Pesta demokrasi sebagai sarana menyalurkan aspirasi warga negara sudah dalam hitungan bulan. Pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang akan dilanjutkan dengan pemilihan kepala negara/presiden. Animo masyarakat begitu kuat baik di kantor,  sekolah,  bahkan di pojokan warung kopi dan pos ronda membahas hal ini.

Bapak Jokowi selaku presiden yang berencana akan maju lagi sebagai kontestan calon presiden. Partai Golkar,  Nasdem,  Hanura dan PDI-P sudah menetapkan dukungannya kepada beliau. Partai lainnya masih belum jelas untuk melangkah kemana. Apakah merapat atau membuat koalisi tersendiri.

Ada apa dengan “Jokowi”?

Time line di media sosial begitu gencar memberitakan tentang keberhasilan beliau,  sedangkan sebagian memberitakan kegagalan-kegagalan dalam menyelesaikan permasalah di negeri ini dan menuaikan janji-janji kampanye nya.

Indonesia tanpa Jokowi bukanlah sebuah masalah yang besar.  Ketakutan perubahan arah pembangunan adalah sebuah alasan kamuflase yang seakan-akan memberikan sugesti tanpa beliau akan kembali ke awal.  Beliau memang memberikan banyak perubahan dalam pembangunan terutama dalam infrastruktur,  bukan berarti tanpa beliau infrastruktur akan menjadi macet atau mangkrak.  Banyak anggota dewan yang masih berpikir cerdas untuk mengontrol kinerja pemerintahan.

Mengutip penyampaian Ustadz Mardani AS dari PKS, “Pak Jokowi adalah pemimpin yang baik,  tapi kita akan memberikan pilihan yang lebih baik kepada rakyat. Pak Jokowi masih dapat dikalahkan”. Tidak ada alasan rasa ketakutan untuk memberikan calon alternatif kepada rakyat Indonesia ini.  Janganlah kondisi jatuhnya orde baru akan dirasakan dalam masa sekarang.  Bagaimama jika Bapak Suharto lengser,  siapa yang pantas meneruskan?

Kadang teringat sebuah nasehat orang tua, “kalau sudah babak belur,  baru mau belajar beladiri.  Kalau sudah sakit,  baru ingat pola hidup sehat”. Indonesia memiliki anak-anak muda yang berprestasi dan mendunia.  Rasa sungkan terhadap orang lebih tua sebagai dasar adat ketimuran terkadang membelenggu potensi-potensi pemimpin masa depan negeri ini.

Pergantian pimpinan negara adalah hal biasa,  yang jadi masalah adalah ketakutan pada masyarakat jika pemimpin berganti maka semua akan berganti.  Negara ini adalah milik rakyat bukanlah milik pribadi presiden. Belum pernah terjadi ketika presiden berganti,  makan pejabat dan menteri-menteri disandera oleh presiden yang diganti.

Ada sebuah kiasan sebagai pengingat dalam jiwa kita,  “Indonesia tanpa Jokowi akan berbeda dengan Jokowi tanpa Indonesia”. Kebebasan dalam memilih pemimpin negeri ini,  jauhkan dari rasa ketakutan yang akan membuat diri kita tidak memiliki pilihan.  Kemerdekaan yang nyata terampas oleh penjara pikiran akibat rasa ketakutan yang berlebihan.

..

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

BACA JUGA

TULISAN WARGA TERBARU

Peresmian Pondok Pesantren dan SMP Alam Bina Insan Pangkalan Bun

Kotawaringin Barat - Fasilitas Pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Barat kini semakin bertambah dengan diresmikannya Pondok Pesantren Plus SMP Alam Bina Insan, Jum'at Sore (26/5/2018). Kompleks...

Politik Santun Ala PH Malaysia

BUKIT MERTAJAM - Pakatan Harapan (PH) Malaysia menggunakan politik santun dalam menjalankan pemerintahan setelah meraih kemenangan mutlak dalam pemilu Malaysia baru-baru ini. PH meminta...

Turki Salurkan Bantuan Ramadhan Untuk Rohingya

ANKARA - Turkiye Diyanet Foundation (TDV), sebuah yayasan keagamaan di Turki menyalurkan bantuan kepada Muslim Rohingya di Myanmar selama bulan Ramadhan. Paket-paket bantuan yang...
loading...