Gondoruwo, di kalangan rakyat Indonesia dikenal sebagai jenis setan atau hantu. Di samping nama Gondoruwo, masih banyak nama-nama lain yang dikenal oleh rakyat, sebagai makhluk halus. Sebut saja Pocongan, Jrangkong, Jailangkung, Endas glundung, Tuyul, Kuntilanak, Jenglot, Sundel bolong, Tengkorak dan tak kalah seramnya adalah Wewe gombel.

Tentunya sederet nama-nama lain juga dikenal oleh rakyat Indonesia, sesuai dengan keyakinan masyarakat lokal di mana mereka berada, semisal Leak yang keberadaannya menjadi ciri khas hantu di Bali.

Terlepas dari nama-nama beken tersebut di atas, ada sebuah ajaran hikmah dari para sesepuh dan para pendahulu rakyat Indonesia, khususnya sejak awwal masuknya Islam di Indonesia, yaitu ajaran: Janganlah seseorang itu keluar rumah, atau berada di luar pintu rumah di saat proses tenggelam matahari, atau dalam bahasa Jawanyadiwaktu surupalias saat mega memerah menjelang malam tiba, karena rawan diculik Gondoruwo atau Wewe gombel

Para orangtua di masa lampau, sangatlah perhatian dalam menjaga keselamatan putra-putrinya, serta dalam mendidik mereka agar kelak menjadi orang-orang yang shalih dan shalihah.

Adapun salah satu caranya yaitu menahan mereka agar tidak keluar rumah mulai menjelang waktu Maghrib hingga shalat Isyak. Kalau pun para orangtua itu harus mengijinkan putra-putrinya keluar rumah, maka tiada lain hanya karena diizinkan berangkat ke masjid, mushalla, surau, atau tempat pengajian.

Para orangtua yang jam belajar mengaji bagi putra-putrinya selain waktu Maghrib hingga Isyak, mereka mengajak keluarganya untuk shalat berjamaah lantas membaca doa-doa secara bersama-sama, atau membaca Alquran, bershalawat kepada Nabi SAW, hingga rumah tangga mereka tampak hidup dengan kalimat-kalimat thayyibah pada waktu antara Maghrib hingga Isyak.

Anehnya, jarang sekali di antara para sesepuh dan para pendahulu itu memberikan dalil-dalil dari Alquran atau Hadits, mengapa putra-putrinya dididik setengah diancam: Jangan keluar atau berada di luar pintu rumah saat menjelang Maghrib, bisa-bisa diculik Gondoruwo atau Wewe gombel

Kalimat larangan yang mengandung hikmah tersebut, bukanlah tradisi asli rakyat Indonesia, sekalipun cara menyampaikannya disesuaikan dengan kultur rakyat Indonesia.

Sebagai contoh, tidak seorangpun dari kalangan sesepuh yang mengatakan: Bisa-bisa digigit vampir !. Karena masyarakat Indonesia tidak mengenal setan atau hantu yang bernama vampir, yang menjadi ciri khas hantu China maupun Eropa.

Nah, jika rajin diteliti, ternyata ajaran para sesepuh rakyat Indonesia tersebut, tiada lain adalah bersumber dari ajaran Nabi SAW, sebagaimana yang beliau sabdakan: Idzaa gharabatis syamsu fakuffuu shibyaanakum, fainnahaa saa`atun yantasyiru fiihas syayaathiin (Jika tiba waktu proses tenggelam matahari, maka tahanlah anak-anak kalian (jangan biarkan keluar), karena di saat itulah berkeliaran setan-setan). HR. Atthabarani.

Demi memudahkan kalangan awwam, para ulama sesepuh jaman dahulu, sekalipun mereka tahu tentang dalil-dalil syari bagi sebuah amalan, namun mereka tidak serta merta menyampaikannya kepada masyarakat, karena mereka mengamalkan Hadits Nabi SAW yang artinya:Berbicaralah dengan orang-orang itu sesuai dengan kadar kemampuan akal mereka`.

Sungguh bijaksana akhlak para sesepuh rakyat Indonesia.

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan isi komentar anda
    Masukan Nama Anda