Pemasangan iklan, hubungi kami di sini

Kabar Air Hujan untuk Air Minum Kesehatan

Air Hujan untuk Air Minum Kesehatan

Kabar Air Hujan untuk Air Minum Kesehatan

Air Hujan untuk Air Minum Kesehatan

SLEMAN, WARGASERUJI – Sri Wahyuningsih sebagai penggerak komunitas yang diberi nama Banyu Bening, memberikan paparan tentang menggunakan air hujan untuk air minum kesehatan. Hal itu ia sampaikan pada acara buka bersama dan diskusi yang diselenggarakan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman, di aula Rumah Dinas Wakil Bupati Sleman, pada hari Senin (20/5).

Komunitas Banyu Bening sendiri belum begitu populer di Sleman. Namun begitu, tahun lalu sudah diprakarsai sosialisasi komunitas ini di Pendopo Kabupaten yang juga dihadiri berbagai pihak, seperti komunitas dan ormas se-Sleman.

“Karena memang, di Sleman ini air sangat berlimpah, jadi ketika kita di zona aman dan nyaman, itu kita tidak melihat yang lebih baik,” ungkapnya.

Sri Wahyuningsih mengungkapkan rumahnya dijadikan tempat belajar mengajar pengelolaan air hujan. Ditempatnya disediakan air minum dari olahan air hujan yang bebas diambil dikonsumsi secara gratis selama 24 jam setiap hari.


Ia mengajak teman-teman untuk sedekah air, apalagi air hujan asalnya gratis. Ketika air hujan belum termanfaatkan dengan baik, berarti belum ada kesadaran memanfaatkannya. Padahal menurutnya, air hujan itu bagus dibandingkan air minum dari mata air.

Sambil bekelakar menyindir yang hadir, Sri Wahyuningsih menanyakan pilihan air minum, apakah yang “ori” atau yang “kw”. Jawaban hadirin tentu yang “ori”. Namun kemudian ia mempertanyakan mengapa kenyataannya memilih yang “kw” daripada yang “ori”.

Dirinya kemudian memberikan logika sederhana, bagaimana gambaran air hujan yang masih murni tidak terkontaminasi. Berbeda dengan air sumur misalnya, yang mungkin melewati tumpukan sampah sebelum sampai ke lapisan dasar sumur. Apalagi jika mengambil dari sungai.

Komunitas sulit berkembang karena ada pendapat yang luas diterima di masyarakat bahwa air hujan itu tidak baik untuk dikonsumsi. Bahkan, ketika dirinya menyampaikan di suatu daerah, dijawab oleh anak-anak sekolah bahwa air hujan mengandung asam. Ketika ditanya, darimana mereka tahu, mereka jawab dari gurunya.

Visi Komunitas Banyu Bening ada tiga, yakni Mengolah, Merubah, dan Mandiri. Mengolah apa? Mengolah air hujan menjadi air yang siap diminum tanpa direbus.

Yang kedua, Merubah. Merubah cara pandang masyarakat terhadap air hujan. Air hujan memiliki berkah luar biasa bagi manusia.

Ketiga, Mandiri. Mandiri dalam arti mampu mengadakan air minumannya, air kebutuhan sehari-harinya sendiri, tanpa bergantung kepada siapapun.

Cara yang digunakan, yakni menampung dan menabung air hujan. Di Komunitas Banyu Bening ada pembelajaran memanfaatkan air hujan. Prinsipnya, gunakan yang dipunyai, sehingga tidak menjadi penghalang niat seseorang memanfaatkannya.

Air hujan yang bisa dimanfaatkan untuk air minum, bukan air hujan saat awal turunnya. Saat itu, air hujan melarutkan zat-zat polutan di udara dan yang menempel di saluran dan atap rumah.

Setelah beberapa kali hujan deras, barulah air hujan bisa ditampung. Itupun setelah sekitar limabelas menit mulai hujan.

Dari penampungan, kemudian disaring. Setelah itu air bisa digunakan untuk segala keperluan rumah tangga.

Pemanfaatan Air Hujan

Memanfaatkan air hujan menurutnya menyelesaikan banyak masalah. Termasuk salah satunya masalah sampah plastik botol minuman air mineral. Orang membeli air mineral karena tidak yakin akan kualitas air sumur yang dimilikinya. Dengan memanfaatkan air hujan, mengurangi kebutuhan akan air dalam kemasan sehingga secara langsung memotong mata rantai sampah plastik di lingkungan.

Air hujan yang akan dikonsumsi, diolah dengan cara elektrolisa. Dengan cara itu, menghasilkan air asam dan air basa. Dua-duanya punya khasiat yang berbeda.

Air minum dari air hujan, sangat mudah terserap sel-sel tubuh karena kandungan mineralnya rendah. Sehingga, orang yang minum air ini bisa banyak dan tidak mual seperti air mineral. Menurutnya, inilah berkah air hujan untuk kesehatan.

Pernah ia mendapat literasi tentang air hujan, ternyata dalam air hujan terkandung vitamin B12 yang sulit didapatkan dalam makanan. Sedangkan vitamin B12 berfungsi membantu metabolisme tubuh. Sehingga minuman dari air hujan sangat bagus untuk terapi kesehatan.

Fungsi yang kedua dari vitamin B12 adalah membantu membangun jaringan sel baru. Ada seorang pasian HD yang terjadwal dua kali dalam seminggu. Keluhannya, sulit tidur. Setelah diberi air minum dari air hujan, berefek menenangkan sehingga bisa tidur. Selain itu, sebelumnya hanya diijinkan minum dua gelas. Namun, saat ini bisa minum sebanyak-banyaknya tanpa masalah.

Pada awalnya, Sri Wahyuningsih hanya termotivasi bagaimana cara mengatasi kekeringan saat musim kemarau. Namun, sekarang lebih terkenal sebagai “dukun banyu”, karena beberapa kali berhasil melakukan terapi kepada orang-orang yang sakit dengan air minum dari air hujan. Banyak anggota komunitasnya berasal dari mantan “pasien” nya.

Yang sangat menginspirasi, air minum dari air hujan yang ia gagas tetap sebagai air gratis, tidak dijual dan dikomersilkan. Apa yang ia perjuangkan bahkan pernah dikatai sebagai orang “edan” atau gila.

Kegiatan yang dilakukan Komunitas Banyu Bening bukan hanya mengkampanyekan air hujan sebagai air minum, namun juga kegiatan lainnya. Kegiatan itu diantaranya mengadakan gerakan bibit tanaman konservasi seperti tanaman gayam, dan membangun budaya malu membuang sampah plastik sejak dini.

Selain itu, bersama komunitas mengembangkan produk-produk yang berbahan baku air hujan dengan bahan lain. Hebatnya, jangan ditanya harga karena semua gratis. Misi sosialnya kental dan lebih senang mengajak untuk belajar bersama.


BACA JUGA

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.

Ingin Jadi Penulis Warga, silahkan bergabung di sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

YANG LAGI PRO-KONTRA

Pemakan Tanah Papua, Siapa?

Keluarga Besar Indonesia, sepertinya lebih enak diterima daripada "NKRI Harga Mati". Lebih humanis, merangkul. Antara hati dengan hati. Saling bantu, bukan berebut. Saling melindungi, bukan saling menguasai.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

ARTIKEL TERBARU

Baper dan Islamphobia

Ketika masih di Taman Kanak-Kanak, anak-anak diajari tentang tiga kata sakti yang mampu meluluhkan hati manusia. Yaitu maaf, tolong, dan terima kasih. Akan tetapi dalam realitasnya, tiga kata ini tidak mudah diucapkan. Ada orang yang enggan mengatakan terima kasih padahal sudah dibantu oleh orang lainnya. Entah kenapa.

Kisah Nyata: Kaki Sendiri Diseterika

Tampak koreng berukuran kurang lebih 3x7 cm di punggung kaki kanan seorang bapak berumur 50 tahun. Sebuah luka koreng yang disebabkan oleh ulahnya sendiri. Tiga bulan yang lalu, lelaki setengah baya itu menyeterika kakinya sendiri dengan sengaja dan kesadaran penuh. Apa gerangan yang membuatnya nekat berbuat begitu?

PTSL Masih Bermasalah, Desa Sugihmukti Diduga Lakukan Pungli Pengurusan Sertifikat

Seperti pantauan penulis di Desa Sugihmukti Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung, program sertifikat murah ini dimanfaatkan oleh oknum aparat desa dengan cara memungut administrasi diluar ketentuan.

Hai Papua, Saya yang Monyet

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi anti rasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum. Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non Papua. Mungkin saya lah monyet itu.

Indonesia dan Thailand Kembangkan Kerjasama Wakaf Produktif

Thailand sudah memiliki miniatur 'Kota Wakaf' yaitu pembangunan di atas tanah wakaf sebesar 500 hektare mencakupi pembangunan rumah sakit, town house, Islamic center, masjid agung, stadion, kampus Fatoni University, Asean Mall serta fasilitas pendukung lainnya

Senangnya Menang Lomba Menulis PWI, Walau Hanya Pemenang Harapan

Ada nomor tak dikenal masuk ke nomor WA saya. Bunyinya mengagetkan, karena hanya berisi link berita dan permintaan alamat dan nomor rekening. Ternyata, setelah di telusur, tercatat menjadi pemenang di lomba menulis PWI 2019! Senangnya, walau hanya pemenang harapan.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

Diskusi FORPI Sleman: Pengusaha Sampah

Kalau pun pengusaha pengguna sampah terpilah mau membayar mahal, berarti produk yang diolah tinggi nilainya. Contoh nilai tambah yang besar adalah memanfaatkan sampah organik untuk budidaya Magot dan cacing tanah. Selain kandungan protein yang tinggi dari larva magot dan cacing yang didapat, juga tanah bekasnya bisa langsung dipakai sebagai media tanam. 

Kajian Ekonomis Reaktor Cacing

Reaktor cacing temuan Puji Heru Sulistiyono, berhasil meraih beberapa penghargaan dan apresiasi dari Gubernur DIY, Kalpataru dan CSR Pertamina TBBM Rewulu.

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

TERPOPULER

Hai Papua, Saya yang Monyet

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi anti rasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum. Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non Papua. Mungkin saya lah monyet itu.

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.