Pemerintah era Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampaknya tidak main-main dalam menggenjot pembangunan dalam sektor infrastruktur diseluruh pelosok tanah air. Alasan utama pembangunan tersebut adalah agar laju pertumbuhan ekonomi rakyat semakin meningkat, baik jangka pendek, menengah maupun panjang.

Pembangunan infrastruktur memang sangat dibutuhkan khususnya di daerah-daerah terpencil diseluruh pelosok Indonesia. Jika dilihat dari sebelumnya, kondisi infrastruktur memang masih jauh ketinggalan. Bahkan menurut kacamata “Word Bank dan Global Mckinsey”¬† pembangunan infrastruktur di Indonesia masih dianggap buruk hanya tumbuh 38 persen dibanding negara-negara lain yang sudah mencapai kisaran 70 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Menilik pada judul diatas dan menengok kondisi yang ada, penulis mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada perbedaan kedua gambar diatas tersebut. Dua gambar yang mempunyai kesamaan dan pembangunan yang sama yaitu sama-sama menggunkan tanah liat (ratrit). Namun hasil yang didapat justru membuat mata terbelalak menyaksikannya, bagaikan melihat batu di hamparan dan bubur tercecer di jalanan.

Seperti pada gambar pertama, jalan yang berada disalah satu perusahaan kebun kelapa sawit yang berada di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar)  Kalimantan Tengah. Meski dengan pembangunan dengan anggaran dan alat seadanya serta menggunakan timbunan tanah liat (ratrit), hasilnya sangatlah apik dan tahan banting dalam segala cuaca.

Mereka seakan-akan sudah jagonya baik dari segi teknis, pilihan material, maupun perawatannya. Hal itu bisa dilihat hilir mudiknya truk-truk fuso dengan berat muatan hingga berpuluh-puluh ton tapi tak bergeming, kondisi jalan tetap mulus seperti jalan tol.

Berbanding jalan negara, jika kita melihat dengan anggaran yang dikeluarkan pemerintah berpuluh-puluh milyar. Namun setiap kali musim hujan, jalan yang semula mulus, bim salabim seketika itu juga berubah menjadi bubur dan berlubang seperti jurang.

Memang, kondisi tersebut disebabkan banyak hal, mulai dari alasan cuaca yang dianggap tidak bersahabat, muatan mobil terlalu berat dan sebagainya. Meski demikian, ternyata banyak juga dari masyarakat yang berpendapat bahwa hal itu disebabkan soal teknis, jenis tanah timbunan, pengerjaan, serta kurangnya pengawasan.

Pada gambar kedua, jalan penghubung antara Kota Pangkalan Bun menuju Kota Kecamatan Kotawaringin Lama. Kondisi jalan trans Kalimantan tersebut  tidak hanya dirasakan oleh masyarakat satu dua kali musim saja, namun sudah terjadi bermusim-musim dan bertahun-tahun.

Heh..!! Alih-alih pembangunan infrastruktur yang katanya bertujuan meningkatkan ekonomi rakyat, tapi nyatanya menyengsarakan masyarakat.
Lantas, apa arti pembangunan yang didengang-dengungkan pemerintah selama ini, jika segudang anggaran nyatanya tidak lagi mampu membuat perubahan yang berarti.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

BACA JUGA

TULISAN WARGA TERBARU

Apakah Berita Ini Benar? Mohon konfirmasinya!

Kemudahan di bidang teknologi informasi membawa implikasi mudahnya seseorang menyebarkan pesan apapun yang ia terima. Apakah pesan tersebut benar, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan dunia...

Ilmu Tafsir Tingkat Dasar : Fardhu Ain Bagi Muslim

Al Quran diturunkan kepada manusia sebagai petunjuk hidup, sekaligus pembeda (Furqon). Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, dan pembeda antara orang yang beriman dengan orang...

Bandara Baru A. Yani Semarang Disiapkan Menyambut Mudik Lebaran

Tidak sampai sebulan lagi lebaran tiba. Bandara A.Yani Semarang terus berbenah menyiapkan fasilitas yang layak untuk bandara baru yang tidak jauh letaknya di belakang...
loading...