Tak jarang pasien datang ke praktek dokter atau ke IGD dengan keluhan tidak bisa berkemih, padahal kandung kemihnya sudah terasa penuh dan hasrat ingin pipispun sudah tak bisa ditahan, namun air seni tak kunjung keluar.

Kondisi diatas disebut retensio urine. Retensi urine hanyalah symptom dari penyakit yang mendasarinya. Retensi urine bisa disebabkan oleh gangguan syaraf, kelemahan otot kandung kemih ataupun sumbatan. Syaraf pengatur miksi (pipis) terletak di medulla spinalis, bila terjadi kelainan pada medulla spinalis misal pada penyakit meningokel.

Otot kandung kemih berfungsi untuk memeras kandung kemih sehingga urin bisa keluar dari kandung kemih menuju saluran urethra yang kemudian oleh urethra urin akan dipancarkan keluar.  Otot kandung kemih yang lemah maka daya perasnyapun akan menjadi lemah, sehingga urin tidak bisa keluar dari kandung kemih. Kelemahan otot kandung kemih bisa disebabkan oleh  penyakit diabetes melitus dan beberapa penyakit lainnya.

Sumbatan pada urethra juga berakibat retensio urine, urethra bisa tersumbat oleh batu maupun tumor. Selain itu urethra juga bisa tersumbat akibat tergencet oleh prostat yang membesar. Posisi anatomi prostat berdekatan dengan urethra, bila prostat mengalami pembesaran maka akan melingkupi lumen urethra sehingga urin tidak bisa mengalir dengan lancar. Seperti yang terlihat pada gambar berikut.

Penanganan retensio urine tergantung oleh faktor penyebabnya, namun kondisi daruratnya harus segera diatasi berupa pengeluaran urin dari kandung kemih sesegera mungkin. Langkah darurat yang bisa dilakukan dengan pemasangan kateter urethra, namun bila tidak berhasil maka dilakukan pungsi suprapubik dan kateter suprapubik untuk kemudian dilakukan tindakan definitif sesuai dengan penyakit yang mendasari. Tindakan definitif bisa dilakukan dikemudian hari. Sebelum dilakukan tindakan definitif harus terlebih dahulu ditegakkan diagnosa penyebab retensio urine.

Terkadang dalam kondisi tertentu pemasangan kateter urethra merupakan satu-satunya tindakan yang bisa diambil, misal pada orang yang sudah sangat lanjut usia tidak bisa dilakukan operasi prostat karena beresiko tinggi. Pada kasus seperti ini kateter urethra tersebut digunakan seumur hidup dengan diganti alatnya setiap seminggu sekali.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

loading...
BACA JUGA

TULISAN WARGA TERBARU

Belajar dari Iwan Fals: Kedewasaan tak Selalu Linier dengan Usia

"Tadinya mau puasa ngetwit sampai lebaran, tapi begitu baca berita ini batal dah puasanya... https://t.co/HD9UiTnX9P " twit Iwan Fals melalui akun twitternya pada 10...

Faedah Mendekati Ulama

Sebagaimana diriwayatkan, bahwa Imam Al-auza`i adalah seorang alim, ahli fiqih yang bijak, dan murid-murid beliau sangat banyak, karena beliau terkenal sangat akrab dengan para...

SP3 HRS, Penyidikan Dihentikan?

Kasus yang menimpa Habib Rizieq Shihab (HRS) tergolong unik. Dari sejak percakapan berbau porno yang dituduhkan kepadanya, entah siapa pembuatnya, hingga proses pemberitaan masif...