Cacing. Tidak ada yang tidak kenal cacing.  Semua orang mengenalnya mulai dari anak-anak sampai kakek nenek.   Namun ternyata cacing juga punya banyak jenis.  Ada cacing yang bermanfaat di dunia pertanian untuk penggemburan tanah, namun ada juga yang malah sangat ditakuti karena penyakit yang ditimbulkannya.

Cacing tanah bahkan dibuat sebagai mainan untuk menghilangkan kejenuhan.  Dengan menggunakan sebatang lidi, cacing dicongkel, diangkat dan tidak jarang dijadikan sebagai bahan candaan untuk menggoda mereka yang jijik dan takut cacing.

Cacing tanah juga sering dijadikan sebagai umpan untuk memancing ikan di sungai.  Cacing merupakan umpan yang murah, meriah dan mudah mendapatkannya.  Bagi yang akan memancing,  cukup hanya  menggali tanah di pinggir sungai,  cacing bisa diperoleh.  Jika tidak jijik, bisa ratusan cacing dikumpulkan dan dapat dibagi dengan teman.

Namun bagi para ibu, cacing juga jadi makhluk yang mengerikan.  Karena ternyata ada cacing yang menjadi parasit pada tubuh manusia.  Setiap kali datang ke puskesmas, ibu selalu dapat peringatan. Hampir disetiap sudut terpampang “Awas. Cacing akan menggerogoti kesehatan anak anda. Periksakan segera dan berikan obat anti cacing secara teratur”.   Jika cacing dibiarkan bersarang dalam tubuh, sedikit demi sedikit darah akan dihisapnya dan makanan yang dimakan akan diambilnya.  Akibatnya, penderita cacingan akan mengalami kekurangan gizi dan kurang darah.  Akibatnya nanti akan tinggal hanya kulit pembalut tulang dengan perut buncit dan mata cekung.

Namun beberapa waktu yang lalu saat di ruang rapat Komisi XI DPR RI, mengomentari ditemukannya cacing pada makanan ikan kaleng, mentri kesehatan menyatakan bahwa cacing adalah sumber protein.  Cacing tidak akan menimbulkan bahaya jika diolah dengan benar.  Setelah di masak cacingnya akan mati dan makanannya jadi steril ujar menkes berkilah.

BPOM menyatakan bahwa cacing yang ditemukan dalam makanan kaleng tersebut adalah jenis Cacing parasit anisakis sp.  Cacing ini akan menimbulkan masalah jika tidak dimasak dengan benar.

Tubuh cacing yang mengandung protein, bisa saja mengandung zat tertentu yang bersifat sebagai alergen dan dapat menimbulkan reaksi alergi pada orang tertentu. Walaupun dimasak dan cacingnya mati, namun reaksinya alergi berupa gatal-gatal atau bahkan bisa reaksi alergi yang berat bisa saja terjadi.

Walaupun disebutkan bahwa cacing tersebut sudah dalam keadaan mati, namun bahaya yang diakibatkan patut tetap diperhitungkan.  Standar makanan kaleng, tidak ada cacingnya, artinya kalau ada cacing berarti tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, kata Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Pangan BPOM, Tetty Helfery Sihombing.

Meskipun cacing mengandung protein, namun estetikanya mengkomsumsi cacing sebagai sumber protein sangat tidak mungkin. Jangankan memakannya, melihatnya saja di tengah makanan, sudah menjijikkan dan menghilangkan selera makan. (Elfizon Amir)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

BACA JUGA

TULISAN WARGA TERBARU

Peresmian Pondok Pesantren dan SMP Alam Bina Insan Pangkalan Bun

Kotawaringin Barat - Fasilitas Pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Barat kini semakin bertambah dengan diresmikannya Pondok Pesantren Plus SMP Alam Bina Insan, Jum'at Sore (26/5/2018). Kompleks...

Politik Santun Ala PH Malaysia

BUKIT MERTAJAM - Pakatan Harapan (PH) Malaysia menggunakan politik santun dalam menjalankan pemerintahan setelah meraih kemenangan mutlak dalam pemilu Malaysia baru-baru ini. PH meminta...

Turki Salurkan Bantuan Ramadhan Untuk Rohingya

ANKARA - Turkiye Diyanet Foundation (TDV), sebuah yayasan keagamaan di Turki menyalurkan bantuan kepada Muslim Rohingya di Myanmar selama bulan Ramadhan. Paket-paket bantuan yang...
loading...