Dolar Dan Rupiah

Ayahku hanya seorang guru SD.  Beliau punya kenangan yang sangat baik untuk diceritakan kepada anak cucunya. “Disaat saya dulu, saya dapat beasiswa dari pemerintah.  Jika dibandingkan dengan jumlah mata uang saat ini, harganya tidak seberapa.  Saya hanya dapat beasiswa 160 rupiah perbulan.  Tapi jika dibandingkan dengan harga emas saat itu, harganya sangat tinggi.  Karena harga emas tahun 1955 Rp 20/gram”.

Jika dihitung nilai saat ini, berarti beasiswa yang diterima seorang murid SGB (Sekolah Guru Bawah setingkat SLTP) sebesar Rp 3,2 juta rupiah, karena harga emas sekarang berkisar Rp 400.000,- pergram.  Sebuah nilai yang sangat besar untuk seorang siswa SLTP.  Pantasan ayahku menyatakan, bahwa beliau bisa menabungkan siswa beasiswa yang dia terima setelah dia puas menggunakannnya.

Saat aku menunaikan ibadah haji bersama keluarga, sebagaimana jamaah yang lain, kami harus belanja dan memasak sendiri.  Belanja di pasar Misfalah, tidak terasa mahal jika hanya melihat rial yang dipegang.  Ketika sudah dikurskan ke rupiah, sungguh luar biasa.  Satu bungkus mie instan dengan harga 1 rial setara dengan Rp 3.700,-.  Seporsi nasi gorong di rumah makan sidoel 10.000 rial setara dengan Rp 37.000,-  Aku bayangkan, jika makan nasi goreng dengan harga Rp 37.000/porsi, di Indonesia berarti aku sudah makan di sebuah restoran mewah.  Kalau di rumah makan padang, hanya Rp 15.000,- perporsi dan ini berarti bisa untuk 2 orang.

Kejadian ini berulang, dikala aku ke Hongkong ikut sebuah seminar.  Sore hari selesai seminar, aku pergi keliling kota bersama rekan-rekan rombongan Indonesia.  Ada teman yang masuk pasar keluar pasar mencari oleh-oleh.  Akupun tak mau ketinggalan, minimal aku bisa bawa satu atau dua cendra mata untuk keluarga.

Ku masuk sebuah pasar tradisional di Hongkong.  Sangat fantastis.  Aku tidak lihat adanya sampah berserakan, semua tertata rapi, bersih dan menyenangkan.  Walaupun kaki ramai berkeliaran,  namun semua tetap terjaga baik.  Berbeda jauh dengan pasar yang kita punya di Indonesia.  Becek, kotor dan sembraut.

Aku cari baju kaus.  Aku berfikir, jika baju kaus yang dibeli, tentu akan banyak yang ku bawa sebagai oleh-oleh.  Lagi pula anak-anakku sangat doyan baju kaus.  Apalagi sibungsu yang sangat gemar dengan kaus yang punya gambar dan tulisan tempat dimana di beli.  Aku bayangkan dia tentu akan lebih bangga dengan baju kaus oleh-oleh dari Hongkong.

Aku sebuah baju kaus dan ku periksa jenis kainnya.  Aku teringat dengan sebuah baju kaus dengan kwalitas yang sama di pasarraya Padang, harganya Rp 100.000,-  Ini cukup bagus fikirku  Apalagi ada gambar lambang kota Hongkong, ini tentu akan membuatnya bangga.  Sementara untuk kakak dan abangnya aku bias carikan yang lain.  Sewaktu aku melihat tarif  yang tertara dibaju tersebut, aku kaget.  Harganya 100 dolar Hongkong. Ah. Ternyata belanja di Hongkong, harganya tinggi fikirku.  Karena jika dikurskan ke rupiah dengan harga dolar hongkong Rp 1.750/dolar hongkong maka harga kaus yang ku pegang Rp 175.000,-  Kejadian ini berlanjut disaat aku beli segelas kapucino yang harganya sampai 9 dolar hongkong atau Rp 15.750,- yang jika kita di Indonesia hanya Rp 4.000/gelas.

Saat ini walaupun UMR dinaikkan karena upah buruh yang mereka terima tidak lagi bisa membuat mereka hidup layak, akibat harga barang yang terus melonjak, upah yang mereka terima tetap tidak cukup  dan upah untuk 1 bulan, satu minggupun sudah ludes.

Kenapa harga rupiah dipertahankan pada kisaran 13.000 perdolar?  Andaikan harga rupiah jauh lebih kuat, setidaknya Rp 7.500/dolar US (harga sewaktu jabatan presiden Habibie berakhir) maka ku kira harga bisa turun, daya beli masyarakat dengan sendirinya akan membaik. Tidak perlu pemerintah memikirkan kenaikan UMR tiap tahun. ( Elfizon Amir)

Loading...
Elfizon Amirhttps://elfizonamir.blogspot.co.id/
Direktur Eksekutif DHIBS Pasaman Barat Dokter di RS Islam Ibnu Sina Simpang Empat Yarsi Sumbar Penulis Pemerhati sosial politik
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TANGGAPAN TERBANYAK

TERPOPULER

SAVE_20180815_181535

Harapan Jonru Ginting untuk Prabowo Sandiaga

Lewat tulisan tangan yang dia tulis dari Rutan Cipinang. Berikut isi suratnya: Selamat berjuang untuk Prabowo Sandi. Saya dari balik jeruji penjara terus berdoa semoga...
FB_IMG_1534511438425

Bedanya Sandiaga Uno dan Pak Jokowi