Antara Korban Mati dengan Susi Ferawati, Bukti Ketimpangan Empati Media

Apakah korporasi media punya empati? Jika media hanya bisa hidup dengan mengeruk dana, bisa dipastikan perilakunya mirip psikopat. Cerdas, iya. Licik tapi.

Jangan lupa, media pers pemegang sebagian kekuasaan negara yang paling mudah tersamar. Mana berita yang perlu ditonjolkan, mana yang ditenggelamkan, dipilih sesuai pesanan pengisi kantong. Atau pakai teknik framming.

Dua kasus yang baru-baru ini terjadi, membuktikannya. Acara yang sama-sama terjadi di Jakarta, dalam waktu yang berdekatan, memunculkan dua peristiwa yang berbeda dampaknya. Dua anak meninggal karena pembagian sembako, dan sampai detik ini tak ada investigasi media besar-besaran kepada panitia sebagai yang paling bertanggungjawab. Tersembunyi, tersamar.

Wahai para jurno, mana nuranimu terhadap nyawa manusia?

Baca : Innalillahi, Dua Anak Tewas di Acara Pembagian Sembako Forum Untuk Indonesia di Monas

Di acara yang lain, tempat lain, ibu dan anak dibuly, karena bawa atribut yang tak sesuai lingkungannya, tak pula mengikuti instruksi polisi. Kebetulan tidak seperti peristiwa sebelumnya yang memakan korban, ternyata bisa direkam video dengan sudut yang tepat dan waktu yang pas untuk bisa di-“booming”-kan. Tak perlu investigasi, media massa seperti mendapat anugerah heboh.

Mengapa para jurno tidak segera menginvestigasi siapa perekam, siapa pelaku, serta kronologinya? Dan mengapa perlu menggemparkannya dibanding dengan korban nyawa?

Keganjilan sikap media-media ini menimbulkan prasangka. Apalagi, seorang budayawan terkemuka, seorang jurnalis majalah ternama, seperti termakan hoax dengan memposting surat selebaran diduga palsu. Tujuannya barangkali, mengarahkan kesalahan ke Pemprov DKI.

Benarkah perilaku jurno seperti ini? Ia seperti tak peduli salah atau benar, apalagi investigasi. Cukup pakai data ‘bisikan’, terus goreng berita garing.

Adakah kongkalingkong insan media dengan pihak tertentu untuk seting kondisi demi maksud tertentu? Bisa jadi. Mereka dengan sangat mudah mengambil kesempatan dalam kesempitan, toh banyak orang punya kuasa uang.

Berarti memang benar perkataan seorang jurnalis, idealisme sudah mati. Pun kalau masih ada, hanya berada di bawah bayang-bayang dominasi kekuasaan. Sangat disayangkan, karena dampaknya sangat berat bagi bangsa ini.

Loading...
Muhammad Hanif Priatama
Penulis bebas yang bebas menulis untuk belajar menjadi manusia sesungguh-sungguhnya
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TANGGAPAN TERBANYAK

TERPOPULER

SAVE_20180815_181535

Harapan Jonru Ginting untuk Prabowo Sandiaga

Lewat tulisan tangan yang dia tulis dari Rutan Cipinang. Berikut isi suratnya: Selamat berjuang untuk Prabowo Sandi. Saya dari balik jeruji penjara terus berdoa semoga...
FB_IMG_1534511438425

Bedanya Sandiaga Uno dan Pak Jokowi