Pemasangan iklan, hubungi kami di sini

Kabar Keseimbangan Ekosistem Budidaya dengan Reaktor Cacing

Keseimbangan Ekosistem Budidaya dengan Reaktor Cacing

Kabar Keseimbangan Ekosistem Budidaya dengan Reaktor Cacing

Keseimbangan Ekosistem Budidaya dengan Reaktor Cacing

WARGASERUJI – Setelah Puji Heru Sulistiyono berhasil menciptakan reaktor cacing, beberapa masalah budidaya serasa ada harapan teratasi. Terutama, karena budidaya yang dilakukan biasanya mengganggu ekosistem alami demi jumlah produksi. Demikian kesimpulan dari paparan yang disampaikan Puji saat pertemuan antara MPM PDM Sleman dengan petani binaan Bendosari, Sumbersari, Moyudan, Sleman, Selasa (14/5).

Berdasar analisa sekilas yang dilakukan Puji, daerah pertanian di Bendosari sudah berubah tidak alami. Ditandai dengan menghilangnya hewan kunang-kunang yang menjadi unsur ekosistem persawahan yang penting. Hasilnya, kualitas padi menurun.

Penggunaan pupuk kimia dan pestisida, serta pembakaran jerami dan dedaunan, disinyalir menjadi penyebab beberapa spesies yang dibutuhkan untuk keseimbangan ekosistem sawah menghilang. Untuk mengembalikannya, perlu usaha tambahan namun efisien tenaga dan tempat.

Reaktor cacing dibuat untuk mempercepat proses ekologi. Kebutuhan media untuk mengolah sisa bahan organik bisa terpenuhi dengan sedikit usaha dan sempitnya lahan. Reaktor cacing memanfaatkan ruang vertikal, dengan bahan bambu atau ban bekas.


Sisa-sisa organik bisa berasal dari daun-daun yang rontok, batang pisang yang sudah dipanen, sisa sayuran dari dapur, jerami padi, dan lainnya. Semua bisa sebagai bahan reaktor cacing, bahkan tanpa perlu dicacah. Cukup dengan melakukan pemadatan dan menjaga kelembabannya dengan menyiramkan air secara rutin tiap hari.

Hasilnya bisa dipanen secara kontinyu, karena sistem vertikal dari reaktor cacing menggunakan sistem First In First Out (FIFO). Hasil ada di bawah reaktor, bisa diambil sedikit demi sedikit. Sedangkan bahan baku dimasukkan dari atas.

Hasil utama dari reaktor cacing adalah tanah bekas cacing (kascing) sebagai media tanam yang subur, dan cacing. Selain untuk komoditas bernilai ekonomi, cacing juga bisa langsung digunakan sebagai pakan ternak unggas dan ikan. Bahkan, ayam atau itik bisa berburu sendiri di sekitar reaktor cacing.

Tidak hanya dihuni cacing, beberapa jenis serangga juga akan berkembang biak di sana. Banyak jenis serangga menjadi hama tanaman karena makanan pokoknya berupa sisa-sisa dedaunan dan tanaman yang mati tidak tersedia, sehingga menyerang tanaman hidup. Setidaknya, demikian menurut pengalaman Puji, yang menemukan banyak hewan berkumpul memakan zat organik bekas cacing di sebuah polibag tanpa merusak tanamannya itu sendiri.

Reaktor cacing dipandang mampu menyelesaikan putusnya ekosistem, sehingga sampah organik yang seharusnya diurai, tidak dibakar percuma. Tinggal keseriusan warga menggarapnya.


BACA JUGA

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.

Ingin Jadi Penulis Warga, silahkan bergabung di sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

YANG LAGI PRO-KONTRA

Pemakan Tanah Papua, Siapa?

Keluarga Besar Indonesia, sepertinya lebih enak diterima daripada "NKRI Harga Mati". Lebih humanis, merangkul. Antara hati dengan hati. Saling bantu, bukan berebut. Saling melindungi, bukan saling menguasai.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

ARTIKEL TERBARU

Baper dan Islamphobia

Ketika masih di Taman Kanak-Kanak, anak-anak diajari tentang tiga kata sakti yang mampu meluluhkan hati manusia. Yaitu maaf, tolong, dan terima kasih. Akan tetapi dalam realitasnya, tiga kata ini tidak mudah diucapkan. Ada orang yang enggan mengatakan terima kasih padahal sudah dibantu oleh orang lainnya. Entah kenapa.

Kisah Nyata: Kaki Sendiri Diseterika

Tampak koreng berukuran kurang lebih 3x7 cm di punggung kaki kanan seorang bapak berumur 50 tahun. Sebuah luka koreng yang disebabkan oleh ulahnya sendiri. Tiga bulan yang lalu, lelaki setengah baya itu menyeterika kakinya sendiri dengan sengaja dan kesadaran penuh. Apa gerangan yang membuatnya nekat berbuat begitu?

PTSL Masih Bermasalah, Desa Sugihmukti Diduga Lakukan Pungli Pengurusan Sertifikat

Seperti pantauan penulis di Desa Sugihmukti Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung, program sertifikat murah ini dimanfaatkan oleh oknum aparat desa dengan cara memungut administrasi diluar ketentuan.

Hai Papua, Saya yang Monyet

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi anti rasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum. Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non Papua. Mungkin saya lah monyet itu.

Indonesia dan Thailand Kembangkan Kerjasama Wakaf Produktif

Thailand sudah memiliki miniatur 'Kota Wakaf' yaitu pembangunan di atas tanah wakaf sebesar 500 hektare mencakupi pembangunan rumah sakit, town house, Islamic center, masjid agung, stadion, kampus Fatoni University, Asean Mall serta fasilitas pendukung lainnya

Senangnya Menang Lomba Menulis PWI, Walau Hanya Pemenang Harapan

Ada nomor tak dikenal masuk ke nomor WA saya. Bunyinya mengagetkan, karena hanya berisi link berita dan permintaan alamat dan nomor rekening. Ternyata, setelah di telusur, tercatat menjadi pemenang di lomba menulis PWI 2019! Senangnya, walau hanya pemenang harapan.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

Diskusi FORPI Sleman: Pengusaha Sampah

Kalau pun pengusaha pengguna sampah terpilah mau membayar mahal, berarti produk yang diolah tinggi nilainya. Contoh nilai tambah yang besar adalah memanfaatkan sampah organik untuk budidaya Magot dan cacing tanah. Selain kandungan protein yang tinggi dari larva magot dan cacing yang didapat, juga tanah bekasnya bisa langsung dipakai sebagai media tanam. 

Kajian Ekonomis Reaktor Cacing

Reaktor cacing temuan Puji Heru Sulistiyono, berhasil meraih beberapa penghargaan dan apresiasi dari Gubernur DIY, Kalpataru dan CSR Pertamina TBBM Rewulu.

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

TERPOPULER

Hai Papua, Saya yang Monyet

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi anti rasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum. Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non Papua. Mungkin saya lah monyet itu.

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.