Ingin Menulis di WARGA SERUJI? Klik disini

Ilmu Hadits dan Jurnalistik

Ilmu Hadits dan Etik Jurnalistik  Dalam sebuah kajian pengantar ilmu hadits dasar, dijelaskan gambaran umum bagaimana menilai suatu pernyataan apakah benar dari Rasulullah saw atau bukan. Karena terkait dengan hal ihwal informasi,  menarik untuk disandingkan secara bahasan sederhana dengan etik jurnalistik.

Ilmu hadits berkembang pada akhir masa ulama Mutaqaddimin. Ilmu ini tidak dikenal di masa sahabat Nabi, karena mudahnya klarifikasi antar sahabat dalam meriwayatkan hadits.  Baru generasi setelahnya, ketika bermunculan hadits-hadits palsu,  para ulama meneliti secara sungguh-sungguh untuk memilah mana yang shahih dan mana yang dhaif.

Semangat meneliti hadits ini dilandasi atas ketinggian ketakwaan generasi setelah sahabat yang berhati-hati dalam menetapkan kesahihan hadits.  Bahkan hingga muncul kaidah, bahwa asal hukum menyebarkan hadits itu haram, kecuali jika sudah benar-benar dipastikan kesahihannya.

Bila dibandingkan dengan ilmu jurnalistik, ilmu hadits jauh lebih dalam pembahasannya dan jauh lebih ketat serta akurat. Beberapa ulama bahkan mengklasifikasi cabang ilmu hadits hingga puluhan jumlahnya, dan setiap cabang ilmu tersebut memerlukan waktu lama untuk mempelajarinya.

Salah satu yang menarik untuk dikaitkan dengan jurnalistik adalah bagaimana posisi pemberi kabar (perawi) terhadap sumber kabar.  Dalam ilmu hadits, ada istilah tadlis, yakni mengaku mendengar langsung dari sumber informasi, padahal tidak.  Walau informasinya benar, haditsnya tidak diterima, kecuali memenuhi syarat-syarat tambahan.

Misal,  si A mengucapkan sesuatu. Si B mendengar langsung. Si C mendengar dari si B.  Si C menyampaikan ucapan si A kepada orang lain tanpa menyebut informasi itu didapat dari si B.  Dalam ilmu hadits, ini disebut tadlis, walau kutipannya benar.

Dalam etik jurnalistik juga demikian, pengabar tidak boleh mengakui mendengar suatu informasi dari narsum secara langsung jika memang tidak bertemu langsung.  Atau mengabarkan suatu kondisi seolah-olah dirinya berada di tempat kejadian,  padahal tidak.

Periwayatan hadits lebih ketat dalam persyaratannya dibanding yang dilakukan jurnalis, karena informasinya melalui jalur yang panjang,  dari perawi ke perawi yang lain hingga ujungnya sampai Rasulullah saw.  Sedangkan jurnalis, cukup apa yang ia lihat dan dengar secara langsung dari suatu peristiwa atau dari nara sumber.

Tetapi,  perlu dicermati perbedaannya.

Saat ini, teknologi komunikasi dalam berita-berita media sudah sangat maju, namun itu termasuk pengolahan informasi yang canggih untuk memenuhi kepentingan tertentu,  salah satunya dengan teknik framming berita.  Juga teknik-teknik lain,  barangkali, yang bisa menembus celah kode etik jurnalistik.

Periwayatan hadits tidak seperti itu. Tak ada kepentingan kecuali untuk mendapatkan secara akurat informasi dari Rasulullah apa adanya.  Motivasi ini didasari pada prinsip Islam, yakni kepasrahan kepada Allah saja,  dengan bukti hanya mengikuti rasul Nya.

Maka,  seharusnya umat Islam dapat unggul dalam persaingan media,  berdasar kultur ilmu hadits yang telah teruji secara ilmiah.  Jika sekarang terbelakang,  bisa jadi umat sudah meninggalkan warisan para ulama tersebut bahkan mengabaikannya.

Tanda fitnah akhir zaman sudah dimulai.

Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Muhammad Hanif Priatama
Penulis bebas yang bebas menulis untuk belajar menjadi manusia sesungguh-sungguhnya
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TANGGAPAN TERBANYAK

TERPOPULER