Indonesia dan Thailand Kembangkan Kerjasama Wakaf Produktif

Indonesia dan Thailand Kembangkan Kerjasama Wakaf Produktif

JAKARTA, WARGASERUJI – Pendiri Wakafpreneur Institute, Imam Nur Azis mengatakan Indonesia bisa bertukar pengalaman dengan Thailand dalam mengelola wakaf sehingga mampu memberdayakan ekonomi masyarakat.

Kepada wartawan di Jakarta, Senin (5/8), Imam mengatakan saat ini Thailand sudah mengembangkan inovasi wakaf produktif seperti Asean Mall Pattani.

“Thailand sudah memiliki miniatur ‘Kota Wakaf’ yaitu pembangunan di atas tanah wakaf sebesar 500 hektare mencakupi pembangunan rumah sakit, town house, Islamic center, masjid agung, stadion, kampus Fatoni University, Asean Mall serta fasilitas pendukung lainnya,” kata dia.

Imam yang juga merupakan pengurus Badan Wakaf Indonesia (BWI) itu juga mengajak Indonesia belajar dari Thailand dalam mengelola industri halal yang maju dalam bidang itu.

“Kita perlu saling belajar kepada pelaku industri halal dunia seperti Thailand,” katanya.

Menurut dia, Thailand sangat aktif sebagai produsen industri halal bahkan masuk sampai lima besar di dunia.

Dia mengatakan Indonesia dan Thailand kini sudah menjalin kerja sama untuk kemitraan strategis dalam bidang wakaf dan industri halal.

Pada 25 Juli dengan disaksikan perwakilan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), Wakafpreneur Institute dan Asean Halal Trade and Investment Association (AHTIA) Thailand menandatangani kerja sama untuk pengembangan wakaf dan industri halal. Penandatanganan nota kesepahaman itu dilakukan di sela acara World Halal Products Exhibition and Conference (World Hapex) 2019 di Hat Yai, Thailand, 25-26 Juli.

World Hapex sendiri kegiatan yang di dalamnya diisi dengan seminar, “business matching”, pameran halal serta demonstrasi kebolehan koki.

Melalui nota kesepahaman dengan ATHIA Thailand itu, Imam mengatakan Wakafpreneur Institute berupaya menindaklanjuti realisasi wakaf produktif bernama Madinatussalam.

“Wakafprenuer Institute berharap melalui MoU ini kita dapat mendorong terciptanya ekosistem industri halal di regional ASEAN sehingga berdampak positif bagi kemajuan umat,” katanya.

Menurut dia, potensi wakaf Indonesia bisa dikembangkan dengan strategi 5C yaitu “campaign, create, convert, competent, dan comply”.

Direktur Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal KNKS, Afdhal Aliasar mengatakan lembaganya sebagai motor penggerak dan katalisator pembangunan ekonomi syariah di Indonesia dan global menyambut baik kemitraan tersebut.

“KNKS mendukung segala bentuk kerja sama antarpemangku kepentingan baik nasional maupun internasional, khususnya dalam hal pembangunan industri halal,” kata dia.

Afdhal mengatakan KNKS juga mendukung terbentuknya komitmen kerja sama oleh pelaku industri halal antarnegara melalui skema pembiayaan wakaf.

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Membuat Gula Merah dari Nira Batang Sawit

Ternyata batang kelapa sawit yang telah tumbang dapat diambil niranya untuk dijadikan gula merah, demikian menurut seorang anggota DPRD Kota Dumai dari Partai Gerindra,...

Kudis, Penyakit Kulit Klasik yang Masih Mengusik

Kudis yang dalam bahasa medis disebut scabies merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit yang bernama  Sarcoptes Scabeiei varian Hominis. Kudis bisa...

BPJS Naik, Rakyat Tercekik

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengusulkan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kelas I dan kelas II, naik 100 persen. Rencananya, kenaikan iuran...

Ada Tawaran Menarik dari Ustadz Adi Hidayat, Anda Berminat?

Menurut ustadz yang pernah bermimpi bertemu Rasulullah SAW ini, argumentasi sebaiknya dijawab dengan argumentasi, ilmiah dengan ilmiah, jadi elegan, jangan ilmiah dengan golok.