Pemasangan iklan, hubungi kami di sini

Kabar Gerakan Memanen Air Hujan

Gerakan Memanen Air Hujan

Kabar Gerakan Memanen Air Hujan

Gerakan Memanen Air Hujan

SLEMAN, WARGASERUJI – Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman, mengadakan acara buka bersama dan diskusi di aula Rumah Dinas Wakil Bupati Sleman, pada hari Senin (20/5). Salah satu paparan narasumber adalah tentang gerakan memanen air hujan, yang disampaikan oleh Dwi Agus Kuncoro, ST, MM, MT, Kabid Perencanaan Umum dan Program BBWS Bengawan Solo.

Dalam paparannya, ia menyebutkan bahwa gerakan memanen air hujan sudah mulai digelorakan. Saat ini tercatat ada 25 WAG yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, terkait dengan gerakan tersebut.

Bahkan, sudah terlaksana Konggres Gerakan Memanen Air Hujan pertama 28 Nopember 2018 di Yogyakarta. Sehingga akan tercatat sebagai sejarah terkait gerakan memanen air hujan.

Pada dasarnya, terdapat kearifan lokal (local wisdom) yang sudah berlaku turun temurun di masing-masing daerah. Masyarakat Jawa mengenalnya dengan Giri Sa Goro. Masyarakat Bali mengenalnya sebagai Nyegoro Gunung. Sedangkan di Sunda, lebih lengkap lagi dengan nama Papatah Ki Sunda.


Ada 21 metode dalam memanen air hujan. Dari dua puluh metode itu, ada yang bisa dilakukan oleh masyarakat, yang dampaknya kecil. Adapun yang berdampak sedang, menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah daerah. Sisanya, skala luas dan menasional yang menjadi tanggungjawab pemerintah pusat. Beberapa metode sudah disebut dalam Papatah Ki Sunda.

Salah satu kearifan papatah sunda, menganjurkan menanam bambu di tepi sungai. Dipilihnya tanaman bambu, karena cepat tumbuh dan akarnya mencengkeram kuat. Kearifan ini perlu dikembangkan dengan mencarikan tanaman varietas yang lebih baik, seperti tanaman jangkar dengan akar tunjang yang bisa lebih menjangkau kedalaman tanah.

Salah satu kearifan lokal yang bisa dilakukan dalam skala rumahan, disebut Lembur Uruseun yang bermakna “uruslah kampungmu”. Karena, pemukiman akan selalu berkembang dengan bertambahnya jumlah penduduk. Selain itu, Lembur Uruseun melibatkan banyak metode aktivitas konservasi air dibandingkan yang lainnya.

Konservasi Air Hujan

Prinsip konservasi air hujan adalah dengan menahan laju air hujan agar menjadi lambat sampai ke hilir. Ada dua macam cara, dengan memanfaatkannya atau dengan menyimpan tanpa memanfaatkannya. Sumur peresapan dan pembuatan bio pori adalah cara konservasi air hujan tanpa memanfaatkannya secara langsung.

Kalau berada di topografi tanah miring, sebaiknya bukan dengan peresapan karena rawan longsor. Lebih baik menampungnya di atas permukaan tanah. Apalagi, jika secara geologis berupa tanah lempung, akan mengembang bila terkena air dan membuat tanah menjadi semakin labil.

Penampungan di atas permukaan tanah juga bisa dilakukan dengan skala rumahan. Asal ada bangunan dan atapnya, konservasi tipe ini bisa dilakukan. Contohnya kampung torn.

Konservasi secara luas dilakukan dengan penanaman pohon tertentu, juga perlu kajian yang mendalam. Terbukti, walau tanah di lereng gunung penuh dengan tumbuhan lebat, ternyata tetap terjadi longsor seperti yang pernah terjadi di Jepang.

Aspek-aspek konservasi tersebut membutuhkan political will yang kuat dari pemerintah, dengan tujuan munculnya kesadaran masyarakat secara luas. Tanpa hal tersebut, hanya akan muncul dalam skala kecil.

Pemanfaatan air hujan skala kecil selain bisa digunakan untuk air baku, juga bisa untuk air minum dengan pengolahan tertentu. Dengan cara ini, mengurangi konsumsi air minum dalam kemasan yang berefek samping sampah plastik botol atau gelas kemasan.

Terkait dengan konservasi skala menengah yang dilakukan pemerintah daerah, utamanya di daerah hulu seperti sleman, sebaiknya membuat drainase yang tidak sekedar membuang air hujan ke sungai atau saluran secara langsung. Memang, tidak akan membuat genangan air, tapi di hilir akan terkena dampaknya seperti banjir karena limpahan dari hulu.

Saran drainase yang bagus, ada semacam klep agar air tidak terlalu cepat dibuang dan dibuat serapan di kiri dan kanannya. Ada waktu agar air menggenang dan punya kesempatan terserap ke dalam tanah.

Slogan air sumber kehidupan perlu ditanamkan di masyarakat dengan tindakan nyata. Gerakan memanfaatkan air hujan dan menyedekahkannya adalah salah satunya. Sehingga pihaknya mendukung komunitas-komunitas seperti Banyu Bening yang digawangi Sri Wahyuningsih dan teman-teman.


BACA JUGA

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.

Ingin Jadi Penulis Warga, silahkan bergabung di sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

YANG LAGI PRO-KONTRA

Pemakan Tanah Papua, Siapa?

Keluarga Besar Indonesia, sepertinya lebih enak diterima daripada "NKRI Harga Mati". Lebih humanis, merangkul. Antara hati dengan hati. Saling bantu, bukan berebut. Saling melindungi, bukan saling menguasai.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

ARTIKEL TERBARU

Baper dan Islamphobia

Ketika masih di Taman Kanak-Kanak, anak-anak diajari tentang tiga kata sakti yang mampu meluluhkan hati manusia. Yaitu maaf, tolong, dan terima kasih. Akan tetapi dalam realitasnya, tiga kata ini tidak mudah diucapkan. Ada orang yang enggan mengatakan terima kasih padahal sudah dibantu oleh orang lainnya. Entah kenapa.

Kisah Nyata: Kaki Sendiri Diseterika

Tampak koreng berukuran kurang lebih 3x7 cm di punggung kaki kanan seorang bapak berumur 50 tahun. Sebuah luka koreng yang disebabkan oleh ulahnya sendiri. Tiga bulan yang lalu, lelaki setengah baya itu menyeterika kakinya sendiri dengan sengaja dan kesadaran penuh. Apa gerangan yang membuatnya nekat berbuat begitu?

PTSL Masih Bermasalah, Desa Sugihmukti Diduga Lakukan Pungli Pengurusan Sertifikat

Seperti pantauan penulis di Desa Sugihmukti Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung, program sertifikat murah ini dimanfaatkan oleh oknum aparat desa dengan cara memungut administrasi diluar ketentuan.

Hai Papua, Saya yang Monyet

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi anti rasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum. Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non Papua. Mungkin saya lah monyet itu.

Indonesia dan Thailand Kembangkan Kerjasama Wakaf Produktif

Thailand sudah memiliki miniatur 'Kota Wakaf' yaitu pembangunan di atas tanah wakaf sebesar 500 hektare mencakupi pembangunan rumah sakit, town house, Islamic center, masjid agung, stadion, kampus Fatoni University, Asean Mall serta fasilitas pendukung lainnya

Senangnya Menang Lomba Menulis PWI, Walau Hanya Pemenang Harapan

Ada nomor tak dikenal masuk ke nomor WA saya. Bunyinya mengagetkan, karena hanya berisi link berita dan permintaan alamat dan nomor rekening. Ternyata, setelah di telusur, tercatat menjadi pemenang di lomba menulis PWI 2019! Senangnya, walau hanya pemenang harapan.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

Diskusi FORPI Sleman: Pengusaha Sampah

Kalau pun pengusaha pengguna sampah terpilah mau membayar mahal, berarti produk yang diolah tinggi nilainya. Contoh nilai tambah yang besar adalah memanfaatkan sampah organik untuk budidaya Magot dan cacing tanah. Selain kandungan protein yang tinggi dari larva magot dan cacing yang didapat, juga tanah bekasnya bisa langsung dipakai sebagai media tanam. 

Kajian Ekonomis Reaktor Cacing

Reaktor cacing temuan Puji Heru Sulistiyono, berhasil meraih beberapa penghargaan dan apresiasi dari Gubernur DIY, Kalpataru dan CSR Pertamina TBBM Rewulu.

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

TERPOPULER

Hai Papua, Saya yang Monyet

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi anti rasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum. Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non Papua. Mungkin saya lah monyet itu.

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.