Tenaga kerja asing (TKA) diberitakan telah membanjiri begitu masif di negeri ini oleh beberapa media massa dan tentunya warganet. Hal yang cukup disayangkan adalah klarifikasi oleh pemerintah setempat yang kurang diberitakan oleh media massa. Tentunya dengan struktur pemerintahan yang kuat dari pusat sampai ke rukun tetangga (RT) hal semacam ini dapat di antisipasi. Hal yang tidak asing bagi kita menemui tulisan “Tamu 1 x 24 jam harap lapor”, akan tetapi penerapannya kurang optimal.

Tenaga kerja asing yang ilegal tentunya menjadi tanggung jawab sepenuhnya Dinas Imigrasi sebagai pemberi dokumen keimigrasian terhadap orang asing tersebut. Payung hukum untuk melakukan tindakan terhadap orang asing yang menggunakan visa kunjungan untuk bekerja tentunya harus ditindak tegas.

Pertanyaannya adalah tenaga kerja asing sebagai kebutuhan ataukah sebagai gengsi (dalam konteks TKA resmi/legal)?

Dalam beberapa profesi tenaga kerja asing merupakan daya tarik tersendiri bagi masyarakat di negara ini. Hal ini dapat kita temui dalam beberapa usaha di negeri ini, misal dalam les bahasa asing kita dapatkan slogan “Bicara langsung dengan bule” atau dibidang kesehatan ada slogan “Tabib china terpercaya” atau bahkan dari sebuah lembaga pendidikan Islam dengan slogan “Pengajar langsung dari Saudi Arabia”. Dan semua itu dilengkapi dengan gambar orang asing sebagai daya tarik masyarakat kepada lembaga tersebut.

Bagaimanapun juga pemikiran sebagian masyarakat sudah teropini oleh cerita masa lalu dan budaya orang asing tersebut. Hal yang mudah  dipahami misal : orang arab pasti pintar mengaji, orang china jago obat-obatan dan kung fu, orang afrika (kulit hitam) jago main bola dan basket dan masih banyak mindset masyarakat terhadap faktor dari negara asal pekerja tersebut.

Di beberapa perusahaan tenaga kerja asing juga merupakan kebutuhan. Pemakaian tenaga kerja asing tersebut didasarkan pada negara sebagai pasar penjualan produknya. Dalam industri perkayuan dengan pasar ekspor Korea tentunya memiliki kebutuhan tenaga kerja asing yang mampu berbahasa Korea dan bahasa Indonesia dengan baik dan memahami seluk beluk pengiriman barang ke negara tersebut. Hal ini tentunya akan menambah keyakinan pelanggan di negara tersebut. Ketika heboh berita sopir asing gaji 15 juta rupiah, tentunya tidak mengherankan dikarenakan sopir tersebut tentunya memiliki tugas ganda selain sebagai sopir juga sebagai penerjemah bagi tamu perusahaan tersebut. Alangkah bagusnya jika para sopir mampu menguasai beberapa bahasa asing maka akan menjadi nilai tambah tersendiri bagi sopir tersebut. Hal ini dapat kita rasakan jika kita pergi ke luar negeri dan mendapatkan sopir yang menguasai bahasa Indonesia tentunya akan membuat kita dengan mudah memberikan uang tip lebih besar.

Bagi perusahaan pemakaian tenaga kerja asing merupakan pengeluaran biaya yang sangat besar baik dari akomodasi dan biaya tinggal sementara di Indonesia. Oleh karena kemampuan bahasa tenaga kerja lokal sangat perlu untuk ditingkatkan, bukan artinya kita tidak menghargai bahasa sendiri akan tetapi sebagai peningkatan daya saing tenaga kerja.

Pemakaian TKA non skill tentunya seringkali terjadi untuk pekerjaan bersifat sementara atau insidental. Sebagai contoh proyek untuk pembangunan sebuah hotel di luar negeri dengan main kontraktor dari Indonesia tentunya akan membawa paket tenaga kerja dari Indonesia. Hal ini dilakukan sebagai cara untuk mempermudah dalam komunikasi antara anggota team kerja dan kekompakan dalam bekerja. Ha ini sangat berhubungan dengan target waktu pekerjaan yang harus diselesaikan. Patut dipahami bahwa dalam pekerjaan dengan ketentuan waktu biasanya pihak kontraktor akan didenda keterlambatan 1 per mil (per seribu) untuk satu hari keterlambatan.

Pemerintah tentunya tidak bisa tinggal diam dengan fenomena tenaga kerja asing ini. Tindakan tegas dan cepat harus dilakukan jika terjadi pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku. Penyalahgunaan visa kunjungan untuk bekerja juga merupakan permasalahan utama yang ditimbulkan dari para pekerja asing. Keseimbangan dan batasan pemakaian tenaga kerja asing juga harus dilakukan oleh pemerintah untuk melindungi warga negara dari serbuan tenaga kerja asing.

Tenaga kerja lokal tentunya juga harus meningkatkan kemampuan dirinya untuk bersaing dengan tenaga kerja asing. Baik kemampuan komunikasi, teknik dan mental yang kuat sebagai tenaga kerja untuk bersaing dengan tenaga kerja asing. Pendirian balai latihan kerja (BLK) tentunya harus lebih diintensifkan untuk meningkatkan kemampuan tenaga kerja kita.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

BACA JUGA

TULISAN WARGA TERBARU

Peresmian Pondok Pesantren dan SMP Alam Bina Insan Pangkalan Bun

Kotawaringin Barat - Fasilitas Pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Barat kini semakin bertambah dengan diresmikannya Pondok Pesantren Plus SMP Alam Bina Insan, Jum'at Sore (26/5/2018). Kompleks...

Politik Santun Ala PH Malaysia

BUKIT MERTAJAM - Pakatan Harapan (PH) Malaysia menggunakan politik santun dalam menjalankan pemerintahan setelah meraih kemenangan mutlak dalam pemilu Malaysia baru-baru ini. PH meminta...

Turki Salurkan Bantuan Ramadhan Untuk Rohingya

ANKARA - Turkiye Diyanet Foundation (TDV), sebuah yayasan keagamaan di Turki menyalurkan bantuan kepada Muslim Rohingya di Myanmar selama bulan Ramadhan. Paket-paket bantuan yang...
loading...