Suatu hari saya sedang naik bus kota bersama keponakan perempuan saya yang tinggi dan besarnya hampir sama dengan saya. Kami terpaut sembilan tahun. Saya suka menggoda dia sejak kecil. Hubungan kami lumayan baik. Sehingga walau di bus, saya merangkul pundaknya dan sering iseng mencubit pipinya.

Tiba-tiba saya berimajinasi liar. Andai kata orang di belakang kami salah paham terhadap kami dan mengira kami pasangan lesbi. Lalu dia memotret kami yang terlihat mesra. Lalu orang tersebut mengunggah foto kami ke sosial medianya. Lalu jadilah viral. Dan kami terkenal.

Bukan itu point saya. Tapi ini tentang tabayyun. Hari-hari ini kita melihat sendiri bagaimana LGBT semakin masif di sekitar kita. Kesedihan, kepedulian, bahkan kepanikan telah membuat kita harus siapa 1 terhadap lingkungan. Jangan sampai kita lengah apalagi abai.

Akan tetapi, bagaimanapun kita harus tetap waras dan bijak. Jangan mudah tersulut emosi dan jangan bertindak sporadis. Dampaknya, ketidakhati-hatian kita justru akan menjadi senjata kaum pengasong LGBT. Apabila sikap dan atau perbuatan kita dinilai merugikan orang lain, para pengasong itu akan semakin punya dalih untuk meminta eksistensinya atas nama HAM.

Lebih dari itu, sikap sporadis sebagaimana dalam imajinasi liar saya tadi, amatlah berbahaya. Baik bagi penyebar maupun korban.

Begini. Misalkan kita melihat tetangga kita sedang melakukan perbuatan tidak pantas di suatu tempat. Yang namanya tabayyun adalah bertanya kepada yang bersangkutan secara pribadi, bukan di tempat umum.

Di jaman sosmed kekinian macam sekarang, saya sering melihat orang yang katanya mau tabayyun tapi tanya di grup atau bahkan di sosmed miliknya.

Puluhan bahkan ribuan orang telah salah paham, sementara yang bersangkutan malah tidak tahu apa-apa. Apakah ini bukan perilaku dzalim?

Jangan sampai kita teriak-teriak sedang tabayyun padahal sejatinya kita sedang mengumbar aib saudara atau bahkan malah menyebar fitnah. Jangan sampai niat baik kita justru menjadi bencana bagi orang lain. Naudzubillah.

Kembali ke imajinasi liar saya tadi. Andai saya seorang lesbian, seharusnya orang-orang yang normal membantu saya kembali normal. Bukan dengan membulli, bukan dengan mengumbar mempertontonkan perilaku menyimpang tersebut. Sebab itu justru akan membuat penderita LGBT betah dengan perilaku menyimpangnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

BACA JUGA

TULISAN WARGA TERBARU

BWI Gelar Wakaf “Goes to Kampus”

Jakarta - Kegiatan literasi Wakaf masih sangat minimal. Momentum Ramadhan sangat tepat untuk memulai program kampanye Wakaf. Oleh karena itu Badan Wakaf Indonesia (BWI)...

Mudik Lebaran, DLU Antisipasi Lonjakan Penumpang

Kotawaringin Barat - PT. Dharma Lautan Utama (DLU) Kumai, Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah, sebelumnya telah mengantisipasi lonjakan penumpang pada arus mudik lebaran Idul...

Jangan Robek Kerukunan Kami

Bangsa indonesia sudah sangat dewasa dalam masalah kerukunan di pergaulan sehari-hari. 1340 suku bangsa dan 300 kelompok etnik yang dimiliki Indonesia dengan hidup rukun...
loading...