Setelah deklarasi mendukung Jokowi, PSI bergerak mempopulerkan diri melalui serangkaian kontroversi dan “numpang tenar”. Maksud mereka mungkin itu cara cari suara, sebagai partai baru yang butuh publikasi.

Mendudukkan diri sebagai lawan oposisi, PSI membuat kontroversi dengan melakukan serangan politis bahkan menjurus pribadi, seperti terhadap Fadlizon baru-baru lalu, yang dilakukan sekjen bahkan ketua partai. Walaupun ujungnya malah berbalik mencemarkan nama partainya sendiri.

Selain numpang tenar melalui Jokowi, PSI dengan bangganya membuat ‘kabinet bayangan masa depan’, rata-rata orang terkenal. Apa bukan ‘numpang tenar’ ini namanya?

Ternyata, tidak hanya dalam kepemimpinan nasional, di daerah seperti Jawa Timur, PSI yang belum punya kursi DPR ini berani mengambil sikap dukung-mendukung. Kali ini yang didukung adalah calon gubernur dan wakil gubernur tertentu.

Baca : PSI Jatim Dukung Khofifah-Emil

Tak punya bargain suara, sudah mendompleng kandidat partai lain. Ini cara cerdas atau licik? Ataukah SOP-nya memang menjilat?

Bagaimana jika mereka ini benar-benar menjadi wakil rakyat? Akankah bekerja dengan baik? Atau hanya membuat gaduh untuk cari perhatian layaknya selebriti?

Gaya heboh di media yang dilakukan mengingatkan sebuah peri bahasa: tong kosong nyaring bunyinya. Peri bahasa yang familier di telinga banyak orang, mengisi alam bawah sadar jika terlalu banyak cakap itu membuat tak dipercaya. Benar, menurut suatu survei, PSI menempati urutan terbuncit soal elektabilitasnya di antara partai-partai baru.

Namun, rendahnya elektabilitas PSI mungkin karena tidak benar-benar menunjukkan platform yang diperjuangkan, malah terlihat seperti penjilat kekuasaan. Publik barangkali mengingat akan perihnya dikhianati oleh janji-janji manis, sehingga tak mau lagi berjumpa dengan orang-orang yang sejenisnya.

Orang-orang yang murni begerilya di dunia pergerakan tentu tertawa kecut melihat fenomena PSI ini. Dalam dunia pergerakan, mereka memperjuangkan idealisme, entah berada di dalam atau di luar kekuasaan. Benar-benar bergerak, bersuara ataupun dalam senyap. Kecut, karena sebenarnya berharap muncul anak muda militan dan idealis, sangat bertolak belakang dengan sikap oportunis yang diperlihatkan PSI.

Namun, sunnatullah, tipe-tipe seperti PSI ini tidak punya masa depan, tak membuat orang tertarik. Bagusnya, hal ini jadi pelajaran bagi semua, yakni keinginan berkuasa akan selalu melahirkan tindakan yang menjauhkannya dari kekuasaan.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

BACA JUGA

TULISAN WARGA TERBARU

Apakah Berita Ini Benar? Mohon konfirmasinya!

Kemudahan di bidang teknologi informasi membawa implikasi mudahnya seseorang menyebarkan pesan apapun yang ia terima. Apakah pesan tersebut benar, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan dunia...

Ilmu Tafsir Tingkat Dasar : Fardhu Ain Bagi Muslim

Al Quran diturunkan kepada manusia sebagai petunjuk hidup, sekaligus pembeda (Furqon). Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, dan pembeda antara orang yang beriman dengan orang...

Bandara Baru A. Yani Semarang Disiapkan Menyambut Mudik Lebaran

Tidak sampai sebulan lagi lebaran tiba. Bandara A.Yani Semarang terus berbenah menyiapkan fasilitas yang layak untuk bandara baru yang tidak jauh letaknya di belakang...
loading...