close
Ingin Menulis di WARGA SERUJI? Klik disini

Cara Mudah Menciptakan Teroris, dan Menanggulanginya

Tidak sulit, cukup provokasi. Ciptakan “ketidakadilan”, secara nyata atau semu. Itu cara mudah menciptakan teroris. Hanya saja, munculnya teroris ini disengaja atau terjadi alami, bergantung yang punya kekuatan atau kekuasaan.

Semua pasti tahu Pangeran Diponegoro. Tapi, tak satupun setuju bahwa beliau teroris, kecuali keluarga prajurit kolonial Belanda yang dibunuh oleh pasukannya, atau pihak pemerintah kolonial.

Tindakan Pangeran Diponegoro berwujud perlawanan, bergerilya, menyerang tiba-tiba hingga membunuh, persis perilaku teroris. “Teroris” yang tercipta secara alami karena ketidakadilan dari penguasa saat itu. Bagi bangsa Indonesia, beliau pahlawan.

Loading...

Kemajuan ilmu pengetahuan, salah satunya psikologi, memungkinkan tindakan-tindakan tertentu yang mampu mempengaruhi atau mengendalikan perilaku orang lain. Bahkan bisa dilakukan secara masal melalui media. Menciptakan “ketidakadilan” semu, bukan sesuatu yang sulit.

Calon target yang akan dijadikan teroris tentu bukan orang sembarangan. Orang yang tak punya pendirian teguh, apalagi suka menjilat sana sini, tak akan pernah bisa jadi teroris. Kalau dalam sejarah perjuangan bangsa, dikenal sebagai pengkhianat.

Calon harus punya harga diri yang tinggi, punya bakat melawan, dan punya prinsip yang dipegang kuat-kuat. Imam Bonjol, Cut Nyak Dien, dan pahlawan lainnya termasuk dalam kategori ini. Tak peduli atas nyawa, asal mempertahankan prinsip dan harga diri atau bangsanya.

Pangeran Diponegoro memutuskan memberontak, tatkala pemerintah kolonial memprovokasi dengan membuat patok di atas tanah leluhur, disamping karena ketidakadilan yang marak terjadi. Menciptakan teroris cukup dengan memicu kemarahan, merendahkan kehormatan, atau membuat kebencian. Hanya yang punya kekuatan dan kekuasaan yang bisa melakukan hal ini.

Seseorang bisa menjadi teroris apabila mendendam. Oleh karenanya, cukup seret seseorang tak bersalah di depan anak istri, pulang tinggal mayat. Kalau si anak punya karakter kuat, pastilah muncul bibit dendam, jadilah ia calon teroris potensial.

Bisa juga, cukup dengan provokasi terhadap pemikirannya. Kalau seseorang itu kuat dalam memegang prinsip, kemudian terprovokasi, maka punya potensi menjadi teroris. Anggota HTI yang teguh terhadap pendiriannya, bisa dicipta menjadi teroris. Syukurlah, masih ada yang membela secara hukum negara, dan tidak ditindak secara represif.

Coba, bayangkan bila ribuan anggota HTI menjadi teroris, tentu pecah perang saudara. Lebih baik, salurkan menjadi “perang” gagasan saja. Maka, tepat sekali Undang Undang Dasar Republik Indonesia mencantumkan perlindungan terhadap kebebasan menyatakan pendapat.

Pemahaman yang keliru tidak akan segera menyulut terorisme, itu pasti. Ketika pemahaman yang keliru bisa mendapat tempat untuk didiskusikan, dihormati gagasannya walau tidak diterima, tentu tak akan memunculkan tindakan kekerasan. Bahkan, dalam “perang gagasan”, simpul untuk saling memahami akan muncul. Sekali lagi, terorisme muncul karena ketidakadilan.

Karena Indonesia negara hukum, maka keadilan ditegakkan berdasarkan hukum yang berlaku. Siapa yang menegakkan? Penguasa, atau di negara ini dipegang oleh pemerintah, wakil rakyat, dan penegak hukum. Jika negeri ini adil makmur dalam semua bidang, seperti ekonomi, sosial, budaya, politik, dan lain-lain; maka tak mungkin terorisme akan muncul.

Jika kemudian nyatanya muncul terorisme, berarti terjadi “ketidakadilan yang nyata”, atau “ketidakadilan semu”. Tak usah fokus pada terorisme, rakyat banyak pun bisa “meneror” negara kalau hak-haknya dicabut, atau ditindas.

“Ketidakadilan semu” bisa tercipta secara sengaja, atau secara tidak sengaja karena kebodohan. Kalau secara sengaja, tentu ada yang punya kepentingan, biasanya politik dan kekuasaan. Negara maju, yang tidak ingin kehilangan kemakmurannya, tentu punya kepentingan terhadap penguasaan sumber daya alam. Agar national interest mereka terealisasi, segala cara akan dilakukan termasuk menciptakan teroris-teroris di negara yang akan dikuasainya. Banyak buktinya.

Konspirasi? Benar. Pangeran Diponegoro adalah contoh korban konspirasi zaman dahulu. Jika Indonesia tidak merdeka, barangkali tersemat dalam dirinya sebagai teroris, bukan pahlawan. Bisa jadi, teroris muncul di Indonesia saat ini, karena konspirasi. Siapa tahu, namanya juga konspirasi yang rahasia.

CCara menanggulangi terorisme yang bisa jadi karena konspirasi juga cukup mudah. Cukup tegakkan keadilan, dan amanah itu ditangan pemegang kekuasaan.

Langganan berita lewat Telegram
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Muhammad Hanif Priatama
Penulis bebas yang bebas menulis untuk belajar menjadi manusia sesungguh-sungguhnya
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Loading...

TANGGAPAN TERBANYAK

TERPOPULER