Netizen punya watak (tidak semua) pemarah, atau pura-pura marah. Tandanya, pendek akal. Mudah sekali membuat kesimpulan, terjebak kepada suatu yang detil. Padahal, detil-detil sering bukan bagian dari gambaran besar suatu peristiwa.

Ketika ada yang mengatakan, “Ketidakadilan menyuburkan kekerasan,” tiba-tiba ada yang mempertanyakan, “Anda menghalalkan pembunuhan?” Si penanya terjebak dalam detil gugurnya polisi di Mako Brimob karena napi teroris, untuk membenarkan fanatisme kelompoknya.

Kekerasan dilakukan oleh teroris, itu pasti. Korban kekerasan selalu merasa diteror. Ini ungkapan umum, tidak terbatas kepada definisi pihak tertentu. Orang-orang yang “terbiasa” meneror inilah yang disebut teroris, seharusnya.

Namun, ada pihak yang merasa berhak menyematkan status teroris ke seseorang, atau ke sekelompok orang, serta membiarkan teroris lain disebut kriminal biasa. Berarti sudah tidak adil dari niat. Padahal, ketidakadilan itulah pupuk terorisme masa depan.

Ketidakadilan itu tak hanya menyuburkan kekerasan, namun juga kebencian. Lebih awet bertahan, dan lebih merusak kedamaian. Pihak yang merasa menjadi pahlawan, akan selalu membuat munculnya lawan. Semakin hebat “kepahlawanan” semakin besar pula lawan.

Detil penjebak dalam peristiwa kerusuhan di Mako Brimob adalah kata “Napi Teroris”. Bahkan karenanya, banyak kesimpulan ngawur netizen yang menghubungkan ke isu ISIS, yang segera dibantah Polri. Latah, berduyun-duyun mengusung tagar “kami bersama polisi”.

Mereka lupa gambaran besarnya. Mako Brimob bukan tempat sembarangan. Di dalamnya ada 150-an napi teroris, bukan teroris “bebas”. Terkendali, seharusnya. Tak ada penyerangan dari luar. Bahkan, dikabarkan hanya masalah makanan. Sepele, sepertinya.

Jika tahu teroris, harusnya tidak main-main. Jika rusuh, tak bisa salahkan teroris. Macan di kandang tidak bisa disalahkan jika membunuh penjaganya. Kalau karena kandangnya jelek, salahkan pemilik. Kalau SOP buruk, salahkan pengelola. Penjaga, jadi korban.

Ungkapan “kami bersama Polri” perlu dipertanyakan, karena kesalahan ada di tangan Polri. Seharusnya “kami bersama korban”, dan menuntut petingginya bertanggungjawab. Namun, banyak netizen memang suka berlaku dungu, hanya berpikir Polri Vs Teroris.

Lebih parah lagi, netizen model ini bersegera membuat kesimpulan, bahwa yang mengkritik polisi berarti pro teroris, pro kekejaman, layak dibenci, dan lain-lain. Lembaga kepolisian mereka jadikan dewa suci tanpa kesalahan, demi hendak menghina pihak seberang.

Padahal, merekalah yang akan membusukkan kredibilitas kepolisian, karena sekedar menutup-nutupi kesalahan. Jauh lebih bagus mengkritisi, sehingga berubah dan bertambah baik. Latah atau dungu?

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

BACA JUGA

TULISAN WARGA TERBARU

Apakah Berita Ini Benar? Mohon konfirmasinya!

Kemudahan di bidang teknologi informasi membawa implikasi mudahnya seseorang menyebarkan pesan apapun yang ia terima. Apakah pesan tersebut benar, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan dunia...

Ilmu Tafsir Tingkat Dasar : Fardhu Ain Bagi Muslim

Al Quran diturunkan kepada manusia sebagai petunjuk hidup, sekaligus pembeda (Furqon). Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, dan pembeda antara orang yang beriman dengan orang...

Bandara Baru A. Yani Semarang Disiapkan Menyambut Mudik Lebaran

Tidak sampai sebulan lagi lebaran tiba. Bandara A.Yani Semarang terus berbenah menyiapkan fasilitas yang layak untuk bandara baru yang tidak jauh letaknya di belakang...
loading...