allah dan yang menjalankannya, menebarkan kesesatan dan kejahatan di muka bumi ini, maka mereka itulahhizbussyaitan.

“Setan telah menguasai mereka dan menjadikan mereka lupa kepada Allah, mereka itulah hizbussyaitan.Ketahuilah, sesungguhnyahizbussyaitan adalah golongan yanh merugi.” – QS. Al Mujaadilah: 19

Berdasar penggunaan diksi hizbullah dan hizbussyaitan yang ada dalam Al Qur’an, penjelasan terkait adalah tentang sifat atau karakteristik yang ada pada masing-masing. Penjelasan yang ada tidak melakukan pembatasan pada satu bentuk model tertentu. Sehingga bisa dipahami bagi yang beriman pada Allah dan kitabNya, bahwa sampai akhir zaman hizbullah dan hizbussyaitan akan muncul dalam beragam bentuk, bisa tampil sebagai perorangan, kelompok, bahkan dalam jenis kelompok yang keanggotaannya lebih luas, besar, dan banyak. Cukuplah untuk kita beriman, tak perlu baperan.

Dalam bahasa Arab, hizb berarti kumpulan. Dalam kamus Al-Munawwir, hizb berasal dari kata hizbun, yang diartikan sebagai partai, kelompok, golongan, jenis, wirid, bagian, dan senjata. Adapun hizb secara istilah juga biasa diterjemahkan sebagai partai, itulah mengapa partai-partai di negara berbahasa Arab, menggunakan diksihizb, misalnya hizbul hurriyah wal ‘adalahdi Mesir, hizbul al ‘adalah wal bina’ di Libya, hizbul ‘adalah wal tanmiyah di Maroko, atau hizb jabhah al amal al islami di Jordania. Kekayaan arti dan makna dalam kosakata bahasa Arab memiliki maksud tertentu, sehingga menjadi bahasa yang digunakan dalam Al Qur’an. Kekayaan itu membuat konteksnya akan selalu relevan dengan masa kekinian, tidak terhalangi oleh sempit dan terbatasnya arti makna. Kandungan makna dari diksi-diksi yang digunakan dalam Al Qur’an senantiasa kekinian atau sesuai dengan jaman now. Begitulah salah satu cara Allah menepati janji untuk menjaga keotentikan dan kebenaran Al Qur’an.

Dalam konteks bernegara kita di Nusantara, dasar negara kita yaitu Pancasila, mengakui nilai-nilai Ketuhanan menjadi salah satu sendi kehidupan bernegara. Sehingga upaya-upaya untuk memisahkan nilai-nilai ketuhanan dalam bentuk-bentuk kehidupan bernegara kita, adalah mencoreng serta mencederai keutuhan nilai Pancasila. Konteks dan pertikaian el clasico antara hizbullah danhizbussyaitan pasti akan kita temui dalam kehidupan keseharian kita, dalam kehidupan bernegara kita. Maka sebagai umat yang memilih beriman kepada Al Qur’an, memilih meyakini Al Qur’an sebagai panduan yang mengatur segala seluk beluk kehidupan kita, diksi-diksi seperti hizbullah dan hizbussyaitan bukanlah menjadi sesuatu yang mengherankan. Tugas kita adalah mempelajari kandungan dari penjelasan tentang hizbullah dan hizbussyaitan, dengan harapan bisa mengenali yang mana individu, kelompok, golongan, partai yang berkarakteristik hizbullah dan mana yang hizbussyaitan, untuk kemudian menentukan pilihan akan membersamai yang mana, “Partai” Allah (hizbullah) ataukah “Partai” Setan (hizbussyaitan). Itu tentunya menjadi el clasico tersendiri dalam diri kita masing-masing. Wallahu a’lam.

Loading...
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TANGGAPAN TERBANYAK

TERPOPULER

SAVE_20180815_181535

Harapan Jonru Ginting untuk Prabowo Sandiaga

Lewat tulisan tangan yang dia tulis dari Rutan Cipinang. Berikut isi suratnya: Selamat berjuang untuk Prabowo Sandi. Saya dari balik jeruji penjara terus berdoa semoga...
FB_IMG_1534511438425

Bedanya Sandiaga Uno dan Pak Jokowi