Dosamu menempel pada dirimu, itulah terjemahan dari mutiara judul di atas. Adapun yang menjadi kebiasaan masyarakat Makkah, mereka menggunakan mutiara dzanbak `ala janbak untuk menegor orang yang tidak mau mendengarkan nasehat yang baik.

Kita sering pula mendengar orang mengatakan : Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Pribahasa ini digunakan untuk menyifati orang yang berkepribadian bandel, dan tidak mau mendengarkan nasehat maupun teguran baik dari orang lain.

Masyarakat Makkah yang kehidupannya sangat agamis, mengategorikan kebandelan itu adalah sebuah dosa. Karena itu mereka mengatakan dzanbak `ala janbak, dosamu selalu menguntitmu, kemana saja engkau pergi selalu saja dikelilingi dosa atas perbuatannya yang cuek itu.

Terlepas dari konotasi dosa sebagai pelanggaran agama, maka bisa saja arti dosa dalam hal ini adalah kebandelan yang melanggar norma kemasyarakatan.

Adakalanya dosa kemasyarakatan itu merangkap sebagai dosa agama, misalnya adanya pemabuk jalanan, penjambret kampung, penggoda para muslimah. Tetapi adakalanya yang murni sebagai dosa kemasyarakatan dan tidak dapat dikategorikan melanggar norma agama.

Contohnya, jika ada kesepakatan bahwa seluruh warga RT harus datang di satu gedung untuk membicarakan lomba kebersihan antar RT, lantas ada seorang warga yang malas, dan tidak ikut berkumpul tetapi malah tidur di rumahnya, maka pelanggaran semacam ini adalah murni sebagai dosa kemasyarakatan bukan pelanggaran agama.

Kembali ke akar masalah, bahwa orang yang bandel itu, diibaratkan sebagai orang yang telah menumpuk-numpuk dosa, sehingga pintu hidayat semakin menjauh dari dirinya. Karena itu sangat tepatlah jika disindir dengan pribahasa dzanbak `ala janbak.

Repotnya, jika si bandel itu meninggal dunia, dan masyarakat diminta kesaksian atas kepribadian si mayyit, misalnya seorang ulama yang berta`ziah melaksanakan hadits Nabi SAW dengan mengumumkan:

`Bapak-bapak dan ibu-ibu, bagaimana pribadi almarhum si Fulan ini selama bergaul dengan masyarakat, apakah kepribadiannya baik atau bagaimana ?

Lantas masyarakat sepakat menjawab : `Bandeeeel …!`.

Kemudian sang ulama melanjutkan lafadz hadits : `Antum syuhaadaullahi fil ardl (kalian adalah saksi Allah di muka bumi)`

Nah, kira-kira bagaimana malaikat Raqib dan Atid mencatatnya untuk dilaporkan kepada Allah. Tentu si bandel tidak akan dikumpukkan bersama para Nabiyyin, para Shiddiqin, para Syuhada, dan para shalihin.

Tetapi ada kemungkinan kuat si mayyit akan dikumpulkan bersama para bandeliin lainnya. Baik bandel lantaran melanggar norma agama, maupun melanggar norma kemasyarakatan.
Wallahu a`lam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

BACA JUGA

TULISAN WARGA TERBARU

Apakah Berita Ini Benar? Mohon konfirmasinya!

Kemudahan di bidang teknologi informasi membawa implikasi mudahnya seseorang menyebarkan pesan apapun yang ia terima. Apakah pesan tersebut benar, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan dunia...

Ilmu Tafsir Tingkat Dasar : Fardhu Ain Bagi Muslim

Al Quran diturunkan kepada manusia sebagai petunjuk hidup, sekaligus pembeda (Furqon). Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, dan pembeda antara orang yang beriman dengan orang...

Bandara Baru A. Yani Semarang Disiapkan Menyambut Mudik Lebaran

Tidak sampai sebulan lagi lebaran tiba. Bandara A.Yani Semarang terus berbenah menyiapkan fasilitas yang layak untuk bandara baru yang tidak jauh letaknya di belakang...
loading...