Keajaiban mukjizat terus berlanjut, yaitu di kala sebagian kaum bani Israil meminta tolong kepada Nabi Musa untuk menjadi hakim dari perkara yang mereka perselisihkan. Perkara pembunuhan, dan siapa pembunuhnya.

Zaman itu, tidak ada CCTV, rekam sidik jari, teknologi forensik, tes DNA, atau bahkan sekedar gambar atau foto, tak ada. Jika terjadi saling tuduh, ujung-ujungnya perselisihan dan perang.

Maka beberapa orang bijak di antara mereka sadar bahwa ada Rasul di tengah-tengah mereka. Rasul yang sudah sangat sering mereka lihat diberi mukjizat dari Allah, yakni Nabi Musa.

Bagaimana Nabi Musa membuktikan siapa pembunuhnya, dan kemudian kaum yang biasa membantah itu mau mengikuti keputusannya? Bukankah telah sering mukjizat diperlihatkan tetapi kemudian dilalaikan bahkan dibantah habis? Maka cara dan tak bisa dibantah: hidupkan lagi si mayat yang dibunuh.

Nabi Musa memerintahkan mencari sapi betina, sesuai perintah Allah.

Kaum yang berselisih heran dan menganggap Nabi Musa mempermainkan mereka. Nabi Musa menyatakan sebaliknya, bahwa sama sekali jauh dari persangkaan mereka. Nabi Musa hanya menyampaikan apa yang diperintahkan Allah.

Seberapapun banyak mukjizat Allah yang ditunjukkan, tak akan memuaskan mereka, karena mereka selalu diliputi keragu-raguan. Keragu-raguan muncul karena segala sesuatu diukur menurut selera akal mereka semata. Maka, selera akal mereka menyatakan tak mungkin hanya sekedar sapi betina biasa.

Untuk memuaskan selera akal, mereka meminta Nabi Musa merinci jenis, warna, dan ciri-ciri sapi betina yang dimaksud. Akhirnya, selera akal merekalah yang menyusahkan diri mereka sendiri, dengan sulitnya mencari sapi betina yang dimaksud.

Andaikan mereka segera menjalankan perintah tanpa banyak bertanya, niscaya sapi betina yang manapun tak jadi soal.

Berhati-hatilah, selera akal bisa mematikan nalar dan mengeraskan hati. Kebenaran hanya dimasukkan ke dalam kotak-kotak yang mereka atur sendiri, satu kebenaran tidak berimplikasi terhadap kebenaran yang lain.

Sebesar apapun mukjizat kebenaran para Rasulnya, maka tidak akan menghalangi mereka melakukan apapun yang sesuai selera akal mereka.

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan isi komentar anda
    Masukan Nama Anda