close
Ingin Menulis di WARGA SERUJI? Klik disini

2030: Bangsa di Ujung Tanduk

Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya dengan sumber daya alam dan kekayaan budaya bangsanya. Tanah, air, dan udara penuh dengan kekayaan yang melimpah-ruah. Katanya seperti surga. (Kayak ada yang sudah pernah pelesir ke sana.) Bahkan tongkat saja bisa jadi tanaman. Dogmatis. Sayangnya, sambil duduk manis menunggu sang tongkat berbuah, penduduk pribumi hanya bisa gigit jari melihat kekayaan alam negerinya dirampok. Dan bisa jadi sambil bengong terkagum-kagum, karena perampokan itu justru dibantu oleh saudara sebangsa sendiri. Beginilah balada tragisnya menjadi penduduk negeri bernama Indonesia.

Hampir 73 tahun bangsa Indonesia merdeka. 73 tahun tak lagi terbilang usia muda. Seharusnya, bangsa ini telah dewasa dan telah belajar banyak dari pengalaman. Tapi harus diakui, di usia yang sudah senja, bangsa ini masih sibuk dengan yang remeh-temeh. Buang sampah pada tempatnya masih belum bisa. Mudah sekali diadu domba. Mudah sekali tersulut emosinya.

Apalagi di era menjamurnya sosial media, caci maki di mana-mana. Suka mentah-mentah menelan isu yang tak jelas kebenarannya. Mudah sekali menyebar berita yang tak jelas kebenarannya. Kalau sudah menyukai sesuatu, tak bisa lagi berfikir logis. Bahkan dengan mudah mencaci maki saudaranya yang tak sependapat. Bukankah itu adalah sikap kekanak-kanakan? Bahkan di sudut lain ada yang menumpahkan darah saudaranya sesantai menepuk nyamuk.

Bagaimana orang asing tidak senang gembira melihat kombinasi kekayaan alam negara kita dengan penduduknya yang hidup dalam dogma? Mungkin ada sebagian yang menetes air matanya. Namun bisa jadi lebih banyak yang tidak meneteskan apa-apa karena merasa semua baik-baik saja. Lagi-lagi dogmatis. Dan inilah kondisi yang ingin terus dipelihara oleh perampok-perampok negara itu agar mereka bisa merampok dengan tenang.

Dan dengan amat terpaksa, anak-anak negeri ini hanya bisa meneteskan ludah melihat pengerukan emas di Mimika oleh Freeport dan di Sumbawa oleh Newmont, ‘menyambut’ datangnya jutaan tenaga kerja asing dan narkoba, ‘menikmati’ kegaduhan-demi kegaduhan yang hampir selalu ada setiap hari, hutang negara yang kian membumbung tinggi, harga-harga yang makin mencekik, dan lain sebagainya.

Dengan kondisi saat ini dan bila diteruskan, tidakkah terbayangkan bagaimana di tahun 2030? Sudah berapa hutang kita saat itu? Bukannya dilunasi, tapi semakin ditambah. Berapa kah jumlah asing yang masuk negara kita? Bagaimana anak-anak kita akan bersaing dengan mereka?

Dengan hutang yang sudah mencapai 4000 T saat ini, persetan dengan peruntukannya yang selalu kalian perdebatkan dan cari pembenarannya, tidak kah kita berfikir dengan cara apa kita harus membayarnya? Dengan SDA dan SDM negara kita, Saudara-Saudara! Mana ada orang memberi hutang cuma-cuma?

Negara kita yang akan dijual untuk membayar hutang. Negara ini akan dibagi kepada para pemberi hutang. Negara ini akan dipecah-pecah. Apabila negara ini telah terbagi, maka kita, iya kita Rakyat Indonesia yang akan menjadi budak di tanah nenek moyang kita sendiri! Sedangkan mereka ongkang-ongkang kaki mengeruk SDM di tanah leluhur kita. Maukah kita? Naudzubillah!

Maka, sadarlah! Tidak ada pilihan lain selain memilih pemimpin yang tegas dan mampu menyelamatkan Indonesia. Belajarlah dari pengalaman, akankah kita lebih buruk dari keledai yang tidak mau jatuh di lubang yang sama? Sebelum terlambat, sebelum Indonesia tinggallah kata, dan sebelum kita menjadi budak di tanah kelahiran kita! Jangan sampai terjadi tahun 2030 Indonesia tinggallah nama. Naudzubillah!

Langganan berita lewat Telegram
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Loading...

TANGGAPAN TERBANYAK

20181212_210847_0000[1]

Mertua VS Menantu

1544415697806_3

Pramuka dan TNI Gelar Acara Persami

TERPOPULER