close

Bencana Gempa Aceh dan Gunung Krakatau Meletus Karena Ucapan Itu?

Hati-hati membaca tulisan ini. Ada fitnah besar (baca: ujian) di dalamnya. Jika paham serta bijak, fitnah tak akan menjerumuskan, bahkan menuntun ke jalan kebenaran.

Gempa Aceh 2004 terjadi di bulan Desember, tanggal 26. Tsunami akibat letusan anak Krakatau juga di bulan Desember, tanggal 22. Perhatikan tanggalnya, sekitaran tanggal 25 yang dirayakan sebagai hari Natal. Seperti tanda, bahwa bumi sedang “marah”, kepada umat Islam. Peringatan sangat keras dari Allah.

“hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh,” kata Tuhan pemilik bumi dan langit.

Lihat, bahkan hanya sekedar ucapan, membuat langit hampir pecah, bumi belah, dan gunung-gunung runtuh! Ucapan manusialah yang menyebabkannya! Ucapan manusia!

Apakah umat Islam yang mengucapkan? Tidak, tentu saja.

Kalau begitu, mengapa bencana menimpa Indonesia yang mayoritas muslim? Jawabannya, untuk menjadi peringatan karena lalai dalam menjalankan perintah: berdakwah kepada umat non-muslim. Dakwah untuk menjelaskan bahwa ada ucapan yang sangat mungkar diucapkan oleh non muslim.

“Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar,” firman Allah. Ucapan yang semestinya umat muslim sampaikan ke non muslim.

Apa perkara yang dimaksud? Tentang perkataan non muslim, khususnya umat Kristiani, yang telah berprasangka tidak baik kepada Allah, dengan ucapan yang buruk.

“karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak,” firman Allah dalam surat Maryam. Benar, karena umat Kristiani menganggap Allah punya anak. Padahal, anggapan itu melecehkan. Bagaimana bisa Allah dianggap butuh regenerasi?

“Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.”

Kedudukan Tuhan itu Maha Tinggi jika disandingkan dengan makhluk. Karena diriNya tidak butuh apapun, namun dibutuhkan oleh segala makhluk.

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.”

Jadi, sudah seharusnya perbincangan berpindah dari boleh atau tidaknya mengucapkan selamat Natal dengan dakwah menyampaikan pesan kepada mereka. Temui mereka, sampaikan pesanNya.

Adapun setelah pesan sampai, selesai urusan, dan sisanya adalah urusanNya. Jika Allah menghendaki, hidayah akan datang. Jika tidak, akan dibiarkan terombang-ambing dalam kesesatan hingga hari ditegakkannya keadilan.

Catatan. Tulisan miring adalah kutipan ayat Al Quran Surat Maryam ayat 89-93.

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Muhammad Hanif Priatama
Penulis bebas yang bebas menulis untuk belajar menjadi manusia sesungguh-sungguhnya. https://t.me/sobatbersih
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Loading...

TANGGAPAN TERBANYAK

pubsec

Ngerumpi tentang Sektor Publik

TERPOPULER